F4.0 Fanti Frida Yanti

BAUBAU, BP- Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), tindak kekerasan anak dan perempuan di Kota Baubau tertinggi ketiga di Sultra setelah Konawe Selatan (Konsel) diurutan pertama dan Kota Kendari urutan kedua.

“Dari data yang masuk itu, kita peringkat tiga setelah konsel dan kendari,” ungkap Koordinator Satgas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Baubau Fanti Frida Yanti.

Sedangkan secara nasional, Provinsi Sultra masuk urutan ke-11 di Indonesia yang angka kekerasan anak dan perempuannya tertinggi.

“Sebagai informasi, dari 34 provinsi di Indonesia, Prov Sultra itu masuk dalam urutan ke 11 yang angka kekerasan terhadap anak dan perempuan tertinggi secara nasional,” ujar Fanti.

Hal itu tentu menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau untuk bagaimana meminimalisirnya, mengingat hingga pertengahan bulan Juli kemarin, kasus kekerasan anak dan perempuan di Kota Baubau mencapai 34 kasus.

“Jadi ini sebenarnya warning untuk kita semua. Sebenarnya kekerasan pada anak dan perempuan ini dimana saja terjadi, hanya saja di Kota Baubau kita sudah punya sistem untuk pencatatan, pelaporan, pengaduan, medisi, pendampingan dan konsultasi, makanya ketahuan jumlahnya berapa, di daerah lain, sistem ini belum terbangun,” tuturnya.

Kendati demikian, Fanti berharap, tindak kekerasan anak dan perempuan dapat dicegah. Maka diperlukan peranan orang tua untuk meningkatkan pengawasannya. P2TP2A Kota Baubau akan terus melakukan pendampingan kepada korban kekerasan tersebut. (*)

Peliput: Gustam

Visited 2 times, 1 visit(s) today