Di Balik Angka, Ada Kehidupan: Kisah Ekonomi Buton SelatanDi Balik Angka, Ada Kehidupan: Kisah Ekonomi Buton Selatan
Oleh: Wiwi Siu Kaimudin, SE, M.Si
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Buton Selatan

 

Di Balik Angka, Ada Kehidupan: Kisah Ekonomi Buton Selatan
Di Balik Angka, Ada Kehidupan: Kisah Ekonomi Buton Selatan

PERTUMBUHAN ekonomi tidak hanya berbicara melalui angka. Di Kabupaten Buton Selatan, pertumbuhan itu hadir dalam cerita masyarakatnya, tentang tangan-tangan yang bekerja, harapan akan penghidupan yang lebih baik, dan perjuangan yang terus dilanjutkan demi kehidupan yang lebih layak. “Di Balik Angka, Ada Kehidupan: Kisah Ekonomi Buton Selatan,”

Ekonomi daerah hidup ketika nelayan berangkat melaut sebelum matahari terbit, ketika petani mengolah lahan dengan harapan panen yang baik, ketika ibu-ibu membuka usaha kecil di rumah, dan ketika pemerintah daerah menggerakkan pembangunan. Semua aktivitas itu kemudian dirangkum dalam satu indikator yang sering kita dengar dengan sebutan pertumbuhan ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun 2024 perekonomian Kabupaten Buton Selatan tumbuh sebesar 4,84 persen. Angka ini menunjukkan bahwa roda ekonomi terus berputar. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa tinggi angka itu, melainkan seberapa jauh pertumbuhan tersebut dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Dari pertumbuhan tersebut, sebesar 33,71 persen disumbangkan oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, menunjukkan peran penting sektor primer dalam menopang ekonomi daerah.
Struktur ekonomi Buton Selatan masih sangat bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan ,sektor yang menjadi sandaran hidup sebagian besar masyarakat. Di sinilah ekonomi daerah benar-benar berdenyut. Ketika hasil panen baik dan laut memberi hasil, harapan tumbuh. namun ketika harga jatuh atau distribusi terhambat, beban hidup terasa semakin berat
Ekonomi yang tumbuh memerlukan kebijakan yang mampu menghubungkan produksi dengan kesejahteraan. Tanpa penguatan di tingkat daerah, manfaat aktivitas ekonomi berisiko dinikmati di luar wilayahnya. Peran kebijakan menjadi penting agar nilai yang dihasilkan tetap berputar di daerah dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kondisi sosial masyarakat Kabupaten Buton Selatan tercermin dari perkembangan angka kemiskinan yang selalu berkaitan erat dengan dinamika jumlah penduduk. Berdasarkan hasil proyeksi, jumlah penduduk Kabupaten Buton Selatan pada tahun 2024 tercatat sekitar 101.190 jiwa, dan meningkat menjadi sekitar 102.790 jiwa pada tahun 2025.
Pada tahun 2024, jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 11.500 jiwa, dengan persentase penduduk miskin berada pada kisaran 14,28 persen. Setahun kemudian, kondisi tersebut menunjukkan perbaikan. Persentase penduduk miskin menurun menjadi 13,64 persen pada tahun 2025. Penurunan sebesar 0,64 poin persentase ini setara dengan berkurangnya sekitar 500 jiwa penduduk miskin, sehingga jumlah penduduk miskin pada tahun 2025 tercatat sekitar 11 ribu jiwa.
Artinya, ada masyarakat yang mulai bangkit, tetapi ada pula yang masih berjuang keras agar tidak kembali terjatuh. Data kedalaman dan keparahan kemiskinan yang menurun memberi harapan bahwa kondisi kelompok miskin perlahan membaik. Namun harapan itu perlu dijaga agar tidak padam oleh tekanan harga dan keterbatasan akses ekonomi.
Pola pertumbuhan ekonomi Buton Selatan juga mengajarkan kita satu hal penting pembangunan membutuhkan ritme yang konsisten. Aktivitas ekonomi cenderung melambat di awal tahun, seiring dengan belum optimalnya realisasi belanja dan kegiatan pembangunan. Ketika program mulai berjalan, ekonomi ikut bergerak. Ini menunjukkan bahwa setiap keputusan, setiap percepatan, dan setiap keberpihakan kebijakan memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Di sinilah data statistik menemukan maknanya. Angka-angka yang disajikan BPS bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan, tentang apa yang sudah membaik dan apa yang masih perlu diperjuangkan. Data menjadi cermin agar pembangunan tidak kehilangan arah dan tetap berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.

