Peliput : Amirul
Batauga,BP-Pasca perkelahian dua siswa yang terjadi di depan SMAN 1 Batauga, Buton Selatan, Selasa 18 Januari, kemarin akhir dapat dimediasi oleh pihak sekolah tersebut.

Untuk mengantipasi perkelahian susulan, maka secara cepat, Kepala SMAN 1 Batauga, Dohser Farida S.Pd mengambil langkah cepat dan tegas dengan memanggil semua orang tua siswa yang terlibat dalam aksi perkelahian itu.

Kepsek SMAN 1 Batauga Dosher Farida, bersama Kapolsek Batauga melakukan mediasi orang tua dan wali masing-masing siswa yang terlibat perkelahian

Ia menuturkan, pihaknya telah mempertemukan kedua belah pihak baik dari siswa maupun orang tua berseteru tersebut, untuk mencari solusi agar konflik antar siswa itu tidak terjadi lagi. Pihak sekolah juga menghadirkan Kapolsek Batauga untuk menyaksikan perdamaian itu.

“Kita sudah memanggil siswa-siswa yang melakukan aksi perkelahian didepan sekolah saat jam pulang itu didampingi orang tua masing-masing untuk saling memaafkan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu, bahkan dibuatkan surat pernyataan jika tindakan itu dilakukanlagi maka akan menerima sanksi tegas dari pihak sekolah, bahkan dikeluarkan,” ucapnya.

Dikatakan, hasil konfirmasi dari siswa XI IPS 2 yang bertikai, kejadian perkelahian tersebut didasari dendam lama yang sebelumnya sudah dituntaskan sejak siswa tersebut masih duduk di bangku SMP, bukan karena sulut api cemburu atau asmara.

Bahkan siswa yang bertikai ini masih satu ruang kelas. Namun konflik tersebut kembali diungkit oleh salah satu pihak yang masih menyimpan amarahnya sejak SMP.

“Yang pasti masalah siswa adalah masalah kami. Jadi kami sebagai orang tua di sekolah tentu harus pro aktif untuk menyelesaikan konflik para siswa ini agar tidak berkepanjangan,” tambahnya

Kata Dosher Farida, sesaat ia mendapat informasi terjadi tawuran didepan sekolahnya saat jam sekolah telah usai. Ia langsung mengambil langkah mencari sumber persoalannya. Bahkan pihak sekolah langsung mengunjungi kediaman siswa yang bertikai untuk mencari informasi dan menenangkan siswa tersebut agar tidak menjadi pemicu konflik yang lebih besar lagi.

“Sebenarnya ini hanya dua orang saja yang berkelahi. Dan mereka itu satu kelas di kelas XI IPS 2. Hanya karena kejadian itu bertepatan pada jam pulang sekolah makanya terlihat ramai seakan-akan ini tawuran pelajar antar sekolah, padahal itu sebenarnya tidaklah benar karena kami langsung menelusuri kebenarannya,” jelasnya

Ia menjelaskan telah memberikan sanksi tegas dengan menskorsing beberapa hari bagi siswa yang bertikai untuk mengintropsiksi diri agar tidak mengulangi lagi. Hal ini sebagai contoh bagi 516 pelajar SMN 1 Batauga.

“Sebenarnya kemarin itu mau diamankan oleh pihak kepolisian di Mapolsek Batauga. Tapi saya mintakan langsung agar siswa kami ini jangan dulu diamankan karena kami masih berupaya memediasi agar persoalan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan disekolah,” terangnya.

Sementra itu, Ikhsan yang merupakan korban penganiayaan saat didampingi orang tuanya menjelaskan dirinya tidak mengetahui persis apa yang menjadi pokok persoalan hingga dirinya dianiaya. Namun sempat pelaku pemukulan yang tidak lain teman sekelas itu berteriak ini masalah lama.

“Memang dulu sejak SMP sering berkelahi dengan dia, hanya waktu itu sudah didamaikan pihak sekolah,” katanya.

Lanjutnya, bersama orang tuanya datang kesekolah untuk menerima konsekuensi dari kejadian kemarin, begitupula pelaku yang diwakil kakaknya dan tidak akan menaruh dendam kepada pelaku penganiaya yang tidak lain adalah teman satu kelasnya itu.

baca juga: Pansel Tetapkan Tiga Nama Calon Sekda Busel

“Saya datang bersama orang tua kesekolah untuk menyelasaikan hal ini, dan telah berjanji masalah ini cukup sampai disini dan tidak akan terjadi lagi persoalan ini bahkan saya tidak akan menaruh dendam lagi dan berbaikan jika bertemu,” tukasnya. (*)

Comments are closed.