BUTON SELATAN, BP – Kesiapan calon jamaah haji Kabupaten Buton Selatan pada musim haji 2026 mendapat apresiasi dari Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umroh Provinsi Sulawesi Tenggara H Muhammad Lalan Jaya. Penilaiannya itu disampaikan saat melakukan kunjungan kerja sekaligus peninjauan pelaksanaan bimbingan manasik haji yang dipusatkan di Kantor Kemenag Buton Selatan, Minggu (15/2/2026). “Manasik Haji Buton Selatan 2026 Dapat Apresiasi dari Kakanwil Haji Sulawesi Tenggara H Muhammad Lalan Jaya,”

Pelaksanaan manasik tersebut menjadi bagian penting dari persiapan jamaah sebelum menunaikan ibadah di Tanah Suci. Pada kesempatan itu, Lalan menegaskan bahwa seluruh kegiatan pembinaan wajib dilakukan secara sistematis untuk memastikan jamaah memahami setiap tahapan haji. “Kami ingin memastikan para jamaah mempelajari ibadah haji sesuai tuntunan Rasulullah,” ujarnya.
Dalam kunjungan yang merupakan kali ke-12 di Buton Selatan itu, Lalan menilai koordinasi antara Kemenag daerah dan panitia pelaksana berjalan sangat baik. Ia juga menyebutkan bahwa tingkat partisipasi jamaah menunjukkan keseriusan dalam persiapan keberangkatan.
Tahun ini, sebanyak 25 jamaah asal Buton Selatan direncanakan tergabung dalam Kloter 38. Pemerintah berharap seluruh jamaah berangkat dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah. Menurut data yang disampaikan, mayoritas jamaah berada pada rentang usia 40 hingga 60 tahun, sementara jamaah lanjut usia relatif sedikit.
Pada pelaksanaan manasik 2026, rangkaian pembinaan dijadwalkan berlangsung lima kali. Satu sesi dilakukan di tingkat kabupaten, sementara empat sesi lainnya dilaksanakan di tingkat kecamatan. Sejauh ini, para jamaah telah mengikuti tiga kali manasik Kecamatan, sebagai bagian dari penguatan materi dasar.
Satu sesi manasik tambahan akan digelar setelah Idulfitri. Sesi ini berfokus pada praktik langsung sebagai bentuk pemantapan sebelum keberangkatan. “Manasik ini bukan hanya teori, tetapi juga praktik agar jamaah siap secara menyeluruh,” ujar Lalan menegaskan kembali.
Secara regional, Sulawesi Tenggara menargetkan sekitar 2.072 calon jamaah haji dapat diberangkatkan secara lengkap. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya seiring dengan membaiknya kuota haji pascapandemi COVID-19. Sejak dibukanya kembali izin penyelenggaraan haji secara normal pada tahun 2023, jumlah jamaah Indonesia yang diberangkatkan terus bertambah.
Dalam konteks nasional, penyelenggaraan manasik haji telah menjadi tradisi penting di Indonesia sejak tahun 1969, ketika pemerintah mulai memberlakukan pelatihan terstruktur bagi calon jamaah. Pada tingkat global, pembinaan serupa juga dilakukan oleh beberapa negara dengan populasi jamaah besar, seperti Pakistan dan Turki, untuk memastikan setiap jamaah mengenal tata cara ibadah sebelum tiba di Makkah.
Di Buton Selatan, kegiatan manasik setiap tahun menjadi momentum pembinaan mental dan fisik bagi jamaah. Melalui proses ini, calon jamaah tidak hanya dibekali materi ibadah, tetapi juga pengetahuan terkait kesehatan, administrasi, serta perjalanan selama berada di Arab Saudi.
baca juga:
- Hadiri Tradisi Mata Air Adhoda Desa Bangun, Bupati Buton Selatan Muh Adios Tekankan Harmoni dan…
- Bupati Buton Selatan H Muh Adios Hadiri Syukuran Mata Air Adhoda, Desa Bangun Rayakan Panen Melimpah
Kegiatan manasik tahun ini mendapat perhatian khusus mengingat tingginya antusiasme jamaah. Panitia berharap pembinaan yang berjalan baik dapat mendukung kelancaran keberangkatan Kloter 38 asal Buton Selatan.