Baca juga:

  1. PARADIGMA BARU MENUJU PEMEKARAN PROVINSI KEPULAUAN BUTON
  2. Tiga Ancaman Serius Pemekaran Daerah

Ke depan, Sensus Ekonomi 2026 menjadi momentum penting bagi Kabupaten Buton Selatan untuk memotret denyut usaha dan kerja masyarakat secara lebih utuh dan akurat. Ekonom peraih Nobel Simon Kuznets menegaskan pentingnya pengukuran ekonomi yang tepat, sementara tokoh statistik modern W. Edwards Deming menyatakan bahwa keputusan yang baik tidak mungkin lahir tanpa data yang baik. Oleh karena itu, partisipasi aktif pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghasilkan potret ekonomi yang tajam dan kebijakan yang tepat sasaran. Better data leads to better decisions, karena data yang berkualitas adalah fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
Dukungan bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan tumbuh sebagai ikhtiar kolektif. Ketika data dijadikan pijakan, kebijakan dijalankan dengan keberpihakan, dan masyarakat terlibat secara aktif, Buton Selatan memiliki peluang besar untuk melangkah menuju daerah yang kuat secara ekonomi, berdaya saing, dan bermartabat.(*)

baca berita lainnya:

Jalita Sri Rahayu (Mahasiswa Universiyas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana)

 

Penulis: Jalita Sri Rahayu (Mahasiswa Universitas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana)

Jalita Sri Rahayu (Mahasiswa Universiyas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana)
Jalita Sri Rahayu (Mahasiswa Universiyas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana)

BUTON– Indonesia menargetkan Indeks Ekonomi Biru (IBEI) naik dari 60,57 di tahun 2023 menjadi 88,57 pada 2045, menandai ambisi besar dalam memperkuat ekonomi kelautan yang berkelanjutan, sejalan dengan pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan. “Irama Laut Buton Hilirisasi Ekonomi Biru Berbasis Kearifan Lokal Dan Teknologi,”

Pendekatan ekonomi biru yang mengedepankan keberlanjutan ekosistem berpotensi menjadi penyeimbang hilirisasi sektor pertambangan yang disebut sebagai sektor ekstraktif dengan memperhatikan keberlanjutan dan kelestarian sumber daya pesisir sebagai bagian dari pilar-pilar IBEI.

Dalam konteks Forkestra 2025 yang mengusung inovasi, ketahanan, dan keberlanjutan, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya laut. Buton memiliki peluang besar untuk mengembangkan model hilirisasi berbasis ekonomi biru yang mengintegrasikan kearifan lokal dan teknologi digital. Dengan demikian, penguatan sektor kelautan tidak hanya soal produksi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan ekologi.

Artikel ini memuat ringkasan umum karya ilmiah yang ditulis Jalita Sri Rahayu Mahasiswa Universitas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana dalam lomba Forkestra yang digelar oleh Bank Indonesia Cabang Sulawesi Tenggara.

Relevan untuk menjawab tantangan degradasi lingkungan, rendahnya nilai tambah produk laut, serta minimnya literasi teknologi di pesisir.

Fakta Kunci hasil perikanan sumber DKP Produksi laut (2023) meliputi:
* Ikan Pelagis: 18,90 ton
* Rumput Laut: 60,17 ton
•Kepiting dan Rajungan: 120.72 ton
* Kerang Mutiara: 188,75 ton
•Hasil Budidaya Lain : 262.24 ton

Menemukan Potensi ekowisata bahari tinggi berbasis konservasi.

Kearifan lokal seperti “sando-sando” dan gotong royong maritim mendukung hilirisasi inklusif sebagai.Strategi Hilirisasi Buton dalam konteks Forkestra 2025 — berikut strategi utama yang diusulkan:

1. Rumah produksi komunal hasil laut
Penguatan ekonomi lokal melalui fasilitas produksi bersama.

2. Branding budaya lokal
Mengusung identitas seperti motif, cerita tradisional, dan nilai “sando-sando” Buton sebagai daya tarik produk.

3. Sertifikasi ekolabel
Menjamin produk laut ramah lingkungan dan menarik segmen pasar global mindful.

4. Digitalisasi pemasaran
Pemasaran via e-commerce dan media sosial untuk menjangkau pasar lebih luas dan modal rendah.

5. Kolaborasi quadruple helix
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sebagai fondasi bersama.

Dampak dan Manfaat yang Diharapkan:
Pendapatan nelayan dan UMKM meningkat
Nilai tambah lokal lebih kuat, pendapatan kian berdaya.

F05.1 OPini

Pelestarian ekosistem laut Area mangrove, terumbu karang, dan lamun mendapatkan dukungan konservasi kuat.

Regenerasi pelaku ekonomi maritim muda Menumbuhkan generasi baru yang fasih teknologi dan sadar lingkungan.

Penguatan identitas budaya maritim Buton
Membangun citra daerah sebagai pusat ekonomi biru berbasis kearifan dan inovasi.

Penutup yang Menguatkan Posisi Buton

Melalui Forkestra 2025, strategi ekonomi biru Buton dapat diperkuat melalui kolaborasi multi-pihak, pemanfaatan teknologi digital, dan integrasi kelembagaan untuk memperluas pasar global. Pendekatan hilirisasi berbasis hati, budaya, dan alam akan menjadi identitas sekaligus daya saing Buton dalam percaturan ekonomi biru nasional. Dengan menggabungkan inovasi, kearifan lokal, dan komitmen keberlanjutan, Buton berpeluang menjadi model pembangunan maritim yang selaras dengan visi Forkestra 2025: Sulawesi Tenggara berdaya saing global, berakar pada budaya, dan berorientasi pada masa depan berkelanjutan.(*)

 

Visited 38 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *