F01.1 A Menteri Susi tiba di dermaga TPI Wameo dengan mendayung kano dari pesisir Pantai Nirwana CopyMenteri Susi tiba di dermaga TPI Wameo dengan mendayung kano dari pesisir Pantai Nirwana

 

Laporan: Ardi Toris

BAUBAU, BP- Kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan Dr (HC) Susi Pudjiastuti dengan mendayung kano dari pesisir pantai Nirwana di Keluraan Sulaa, menuju TPI Wameo terbilang unik, sehingga menarik perhatian Warga Baubau, Rabu (22/03).

Bahkan Menteri Susi begitu tiba di darat, dengan disambut Walikota Baubau Dr H AS Tamrin MH, tidak mengganti pakaiannya yang basah, sang menteri langsung mengenakan sarung Buton menutupi bajunya yang basah kuyup, langsung berdialog dengan kelompok nelayan.

“Tadinya saya mau mengayuh sampai di dermaga TPI Wameo, tapi karena dekat SPBU ini ombaknya makin kencang jadi saya minta ditarik kanonya. Terimakasih sudah memberikan saya sarung Buton,” ucap Menteri Susi Saat pertama membuka dialog bersama nelayan Baubau.

Menteri Susi menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok nelayan yang diajukan melalui Ketuanya Muslimin Buhim antara lain menyangkut izin kapal tangkap dan juga mengenai asuransi para nelayan. Mentri Susi mengatakan baru saja dia dilantik 2014, lalu dia kaget karena pada tanggal 7 Nopember 2014, tiga minggu setelah ibu menteri dilantik ada surat dari bupati, walikota, dan gubernur bernonor B622/men/KP/XI/2014 yang meminta agar membebsakan semua PHP kapal perikanan.

“Dan saya menyetujui, yaitu membebaskan semua PHP kapal perikanan dibawah 10 GT dan perhitungan nasionalisasi kapal. Namun disaat yang bersamaan saya juga menegaskan agar menghentikan alat-alat tangkap perikanan yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan roll, bom, dan racun potras. Juga tidak memerlukan daftar LSO, meski begitu nelayan tangkap yang punya kapal di bawah 10 GT wajib melapor ke aparat,” jelasnya.

Menteri Susi pun bersedia memberikan nomor portalnya untuk bisa menghubunginya secara langsung bila ada hal yang mau dilaporkan atau di konsultasikan. “Ini nomor portal saya 0811211365. Bila ada yang mau dikonsultasikan atau mempertanyakan sesuatu bisa langsung menghubungi saya di nomor itu,” kata Menteri Susi.

Dia pun menyinggung soal penggunaan alat-alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan rupanya kebanyakan dilakukan dari nelayan asal Buton. Menteri Susi mengaku sudah mengunjungi tujuh tempat mulai dari Papua, sumatra dan Jawa, mereka mengatakan bahwa orang Buton yang sering melakukan penmboman di laut.

“Saya salut dengan pelaut-pelaut kita yang dari Makassar, Bone, dan Baubau yang terkenal sebagai pelaut ulet dan ulung di dunia. Tapi di tujuh tenpat yang saya datangi itu mereka mengeluh pelaut yang dari Sulawesi sering melalukan pemboman di laut. Saya tanya Sulawesi yang mana? mereka jawab asal Buton. Itu katanya ada yang Pak haji itu,” ucap Menteri Susi.

Dia pun menegaskan agar pemerintah daerah harusnya memperdakan agar tidak melakukan penangkapan ikan dibawah zona 1 mil laut. Tujuannya agar ikan-ikan itu bisa melakukan perkawinan dan beranak di tempat yang teduh. Nelayan yang mau menangkap ikan bisa memasang bubu atau jaring pada zona 1-2 mil ke atas.

Menteri Susi menyayngkan bila masih ada nelayan yang menggubakan racun potras di Buton atau di Baubau ini. “Saya tahu cukup saya melihat ada bulu babi yang terdampar di bibir pantai, itu artinya di sini masih ada yang menangkap ikan memakai racun potras. Racun ini 1 gram bisa merusak 6 meter persegi area. kabar orang Buton yang selalu melakukan penangkapan dengan cara membom itu, Katanya, sampai di Australia,” jelasnya. (***)

Visited 2 times, 1 visit(s) today