KENDARI, BP – Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi optimis Himayatuddin Muhammad Saydi atau Oputa Yikoo dapat menjadi pahlawan nasional. Hal ini diungkapkan dalam sambutannya pada seminar yang dilaksanakan oleh Universitas Haluoleo dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Senin (22/07).
Ali Mazi mengungkapkan, gelar pahlawan Nasional untuk Oputa Yikoo telah lama diperjuangkan. Saat ini persyaratannya sudah hampir terpenuhi, tinggal sedikit lagi Oputa Yikoo menyandang gelar pahlawan nasional.
“Tinggal nanti dilihat petunjuk apa lagi yang ada di pusat, untuk kita lengkapi sehingga persyaratan sesuai dengan ketentuan undang-undang bisa terpenuhi,” ungkapnya.
Oputa Yikoo berasal dari tanah buton yang merupakan seorang bangsawan yang dipilih sebagai sultan dengan dua kali masa jabatan. Nama lainnya La Karambau, merupakan sultan ke 20 dan ke 23 yang merupakan anak dari La Umati yang juga merupakan Sultan Buton ke 13.
Sementara itu, Walikota Baubau Dr AS Tamrin mengatakan, saat ini pihaknya telah melakukan koordinasi yang mendalam dan memenuhi semua persyaratan. Dirinya pun optimis gelar Pahlawan Nasional Oputa Yikoo dapat terwujud dengan dukungan beberapa pihak.
“Insya Allah kita tidak bisa takabur tetapi keyakinan kita karena sudah ada dukungan, kurang apa lagi Susanto Zuhdi adalah ahli sejarah dan dia juga menaruh kepedulian dengan usulan ini. Pak Jimli juga sebagai anggota ketua tim TP2GN, beliau juga sudah menaruh perhatian bahkan tadi sudah memberikan harapan, tetapi segala sesuatunya harus kesiapan dari kita dukungan-dukungan juga dari masyarakat,” jelasnya.
Diketahui dalam UU No 20 tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan pasal 26 disebutkan beberapa syarat khusus untuk diangkat sebagai pahlawan yaitu seseorang yang pernah memimpin perjuangan bersenjata, perjuangan politik untuk mencapai, merebut, mempertahankandan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan bangsa, pernah melahirkan pemikiran besar menunjang pembangunan bangsa, pernah melahirkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat indonesia atau meningkatkan martabat bangsa, memiliki jiwa bangsa yang tinggi atau melakukan perjuangan yang berdampak nasional, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung sepanjang hidupnya.
Melihat dari hasil pemaparan tersebut, Wakil Ketua Gelar Tanda Jasa Dan Tanda Kehormatan Prof Dr Jimly Assiddique SH, tidak banyak berkomentar. Karena menurutnya saat ini dirinya akan menunggu proses selanjutnya dari pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Saya belum boleh komentari, diajukan saja dulu baru kami terima, nanti saya yang terakhir menerimanya,” ungkapnya diwawancara usai acara seminar nasional tersebut.
Kegiatan itu dihadiri pula oleh Ketua DPRD Abdurrahman Saleh, Rektor Universitas Halu Oleo Prof Dr Muhammad Zamrun FS Si MSi Msc, dan Prof Dr Susanto Zuhdi MHum.
Peliput: Risnawati

