Peliput: Duriani
WAKATOBI,BP – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI mendukung pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Wakatobi melalui program Inovatif dan Kreatif dalam Kolaborasi Nusantara (IKKON).
Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Bekraf RI, Endah Wahyu Sulistianti mengatakan kerja sama yang dijalin dengan Pemkab Wakatobi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan sumbangan ekraf terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) nasional. Sehingga bisa tembus lebih dari Rp1 triliun.
Kerja sama itu lanjut Endah Wahyu Sulistianti, merupakan langkah awal dalam upaya pengembangan ekraf di salah satu kota di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berbagai kegiatan pengembangan ekraf akan digelar di Wakatobi sehingga diharapkan kreativitas masyarakat bisa tampil di event besar, tidak hanya yang bertingkat nasional tapi juga internasional.
“Saya yakin di Wakatobi, tiga subsektor unggulan, yakni kriya, kuliner, dan fashion memiliki potensi besar dan sudah dikembangkan. Bekraf, melalui IKKON akan mengirim pendamping yang ahli di bidang pengembangan ekraf untuk mendampingi pelaku di Wakatobi. Supaya ekraf bisa terus berkembang melalui berbagai pelatihan-pelatihan langsung selama tiga hingga lima bulan dalam program live-in-designer,” ungkap Endah Wahyu Sulistianti di Wangi-Wangi, Senin (5/2/2018).
Endah Wahyu Sulistianti, menggaris bawahi capaian ekraf sangat menurut hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS). Dia menilai, meski ekraf berkembang dan tumbuh dengan pesat, ada tugas-tugas yang harus dilakukan bersama karena masih ada ketimpangan antara pulau Jawa dan Indonesia bagian Timur.
Selain itu juga lanjut Endah Wahyu Sulistianti, banyak pelaku usaha disubsektor yang sifatnya perorangan dan tidak memiliki badan hokum. Sementara pertumbuhan startup company sangat tinggi yakni 9,79 persen.
Untuk subsektor film, seni pertunjukan, desain komunikasi visual, TV radio, serta aplikasi dan permainan memberikan alarm bagi dunia pendidikan supaya lembaga pendidikan di Indonesia yang sifatnya masih konvensional untuk bersiap.
“Oleh karena itu, diperlukan terobosan baru untuk menyiapkan kurikulum vokasional guna mendukung subsektor tersebut. Pemahaman pelaku mengenai pentingnya peningkatan nilai tambah produk juga harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

