BAUBAU, BP – Saat membawa mata kuliah umum dihadapan mahasiswa dan para staf Universitas Muhammadiyah (UM- Buton), Dr H AS Tamrin MH menyebutkan terdapat empat sumber konflik agraria yang biasa terjadi di lingkungan masyarakat. Empat sumber tersebut yakni, konfilik interens, konfik data, Konfilik nilai dan konflik struktural, Selasa (23/07).
Dijelaskan, Konflik interens merupakan konflik antara individu berupa sengketa penguasa tanah antara pribadi. Pribadi yang prkembangannya semakin marak akibat tidak terpetak secara lengkap bidang-bidang tanah yang ada.
” Ada beberapa contoh sengketa pemilikan tanah antara individu telah berperkara di Pengadilan Negeri Baubau dan telah diputuskan,” jelasnya.
Sementara itu, konflik data merupakan masalah yang diambil sebagai akibat perbedaan data. Konflik nilai merupakan perbedaan presespsi pemahaman terhadap definisi sedangkan konflik struktural merupakan akumulasi dari berbagai konflik yang bersumber pada ego struktural.
” Dimana, masing-masing lembaga yang mempunyai kewenagan menagani sumber daya agraria jalan sendiri tanpa koordinasi,” ulasnya.
Menyikapi terjadinya konflik agraria tersebut, sudah saatnya dibentuk lembaga atau Kementrian yang portofolio kewenagannya memayungi beberapa kemntrian yang menagani tugas bidang sumberdaya agraria. Kongkritnya perlu dibentuk Kementerian koordinasi bidang agraria atau Kemenko agraria dan Kemaritiman.
” Sehingga tugas-tugas Kementrian yang diberi mandat mengelolah sumber daya Agraria dapat dikoordinasikan dan diintegrasikan secara terpadu sehingga tidak terjadi ego sektoral,” tandasnya.
Peliput: Zul PS