Menutup kunjungannya, Lalan kembali menyampaikan harapannya. “Kami ingin seluruh jamaah sehat, dapat menunaikan ibadah dengan penuh kekhusyukan, dan pulang ke tanah air sebagai haji yang mabrur,” tutupnya.
Dengan rangkaian persiapan yang matang, Buton Selatan optimistis mampu memberangkatkan jamaah haji secara lengkap dan siap menghadapi seluruh tahapan ibadah pada musim haji 2026.(*)
Baca Berita Lainnya:

Peninjauan fasilitas yang dilakukan pada Sabtu (14/2/2026) tersebut menjadi langkah penting pemerintah daerah dalam memastikan infrastruktur air bersih dapat segera difungsikan. Akses terhadap layanan air bersih sebelumnya menjadi isu krusial di beberapa wilayah pesisir Buton Selatan.
Dalam kunjungan itu, Bupati Buton Selatan H. Muhammad Adios turun langsung meninjau kondisi instalasi bersama Direktur Perumda Air Minum Tirta Lamaindo Buton Selatan, La Ode Sirlan. Keduanya memeriksa sejumlah titik penting, mulai dari mekanisme penyaringan, alur distribusi, hingga kondisi sumber air baku yang menjadi tumpuan operasional.
Adios menilai seluruh fasilitas pendukung di IPA Wawoangi sudah mengarah pada standar pelayanan air minum yang layak. Berdasarkan pengamatannya, potensi debit air baku di kawasan tersebut diyakini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. “Secara teknis, fasilitasnya sudah memadai dan sumber airnya juga cukup baik untuk mendukung layanan air bersih,” ujar Bupati.
Meski demikian, proses pengoperasian fasilitas tersebut belum dapat dilakukan sepenuhnya karena masih menunggu penyambungan jaringan listrik. Komponen listrik merupakan bagian vital dari operasional sistem pemompaan, pengolahan, dan distribusi air. “Kita berharap seluruh kebutuhan teknis, termasuk pasokan listrik, bisa segera dipenuhi agar layanan bisa berjalan,” imbuhnya.
Menurut Adios, pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penyediaan energi listrik bagi instalasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran IPA Wawoangi diharapkan dapat menjadi solusi kebutuhan air bersih masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber alternatif yang sering tidak stabil.
Keberadaan IPA Wawoangi juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan sebagaimana ditekankan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keenam, yaitu memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Secara global, akses air bersih menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat yang terus didorong oleh berbagai organisasi internasional.
Secara historis, Indonesia juga pernah menghadapi tantangan pasokan air bersih dalam skala nasional, terutama di awal tahun 2000-an ketika perubahan iklim mulai memengaruhi kualitas sumber air di sejumlah daerah. Pemerintah kemudian memperluas pembangunan instalasi air bersih sebagai bagian dari program prioritas nasional.
Di tingkat internasional, negara-negara maju seperti Jepang dan Belanda telah lebih dulu menerapkan sistem pengolahan air modern yang dijadikan rujukan pembangunan infrastruktur air di banyak wilayah dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan mereka menunjukkan pentingnya dukungan energi listrik dan teknologi yang stabil dalam mengoptimalkan layanan pengolahan air.
baca juga:
- Dukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI, Pemkab Buton Selatan Instruksikan Aksi…
- Bupati Adios Pastikan Kesiapan Dukungan PLN untuk Jaringan istrik Kantor Baru Bupati Buton Selatan di Laompo
Adios berharap IPA Wawoangi dapat segera melayani masyarakat dalam beberapa waktu ke depan. Ia menekankan bahwa pemerintah tetap berkomitmen memastikan layanan dasar terus ditingkatkan sebagai bagian dari pembangunan daerah yang inklusif. “Kami ingin masyarakat segera merasakan manfaatnya. Air bersih adalah kebutuhan mendasar yang harus kita pastikan tersedia,” kata Adios.
Dengan beroperasinya IPA Wawoangi nanti, masyarakat diharapkan tidak lagi mengalami kendala distribusi air bersih, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air meningkat. Pemerintah daerah juga berencana memperluas jaringan distribusi untuk menjangkau lebih banyak wilayah.(*)

