BUTON UTARA, BP-Pemerintah Kabupaten Buton Utara mulai mengakselerasi penguatan sektor pangan melalui pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat yang dirangkaikan dengan penyerahan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta bantuan pestisida kepada para petani di Kecamatan Bonegunu, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini dipusatkan di halaman Balai Desa Eensumala sebagai salah satu titik prioritas pengembangan lahan pangan baru. “Bupati Butur Afirudin Luncurkan Cetak Sawah Rakyat, Tiga Hand Tractor Dibagikan,”

Momentum tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Butur untuk mengonversi lahan tidak produktif menjadi area persawahan yang bernilai ekonomi tinggi. Program ini sejalan dengan kebijakan nasional terkait perluasan areal tanam untuk menjaga stabilitas produksi beras.
Dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si., menyerahkan tiga unit hand tractor dan 40 kilogram pestisida racun tikus kepada Bupati Butur Afirudin Mathara, SH., MH., untuk kemudian disalurkan kepada kelompok tani penerima manfaat.
Bupati Afirudin menegaskan pentingnya program cetak sawah rakyat sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan ketahanan pangan global. “Kita ingin lahan yang selama ini terbengkalai menjadi sumber produksi baru. Ini bukan hanya soal memperluas sawah, tetapi mendorong ekonomi masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan alsintan dan pestisida harus mengikuti petunjuk teknis, terutama dalam memastikan proses budidaya tetap ramah lingkungan. “Pemanfaatan alat harus tepat, efisien, dan tetap memperhatikan keberlanjutan. Kita ingin hasil panen meningkat tanpa mengorbankan lingkungan,” katanya menambahkan.
Program cetak sawah tersebut turut diarahkan untuk mempercepat transformasi teknologi pertanian di tingkat desa. Pemanfaatan hand tractor, misalnya, diharapkan dapat memangkas waktu olah lahan hingga 40 persen dibandingkan cara manual.
Secara historis, Indonesia telah beberapa kali memperluas lahan sawah melalui program nasional, seperti pencetakan sawah era Pelita di tahun 1970–1980-an dan program ekstensifikasi pangan pada awal 2010-an. Banyak wilayah yang mengalami kenaikan produksi signifikan setelah lahan-lahan baru mulai produktif, termasuk beberapa daerah di Sulawesi yang berhasil meningkatkan produksi padi lebih dari 7 persen pada periode tersebut.
Pada skala global, kebijakan serupa juga diterapkan oleh negara-negara Asia seperti Vietnam dan Thailand sejak awal 2000-an. Vietnam, misalnya, berhasil menjadi salah satu eksportir beras terbesar dunia setelah mengubah ribuan hektare lahan rawa menjadi sawah produktif melalui modernisasi irigasi dan mekanisasi pertanian.
Bupati Afirudin berharap Kabupaten Buton Utara dapat mengambil contoh keberhasilan tersebut dengan menyesuaikan karakteristik lokal. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas petani menjadi faktor kunci. “Saya mengajak penyuluh, kepala desa, dan seluruh kelompok tani agar terlibat aktif. Program ini tidak akan berhasil tanpa kerja bersama,” ungkapnya.
Selain aspek produksi, pemerintah daerah juga menilai bahwa program ini berpotensi memperluas lapangan kerja berbasis desa, terutama di sektor jasa pertanian seperti pengolahan lahan, distribusi pupuk, hingga penanganan pascapanen.
baca juga:
- Kominfo Buton Utara Intensif Konsultasi dengan Telkom Terkait Pembangunan Tower
- Nursaban Beberkan PAD Buton Utara Tembus di Atas Target, Kinerja Nursaban Berbuah Prestasi
Sejumlah pejabat turut hadir mendukung pelaksanaan program ini, antara lain Kepala Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Sultra Budi Darma Putra, SE., MM., Wakil Ketua DPRD Butur Fatriah, S.Pd., M.H., Anggota DPRD Samsul Wiridin, serta para pimpinan OPD, camat, penyuluh pertanian, kepala desa, dan kelompok tani.
