Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 05 Oktober 2026
baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 05 Oktober 2026 Versi PDF
baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 05 Oktober 2026

baca juga Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi lainnya:
- Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 29 September 2026
- Koran Online Baubau Post Edisi 29 September 2026
baca berita lainnya:
Asap Kebakaran Masuk Baubau, Konsentrasi PM2.5 Sempat Capai 34,5 µg/m³, Pemkot Imbau Warga Pakai Masker dan Tak Bakar Lahan
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM — Pemerintah Kota Baubau memperingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap yang dalam beberapa hari terakhir memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah tersebut. Pemerintah juga menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar serta membakar sampah secara terbuka yang berpotensi memperburuk polusi udara. “Asap Kebakaran Masuk Baubau, Konsentrasi PM2.5 Sempat Capai 34,5 µg/m³, Pemkot Imbau Warga Pakai Masker dan Tak Bakar Lahan,”

Imbauan itu disampaikan setelah pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari menunjukkan konsentrasi partikulat PM₂.₅ di Baubau sempat mencapai 34,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada 29 September 2026. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 10,9 µg/m³ pada Sabtu (3/10/2026) siang seiring embusan angin dari selatan yang membantu mengurai polutan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau H. Andi Hamzah Machmud, S.Sos., M.Si., mengatakan analisis BMKG menunjukkan kabut asap tersebut berkaitan dengan pergerakan asap dari arah timur akibat pembakaran atau kebakaran. Karena itu, penurunan konsentrasi partikulat belum berarti risiko telah sepenuhnya berakhir.
“Potensi kenaikan kembali masih terbuka apabila titik api di wilayah asal tetap aktif dan arah angin kembali bergerak dari timur,” kata Andi dalam siaran pers, Sabtu (3/10/2026).
Pemkot Baubau meminta Satgas Penanganan Dampak El Nino dan jajaran pemerintah daerah, termasuk BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, camat, serta lurah, memperkuat pemantauan kondisi lapangan. Aparat pemerintah juga diminta aktif mengedukasi masyarakat mengenai langkah pencegahan dan perlindungan diri selama kualitas udara belum sepenuhnya stabil.
Kelompok yang lebih rentan terhadap paparan partikulat, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita infeksi saluran pernapasan akut dan asma, diminta mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Masyarakat secara umum dianjurkan menggunakan masker ketika kabut asap menebal dan menutup ventilasi rumah saat konsentrasi partikulat meningkat.
Pemkot juga mengingatkan pengendara kendaraan bermotor, nelayan, dan operator transportasi laut agar memperhitungkan kemungkinan perubahan jarak pandang secara mendadak. Langkah tersebut diperlukan karena kabut asap tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga dapat meningkatkan risiko keselamatan dalam perjalanan.
Larangan pembakaran terbuka menjadi perhatian penting karena kebakaran vegetasi dan lahan merupakan salah satu sumber partikulat udara. Di Indonesia, persoalan kabut asap lintas wilayah pernah mencapai skala besar, terutama pada kebakaran hutan dan lahan 1997–1998 yang menghasilkan asap pekat di sejumlah wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu episode penting dalam sejarah penanganan kebakaran hutan dan polusi udara regional.
Secara internasional, persoalan serupa juga berulang di sejumlah kawasan yang menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap dari kebakaran besar dapat bergerak mengikuti pola angin dan memengaruhi wilayah yang jauh dari sumber api. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di suatu wilayah tidak selalu hanya dipengaruhi oleh sumber pencemar yang berada di dalam wilayah administratifnya.
Andi mengatakan Pemkot Baubau akan mempertahankan koordinasi dengan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari untuk memperbarui informasi mengenai sebaran aerosol dan konsentrasi partikulat. Pemantauan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah kewaspadaan berikutnya.
“Masyarakat tetap tenang, tidak termakan isu liar, serta memantau kanal informasi resmi Pemkot Baubau maupun BMKG,” ujar Andi.
baca juga:
- Hari Jadi Baubau ke-485 Makin Bermakna, MAKESA Buka Layanan Kesehatan Gratis di Kotamara
- Dr Moh Tasdik Wakili Wali Kota Baubau Buka Muslok IV ORARI, Pemkot Minta ORARI Adaptif Hadapi Perkembangan Teknologi Komunikasi Kebencanaan
Hingga Sabtu (3/10/2026), konsentrasi PM₂.₅ di Baubau menunjukkan tren penurunan dibandingkan kondisi pada 29 September. Namun, pemerintah tetap meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat menghasilkan asap serta mengikuti perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca melalui sumber informasi resmi.(*)


