Peliput: Prasetio M
BAUBAU, BP- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Baubau mencoba menerapkan teknologi kekinian. Salah satunya dengan melakukan uji coba hitungan meteran air berbasis android.
Plt Direktur PDAM Baubau, La Ode Ali Hasan mengatakan, pihaknya akan terus melakukan perbaikan pelayanan pelanggan, khususnya terkait pemakaian air yang tercatat pada meteran. Sebab, pihaknya sering mendapatkan komplain dari pelanggan terkait pencatatan meteran air.
Salah satu solusinya, dengan mencoba melakukan pencatatan meteran air berbasis android yang saat ini telah dikomunikasikan dengan BPKP Provinsi Sultra. Sementara terkait teknis, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan BPKP tingkat pusat.
” Kita sudah komunikasikan dan mereka siap membantu,” kata Ali hasan ditemui belum lama ini.
Menrutnya, pencatatan dengan sistem android lebih mampu meminimalisir kesalahan pencatatan dan sistem penginputannya lebih praktis dibandingkan pencatatan secara manual. Jika telah terlaksana dengan baik, maka perencanaan pembayaran secara online juga akan lebih maksimal tanpa adanya kesalahan pencatatan beban air tiap meteran para pelanggan.
“Ini akan terhubung semua secara keseluruhan, jadi prosesnya seperti itu, kita konekan dulu pencatatan meteran berbasis android, sehingga pembayaran secara online akan lebih mudah lagi, dan masyarakat tidak akan komplain lagi karena yang dibayar telah sesuai dengan pencatatan berbasis android,” jelasnya.
Untuk di wilayah Sulawesi Tenggara, Kota Kendari telah menerapkannnya, dan selanjutnya Kota Baubau. Dalam waktu dekat akan dilakukan uji coba penghitungan tersebut.
Tercatat sudah sebanyak 13.500 pelanggan di Kota Baubau saat ini. Jumlah ini masih akan bertambah, dengan adanya hibah SR dari Kementerian PUPR sebanyak 2000 sambungan.
Sementara itu Kabag Umum dan Keuangan PDAM Kota Baubau Anton Maja menambahkan, cara kerja kerja sistem Android lebih praktis dan akurat. Setiap pencatat akan memegang aplikasi yang bisa membaca kode batang pada meteran pelanggan. Kemudian melakukan pembacaan kode batang di meteran pelanggan, pencatat mulai mengisi angka yang tertera pada meteran tersebut disertai foto meteran pelanggan tersebut.
” Jadi kalau dia (si pencatat-red) tidak menyambangi rumah pelanggan, maka tidak akan terisi angka beban pemakaian pelanggan. Pencatat juga wajib foto meteran pelanggan tersebut,” ujar Anton.
Kata Anton, dengan sistem pencatatan Android selain memperkecil human eror. Pihaknya menekankan kedisiplinan dan pengontrolan kinerja jajarannya yang berada di lapangan.
Selain itu dengan sistem Android, tugas penginput data catatan kini menjadi lebih mudah, hanya akan mengecek dan mematikan pengisian data beban pelanggan sesuai tidak dengan foto meteran yang dilampirkan oleh si pencatat.
” Dengan sistem android ini juga akan semakin mempermudah pekerjaan jajaran kami serta memperkecil kesalahan di lapangan,” tutupnya. (***)

