WANGI-WANGI, BP – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wakatobi sejak Februari 2020, mengalami kekosongan dokter spesialis, mulai dari Dokter Bedah, Dokter Anastesi, Dokter Anak dan Dokter Kandungan. Namun ditargetkan, masalah ini dapat diantisipasi pada Awal November 2020.

Direktur RSUD Wakatobi dr Mubardin Malibu mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa upaya untuk mendatangkan dokter ahli ke Wakatobi. Selain berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pihaknya juga melakukan komunikasi persuasif sesama teman seprofesi. Bahkan dengan insentif sebesar Rp 30 juta pun telah disepakati bersama oleh Pemerintah Daerah (Pemda).

“Anggarannya melalui APBD, Pagunya berkisar Rp 30 juta per bulan untuk per orang, Tahun lalu Rp 27,5 juta, sebelum-sebelum itu 25 juta,” ungkapnya saat dikonfirmasi Jumat (28/02).

Namun rupanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. Menurut Mubardin, hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dokter, di antaranya akses ke daerah, fasilitas yang disediakan, hingga insentif.

“Maka Pemda berinisiatif menaikkan insentif untuk menarik minat, Selain langkah-langkah itu kami juga berusaha menghubungi senior teman-teman dan junior, siapa tahu ada lulusan-lulusan yang mereka kenal dan yang bisa direkomendasikan ke sini,” jelasnya.

Dengan kekosongan ini, maka untuk mengakomodir pelayanan dokter spesialis, pihaknya akan menangani kondisi daruratnya terlebih dahulu, lalu kemudian dirujuk keluar daerah.

” Kalau Dokter internal masih ada sekarang (Dokter penyakit dalam_Red), karena memang datangnya itu di November (2019_Red) sebenarnya kami minta dari Februari (2020_Red), itu sama seperti dokter lain. Jadi nanti satu November (2020_Red) lagi baru ada,” tambahnya.

Ditambahkan, masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Wakatobi, namun terjadi di daerah lainnya juga. Pasalnya beberapa tahun lalu pihak Kemenkes masih mewajibkan untuk lulusan baru dokter ahli disebar ke daerah-daerah, namun hal tersebut mendapat gugatan dengan alasan beberapa dokter menggunakan anggaran pribadinya dalam melakukan studi.

“Karena sekarang sudah tidak wajib lagi, ya tinggal ketersediaannya mereka untuk datang,” tutupnya.

Peliput: Zul Ps

Pin It on Pinterest