• Hj Wa Ode Safina: Sudah Diselesaikan Secara Kekeluargaan

BAUBAU, BP- Miris, seorang pelajar SDN 1 Katobengke inisial (IS) umur delapan tahun mengalami luka robek dan harus mendapat empat jahitan di bagian telinga sebelah kiri. Kejadian itu dilakukan oleh gurunya sendiri ketika IS salah menjawab soal pertanyaan kuis saat pelajaran tengah berlangsung beberapa pekan lalu.

Hal itu diungkapkan Ibu korban Sumina saat ditemui media di salah satu Kedai di Kelurahan Katobengke, Sabtu (07/09).

Dikatakannya, mula-mula IS disuruh maju oleh gurunya untuk mengerjakan soal kuis Mate-matika. Namun, karena salah menulis jawaban, sehingga membuat guru tersebut marah dan mencubit telinga IS.

Lanjut Sumina menjelaskan, ketelah IS dipersilahkan kembali ke tempat duduk, tiba-tiba ia merasakan hal yang ganjil pada bagian telinganya. Setelah diperiksa, ternyata telinganya telah robek dan mengeluarkan banyak darah.

Merasa takut dengan kondisi telinganya, IS menghadap dan memberi tahu guru bahwa telinganya telah berdarah. Mirisnya, guru yang juga sebagai Wali kelas IS malah acuh dan hanya melontarkan kalimat “Tidak apa-apa”, hingga saatnya pulang sekolah ia juga tidak menerima penanganan medis dari pihak sekolah.

Melihat kondisi IS, Sumina kembali ke sekolah dan melaporkan hal tersebut ke pihak sekolah untuk dimintai pertanggung jawabannya. Setelah diperiksa, luka robek pada telinga IS harus dijahit.

” Awalnya dia tidak tahu kalau telinganya luka, tapi setelah kembali ke tempat duduk baru dia rasa kalau telinganya gatal dan geli, setelah diperiksa ternyata telinganya robek dan mengeluarkan banyak darah, mungkin kena cincinnya guru. Setelah menyadari bahwa telinganya berdarah, anak saya menghadap ke guru dan melaporkannya, tapi ibu guru malah acuh dan bilang tidak apa-apa. Sampai anak saya pulang sendiri dalam keadaan berlumuran darah ditelinganya. Namun, setelah dibicarakan bersama pihak sekolah, akhirnya anak ini diperiksa dan telinga yang sobek telah dijahit sebanyak empat jahitan,” jelasnya.

Kepala SDN 1 Katobengke Hj Wa Ode Safina

Menanggapi hal itu, salah satu keluarga IS Herlin meminta pihak sekolah agar mengeluarkan guru tersebut, karena telah melakukan hal yang tidak manusiawi kepada adiknya. Untuk diketahui, persoalan itu secara psikologis telah menguncang jiwa IS, sehingga membuatnya trauma dan takut ketika melihat gurunya yang telah.

Ditambahkan, jika pihak sekolah tidak menyikapi tuntutan tersebut maka pihak keluarga IS akan melaporkan persoalan tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Baubau. Kendati demikian, jika pihak dinas tidak memberikan solusi terbaik maka akan di bawah ke ranah hukum.

” Harapannya, guru yang dimaksud dapat dipindahkan dari sekolah karena anak ini trauma dan tidak tenang kalau lihat guru itu. Namun, jika tidak ditanggapi dari pihak sekolah maka saya akan melaporkan hal ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Baubau. Namun, jika pihak Disdikbud tidak bisa memberikan solusi terbaik maka persoalan ini akan kami bawah ke ranah hukum,” tandasnya.

Kepala SDN 1 Katobengke Hj Wa Ode Safina membenarkan adanya kasus tersebut. Namun ia katakan bahwa persoalan luka robek di telinga IS sudah diselesaikan secara kekeluargaan serta telah mendapatkan penanganan medis, sehingga tidak perlu dibesar-besarkan.

” Iya betul, kejadiannya dua minggu lalu dan anak itu sudah diobati,” ujarnya.

Namun, untuk tuntutan keluarga IS agar mengelurakan guru yang dimaksud, ditanggapi dengan positif. Safina mengatakan persoalan tersebut akan menjadi evaluasi diri bakal perbaikan ke depannya.

” Kita hanya beri nasehati gurunya biar tidak terulang kedua kalinya,” tutupnya.

Peliput: Arianto W Editor: Prasetio M

Pin It on Pinterest