Peliput: Amirul — Editor: Ardi Toris
BATAUGA,BP-Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih kerap terjadi ditengah-tengah masyarakat di Buton Selatan. Sekretaris Dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Buton Selatan La Ode Heriyanto mengatakan kasus KDRT kerap terjadi dipicu oleh beberapa faktor, yang paling dominan adalah masalah ekonomi.

Menurutnya, diskriminasi berdasarkan gender dan pelanggaran terhadap hak perempuan masih terjadi sampai saat ini pada seluruh aspek kehidupan.
“Biasanya dilakukan kepada perempuan yang tidak memiliki penghasilan tersendiri , disitu akan terjadi kekerasan,” kata La Ode Herianto, saat ditemui di media center belum lama ini.
Kata dia, kaum hawa terkadang masih termarjinalkan, terdiskrimasi dan dianggap rendah oleh laki-laki, sehingga DP3A Busel kerap melakukan pendekatan sosialisasi, persuasif dengan melakukan pemberdayaan perempuan pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan
nilai ekonomi sehingga dapat berdaya saing.
“Kita terus melakukan sosialisasi pencengahan KDRT ke masyarakat. Intinya memberikan penguatan ketahanan keluarga dan nilai-nilai kesetaraan jender,” ujarnya.
Dalam beberapa kasus baik KDRT maupun kekerasan seksual terhadap anak, pihaknya turun ke lapangan memberikan penguatan-penguatan, pendampingan, selain itu untuk mengurangi traumatik.
Ia menambahkan, dalam kurun tahun 2019-2020, terdapat tujuh kasus kekerasan seksual terhadap anak, rata-rata pelakunya masih keluarga terdekat korban.
“Jika, baik pelaku maupun korban masih anak-anak, kedua belah pihak akan diberikan pendampingan, untuk meremdam traumatik,” tukasnya (*)

