F01.4 FGD Asyiyah Baubau bersama Pemkot Baubau dan sejumlah instansi terkait

BAUBAU, BP- Aisyiyah Kota Baubau merupakan organisasi perempuan Muhammadiyah dikota Baubau melakukan Focus group discussion (FGD), bersama pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau dan sejumlah perwakilan instasi.

Kegiatan tersebut bertujuan agar terciptanya rekomendasi kebijakan yang tepat, untuk meminimalisir TB HIV di masyarakat Kota Baubau.

Kepala Dinas kesehatan Kota Baubau Wahyu saat di temui usai kegiatan, Selasa (30/07) mengatakan dirinya sangat mensuport kiprah dari organisisi non pemerintah khususnya Aisyiyah Kota Baubau yang memiliki peran dan tujuan yang baik untuk Kota Baubau.

Dikatakan, dalam kegiatan ini pihak pemerintah dan Aisyiyah serta sejumlah instasi telah bersama-sama mengidentifikasi, jika Kota Baubau saat ini belum memiliki produk hukum, khusus menyangkut aktifitas pemberantasan penyakit TB-HIV. Sehingga semua pihak harus mendukung lahirnya payung hukum dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Kota Baubau, sehingga semakin memperkuat pemberantasan dan meminimalisir frekuensi penyakit tersebut di Kota Baubau.

“Karena dengan adanya payung hukum Perda mengenai pemberantasan penyakit TB HIV, akan memperkuat upaya pemberantasan, upaya kesehatan untuk bisa meminimalkan frekuensi penyakit ini dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Baubau,” ungkapnya.

Langkah selanjutnya pihak pemerintah dan Aisyiyah akan menyiapkan draft Rancangan Perda (Ranperda), koordinasi dan mengundang pihak-pihak terkait untuk menambah masukan akhir. Setelah menjadi Ranperda, pihaknya akan berkoordinasi bersama pimpinan daerah dan bagian hukum Pemkot, agar bisa dimasukan dalam prolegda di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Baubau. Sehingga nantinya draf Ranperda tersebut dapat dimasukan oleh Badan Musyawarah dewan yang nantinya menjadi salah satu produk pembahasan Ranperda menjadi Perda Kota Baubau.

” Saya tidak tau berapa lama proses ini, tetapi harus ada progres ke arah situ, dan tidak boleh berhenti dan harus terus menerus diusahakan,” terangnya.

Lanjut, kata Wahyu, berdasarkan data dari perwakilan RSUD Palagimata, dari tahun 2011 hingga 2019 ada sekitar 500 pasien penderita HIV di Kota Baubau, sehingga persoalan tersebut tidak hanya disikapi dengan rasa perihatin, namun bagai mana langkah nyata semua pihak untuk mencegah penyakit tersebut berkembang di Kota Baubau.

” Kalau pencegahan ini butuh berbagai kegiatan pencegahan, upaya dan program maka supaya ini bisa mendapat dukungan sumberdaya di daerah setiap tahun bagai mana. Nah ini langkah yang strategis menurut saya dari teman-teman di Aisyiyah. Baubau ini daerah Transit dari barat dan timur, serta mobilitas masyarakat kita saat ini sangat tinggi dengan itu perlu disiapkan antisipasi-antisipasi,”tutupnya.

Sementara itu diwaktu yang sama Kepala SSR TB-HIV care Aisyiyah Kota Baubau Nurhayati SPdi, MA mengatakan sejak 2016 pihaknya Aisyiyah pusat berkerjasama dengan Global Founding (GF) dari Amerika Serikat dan turun ke pimpinan wilayah, kemudian kedaerah dan salah satunya Kota Baubau yang dilihat sebagai salah satu daerah yang rentan akan penyakit TB-HIV, karena sebagai salah satu daerah transit dari indonesia barat ke indonesia timur, maupun sebaliknya.

Selama Empat tahun kerja sama pihaknya dan GF, pencapaian yang dilakukan Aisyiyah cukup pesat, terlihat kader TB-HIV di Kota Baubau berjumlah 73 orang dan data jumlah pasien TB-HIV di Kota Baubau. ” Seperti yang diungkapkan oleh perwakilan dirus RS Kota Baubau ada sekitar 500 orang mulai tahun 2011 sampai 2019,” terangnya.

Dikatakan, Perda terkait TB-HIV dianggap sangat penting, pasalnya dengan adanya payung hukum yang jelas, penguatan kerja kadernya di lapangan maupun pemerintah dalam meminimalisir perkembangan penyakit tersebut akan memiliki kepastian hukum yang jelas.

” Mari kita bekerjasama semua, allhamdulilah kami sangat membutuhkan perhatian penuh dati pemerintah khususnya walikota, DPRD untuk kita bersama-sama menggolkan perda ini untuk Kota Baubau. Kapan sudah ada perda, dan GF sudah meninggalkan kita insyaallah kita bisa mandiri dan berkontribusi untuk Kota Baubau, karena kita sangat sayang dan cinta dengan Kota Baubau. Ini tidak akan bisa sehat kalo warganya banyak mengalami dan terjangkit TB-HIV khususnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, apa yang diperjuangkan oleh pihaknya dan seluruh pihak, bukan merupakan kepentingan kelompok, melainkan untuk kepentingan orang banyak khususnya untuk Kota Baubau.

” Kalau kami diminta bantuan oleh pemerintah kami siap untuk membantu, kami selama ini kerja ikhlas dan bukan karena ada apapun, kami hanya berpikir bagai mana kami bisa berkiontribusi dan menjadi amal kami nantinya,” tutupnya.

Peliput: Prasetio M

Visited 2 times, 1 visit(s) today