Peliput : Ardi Toris/Amirul

BAUBAU,BP-Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pelatihan pelayanan prima kepada kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buton Selatan, Selasa (15/11) di Ballroom Villa Nirwana Beach di Kota Baubau yang akan berlangsung selama tiga hari, Rabu hingga Jumat (15-17)

Sebanyak 40 perserta dari Pokdarwis Buton Selatan mengikuti kegiatan pelatihan pelayanan prima. Mereka akan diberi berbagai bekal dan materi terkait prinsip pelayanan prima, SOP, aplikasi pelayanan prima, pentingnya pelayanan prima dalam meningkatkan kualitas pelayanan di destinasi wisata

Salah satu pemateri dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Rinto Taufik Simbolon mengatakan kiat-kiat dalam kepariwisataan yakni masyarakat harus merasa bersatu padu untuk membangun kepariwisataan atau arti kata Geber, Gercep, dan Gaspoll

” Inilah kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun bersama-sama kepariwisataan,” ucapnya.

Lanjutnya, untuk mengenalkan destinasi wisata kepada wisatawan atau mempromosikan dengan melalui berbagai media, diantaranya media cetak dan online. Selain itu mengatur anak-anak milenial untuk memberikan informasi kepada masyarakat di Indonesia dan Internasional, dengan kalimat “come join with us”-ayo bergabung bersama kami di Buton Selatan

Rinto T. Simbolon

“Memang kerja sama, gerak cepat, dan gas poll itu sulit tapi harus ada pemerintah dalam hal ini, siapapun atau masyarakat itu sebagai motivator partisipasi masyarakat memiliki kekuatan untuk menyatukan,” tuturnya

Ia mencontoh salah satu desa wisata di Indonesia yakni Desa Pentingsari yang tidak memiliki destinasi wisata atau daya tariknya. Tetapi masyarakat desa itu bisa memanggil wisatawan dari luar negeri untuk datang kesana.

Caranya, kata Rinto T. Simbolon, mereka bersatu padu, disitu wisatawan hanya diajari bagaimana memandikan kerbau di sungai, menanam padi di sawah, bercocok tanam. Itu digerakan dengan masyarakat milenial melalui online, menjual kegiatan-kegiatan itu ke berbagai negara.

“Kita di Buton Selatan ini ada berbagai destinasi wisata alam, dan destinasi budaya dan lainnya, dan ini menarik, tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat milenial bersatu,” ucapnya.

Kata Rinto, dipelatihan pelayan prima ini dan ia sebagai pemateri, memberikan kiat-kiat dan prinsip pelayanan prima dan metode lainnya kepada Pokdarwis sehingga dapat memberikan pemahaman penting bagaimana mengetahui dan memahami pandua teknis di Destinasi Wisata termasuk usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, melalui skema program secara tepat dan berkelanjutan.

“Mendorong upaya pemulihan, kesiapan destinasi dan rebound strategi dalam rangka tatanan keabnornalan baru, serta membangun kepercayaan wisatawan dan menciptakan destinastion appeal melalui penerapan program CHSE” tukasnya.

Sri Resqina, S,IP, MSi

Sementara Ketua Panitia Kegiatan Pelatihan Prima dari Dinas Pariwisata Provinsi Sultra Bidang Pengembangan Sumberdaya Sri Resqina, S,IP, MSi mengatakan kegiatan pelatihan kepada Pokdarwis khususnya Buton Selatan adalah agar Pokdarwis ini sebagai garda terdepan milenial tujuan wisata dapat memaksimalkan potensi sumberdaya yang ada sehingga akan mampu menggerakkan perekonomian suatu daerah, dengan bertumbuhnya usaha kecil menengah, membuka investasi padat karya, hingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa.

” Kami berharap Pemerintah Provinsi dan Kabupaten bisa bersinergi sehingga desa wisata itu dapat maksimal dalam pengembangan potensi pariwisata yang ada di daerah tersebut khsusnya Kabupaten Buton Selatan,” tukasnya 

baca juga: Pj Buton SelatanLa Ode Budiman Sambut Baik kerjasama Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dengan Universitas Alaudin Makassar

Sri Regina mengatakan tujuan utama kegiatan itu pada intinya untuk pengembangan kompetensi peserta sehingga mereka bisa memberikan pelayanan prima bagi para wistawan yang berkunjung ke Busel.

“Pematerinya ada dari kepala dinas pariwisata provinsi Sultra, ada dari kementrian, lalu ada Kadispar Busel, Kadispas Kota Baubau, dan ada dari akademisi. Kami berharap dengan anggaran yang sudah ada lalu diolah dalam bentuk pelatihan, kemudian dapat diserap ilmunya dan diaplikasikan untuk pengembangan pariwisata untuk menunjamg kegiatan mereka di Busel,” tutupnya. (*)