Melalui pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat, Pemkab Butur menegaskan komitmennya membangun landasan pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan. Harapannya, Buton Utara dapat memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan regional maupun nasional di tengah dinamika global yang menuntut kemandirian produksi.(*)
baca berita lainnya:
Telkom Respons Usulan BTS Buton Utara, Siap Tindaklanjuti Lokasi Blankspot

Komitmen itu disampaikan dalam dialog resmi antara Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Butur dengan jajaran manajemen Telkom Regional V, yang berlangsung di Ruang Rapat Kantor Telkom Makassar, Jumat (30/1/2026). Pertemuan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kontrak kerja sama jasa jaringan.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Diskominfo Butur dipimpin Kepala Dinas Sartono bersama Kabid TIK, Anas, serta lima staf teknis. Mereka diterima oleh unsur pimpinan Telkom Regional V, termasuk Asisten GM Witel Sulbagsel, Eri Susanto, dan Asisten GM Regional Large Enterprise and Government Service Reg V, Feronika.
Sebelum penandatanganan kontrak, kedua pihak melakukan diskusi panjang mengenai hambatan pengembangan jaringan di lapangan. Salah satu isu utama adalah banyaknya permintaan masyarakat terkait wilayah blankspot yang belum bisa mengakses layanan telekomunikasi berbasis Telkom.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Diskominfo Butur meminta Telkom mempercepat perluasan jaringan. “Kami berharap Telkom dapat menghadirkan pembangunan BTS di lokasi-lokasi prioritas yang selama ini tidak memiliki akses komunikasi sama sekali,” ujar Sartono.
Telkom merespons dengan menyatakan kesiapan melakukan survei teknis. “Semua usulan dari pemerintah daerah kami tampung dan akan kami tindak lanjuti melalui kajian lapangan bersama mitra kami,” kata Eri Susanto dalam forum itu. Langkah ini dinilai sebagai bentuk komitmen Telkom terhadap pelayanan publik di wilayah kepulauan.
Perusahaan juga meminta agar pengajuan pembangunan jaringan disertai data jumlah penduduk dan fasilitas umum di sekitar lokasi. Menurut pihak Telkom, data tersebut diperlukan sebagai acuan kelayakan pembangunan dan dasar pertimbangan mitra teknis agar proses dapat berjalan lebih cepat dan efektif.
Selain dialog kerja sama, kegiatan itu juga disertai pelatihan Cyber Security yang dilaksanakan sehari sebelumnya. Pelatihan tersebut menghadirkan instruktur berpengalaman dari Telkom, yang memberikan materi tentang pengamanan jaringan dari risiko peretasan dan gangguan digital. “Ketahanan siber menjadi kebutuhan semua daerah, termasuk Butur,” ujar instruktur dalam sesi pelatihan.
Rangkaian kunjungan ini difasilitasi oleh Zulfikar, Account Manager Telkom Baubau, serta perwakilan mitra Telkom, Nurul Dwi Wahyuningsih. Mereka mendampingi rombongan Diskominfo Butur sejak pemberangkatan dari Kendari hingga kembali ke Buton Utara.
Kebutuhan pembangunan BTS di wilayah blankspot bukan hal baru di Indonesia. Pada 2020–2022, pemerintah pusat melalui BAKTI Kominfo membangun lebih dari 4.000 BTS di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sebagai bagian dari percepatan transformasi digital nasional.
baca juga:
- Bupati Butur Afiruddin dan Kapolres AKBP Tortok Budi Tinjau Lokasi Program Makan Bergizi
- Kominfo Buton Utara Intensif Konsultasi dengan Telkom Terkait Pembangunan Tower
Secara global, pembangunan BTS untuk mengatasi kesenjangan digital juga dilakukan di sejumlah negara berkembang, seperti India dan Bangladesh. Kedua negara itu mempercepat pembangunan menara telekomunikasi sejak awal 2010-an untuk meningkatkan inklusi digital dan memperluas layanan daring ke daerah pedesaan.
Upaya Buton Utara menggandeng Telkom dinilai sejalan dengan tren internasional tersebut, yakni memastikan bahwa pemerataan akses internet menjadi bagian dari pembangunan sosial-ekonomi, terutama setelah pandemi COVID-19 yang menegaskan pentingnya konektivitas.
Dengan adanya komitmen dari Telkom Regional V Makassar, pemerintah daerah berharap proses survei dan pembangunan BTS dapat segera dieksekusi guna mendukung aktivitas pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, serta layanan publik lainnya.(*)

