– Peringati Hari Pahlawan

Peliput: La Ode Adrian/Hengki TA

BAUBAU, BP – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November kemarin, Walikota Baubau Drs H AS Tamrin MH mengatakan, tahun depan Pemerintah Kota Baubau bakal mengsulkan kembali Sultan Himayatudin (La Karambau) pada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementrian Sosial RI untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dari Negeri Butuni.
“Kita akan kawal itu, tapi kita memang untuk hal tersebut ada tahapan-tahapannya, dan ini belum mencapai suatu finalisasi, tapi kita tetap akan kawal karna disana juga (TP2GP) selain untuk dapat menetapkan sebagai pahlawan nasional ada kriteria-kriterianya, namun tahun depan tetap kami akan usulkan,” jelas Tamrin saat ditemui beberapa awak media di Rujab Walikota Baubau, Kamis (10/11).
Hal tersebut diungkapkan Tamrin bukan tanpa sebab, melainkan berdasarkan beberapa tahun silam Sultan Himayatuddin sempat dinobatkan sebagai calon Pahlawan Nasional RI pada tahun 2012 yang lulus seleksi TP2GP Kementrian Sosial bersama 10 calon pahlawan lainnya. Namun pada tahun tersebut hanya Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta yang ditetapkan dengan resmi sebagai Pahlawan Nasional.
Bahkan, Guru Besar UI Prof Dr Susanto Zuhdi dan Budayawan Dr Muslimin AR MHum telah mengeluarkan buku tentang Perang Buton VS Kompeni Belanda tahun 1752-1776, terkait Perlawanan Sultan Himayatuddin (La Karambau) terhadap Belanda di Buton.
Untuk diketahui, Dalam buku perlawanan Sultan Himayatuddin terhadap Belanda di Buton tersebut secara singkat menjelaskan, peristiwa perompakan kapal Rust en Werk di perairan Baubau pada Juli tahun 1752 menjadi penanda perlawanan awal perang Buton vs VOC. Dimana sesuai perjanjian, kala itu seharusnya Sultan Himatatuddin membantu VOC, namun justru ia berperang dalam peristiwa tersebut.
Dijelaskan secara terperinci, peringatan dan ancaman VOC kala itu tak dihiraukan La Karambau, nama kecil yang telah melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Buton merkipun La Karambau sudah bergelar Sultan Himayatuddin.
Akibat peringatan dan ancaman VOC yang tak dihiraukan La Karambau, akhirnya batas kesabaran VOC hilang sehingga mendorong VOC untuk melancarkan serangan ekspedisi militer ke Baubau dan Benteng Keraton Buton pada 24 Februari 1755.
Ekspedisi VOC tersebut dipimpin oleh Kapten Reijsweber dengan pasukan yang terdiri atas 4 sersan, 4 kopral, 4 penabuh tambur dan peniup terompet beserta 140 prajurit.
Oleh karena persenjataan yang sederhana, pasukan Buton di pesisir Baubau terus terdesak. Pasukan VOC terus merangsek hingga berhasil memasuki Benteng Keraton Buton. Dalam serangan tersebut, gugur seorang Kapiten Laut (Kapitalao) dan seorang Perdana Menteri (Sapati) Kesultanan Buton serta ratusan prajurit Buton.
Namun Sultan Himayatuddin (La karambau) meneruskan perlawanan terhadap VOC dengan bergerilya di hutan sampai akhir hayatnya, sehingga Sultan Himayatuddin digelari Oputa Yikoo (Tuanku yang bergerilya di hutan).(*)