BAUBAU, BAUBAUPOST.COM — Pemerintah Kota Baubau memperingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap yang dalam beberapa hari terakhir memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah tersebut. Pemerintah juga menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar serta membakar sampah secara terbuka yang berpotensi memperburuk polusi udara. “Asap Kebakaran Masuk Baubau, Konsentrasi PM2.5 Sempat Capai 34,5 µg/m³, Pemkot Imbau Warga Pakai Masker dan Tak Bakar Lahan,”

Imbauan itu disampaikan setelah pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari menunjukkan konsentrasi partikulat PM₂.₅ di Baubau sempat mencapai 34,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada 29 September 2026. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 10,9 µg/m³ pada Sabtu (3/10/2026) siang seiring embusan angin dari selatan yang membantu mengurai polutan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau H. Andi Hamzah Machmud, S.Sos., M.Si., mengatakan analisis BMKG menunjukkan kabut asap tersebut berkaitan dengan pergerakan asap dari arah timur akibat pembakaran atau kebakaran. Karena itu, penurunan konsentrasi partikulat belum berarti risiko telah sepenuhnya berakhir.
“Potensi kenaikan kembali masih terbuka apabila titik api di wilayah asal tetap aktif dan arah angin kembali bergerak dari timur,” kata Andi dalam siaran pers, Sabtu (3/10/2026).
Pemkot Baubau meminta Satgas Penanganan Dampak El Nino dan jajaran pemerintah daerah, termasuk BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, camat, serta lurah, memperkuat pemantauan kondisi lapangan. Aparat pemerintah juga diminta aktif mengedukasi masyarakat mengenai langkah pencegahan dan perlindungan diri selama kualitas udara belum sepenuhnya stabil.
Kelompok yang lebih rentan terhadap paparan partikulat, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita infeksi saluran pernapasan akut dan asma, diminta mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Masyarakat secara umum dianjurkan menggunakan masker ketika kabut asap menebal dan menutup ventilasi rumah saat konsentrasi partikulat meningkat.
Pemkot juga mengingatkan pengendara kendaraan bermotor, nelayan, dan operator transportasi laut agar memperhitungkan kemungkinan perubahan jarak pandang secara mendadak. Langkah tersebut diperlukan karena kabut asap tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga dapat meningkatkan risiko keselamatan dalam perjalanan.
Larangan pembakaran terbuka menjadi perhatian penting karena kebakaran vegetasi dan lahan merupakan salah satu sumber partikulat udara. Di Indonesia, persoalan kabut asap lintas wilayah pernah mencapai skala besar, terutama pada kebakaran hutan dan lahan 1997–1998 yang menghasilkan asap pekat di sejumlah wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu episode penting dalam sejarah penanganan kebakaran hutan dan polusi udara regional.
Secara internasional, persoalan serupa juga berulang di sejumlah kawasan yang menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap dari kebakaran besar dapat bergerak mengikuti pola angin dan memengaruhi wilayah yang jauh dari sumber api. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di suatu wilayah tidak selalu hanya dipengaruhi oleh sumber pencemar yang berada di dalam wilayah administratifnya.
Andi mengatakan Pemkot Baubau akan mempertahankan koordinasi dengan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari untuk memperbarui informasi mengenai sebaran aerosol dan konsentrasi partikulat. Pemantauan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah kewaspadaan berikutnya.
“Masyarakat tetap tenang, tidak termakan isu liar, serta memantau kanal informasi resmi Pemkot Baubau maupun BMKG,” ujar Andi.
baca juga:
- Hari Jadi Baubau ke-485 Makin Bermakna, MAKESA Buka Layanan Kesehatan Gratis di Kotamara
- Dr Moh Tasdik Wakili Wali Kota Baubau Buka Muslok IV ORARI, Pemkot Minta ORARI Adaptif Hadapi Perkembangan Teknologi Komunikasi Kebencanaan
Hingga Sabtu (3/10/2026), konsentrasi PM₂.₅ di Baubau menunjukkan tren penurunan dibandingkan kondisi pada 29 September. Namun, pemerintah tetap meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat menghasilkan asap serta mengikuti perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca melalui sumber informasi resmi.(*)
baca berita lainnya:

Kegiatan yang dilaksanakan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Baubau itu melibatkan kepala sekolah dan jajaran dewan guru. Materi disampaikan Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Baubau Yuslina, SKM., M.Si., bersama dr. WD Arsina Anwar dari Puskesmas Bataraguru. Edukasi menyasar remaja sebagai kelompok yang dinilai penting dibekali informasi kesehatan sebelum memasuki usia produktif, pernikahan, dan fase reproduksi.
Selain mengenalkan risiko ketiga penyakit tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai kebijakan Triple Elimination serta situasi epidemiologi HIV, sifilis, dan hepatitis di Kota Baubau. Dinkes juga menjelaskan jalur penularan, termasuk hubungan seksual berisiko serta paparan cairan tubuh atau darah yang terkontaminasi.
Yuslina mengatakan pendidikan kesehatan bagi pelajar tidak sebatas memberikan pengetahuan mengenai penyakit, tetapi juga membangun kemampuan remaja mengambil keputusan yang bertanggung jawab. “Literasi kesehatan reproduksi penting agar siswa memperoleh informasi medis yang benar dan tidak terjebak mitos maupun disinformasi,” katanya, Jumat 2 Oktober 2026
Menurut dia, pendekatan edukasi juga diarahkan pada pencegahan perilaku berisiko, termasuk penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi. Di sisi lain, sekolah didorong menjadi lingkungan yang mampu mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) maupun penderita hepatitis B dan sifilis. Siswa peserta kegiatan juga diharapkan dapat berperan sebagai peer educator yang menyebarkan informasi kesehatan kepada teman sebaya dan keluarga.
Secara global, upaya mengintegrasikan pencegahan penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak telah berkembang selama lebih dari satu dekade. WHO mencatat tujuan eliminasi penularan dari ibu ke anak mulai mendapat tonggak penting sejak 2010, sedangkan kriteria global untuk eliminasi HIV dan sifilis dikembangkan pada 2014. Pada 2022, WHO memperluas kerangka tersebut dengan memasukkan hepatitis B dalam panduan Triple Elimination.
Perkembangan terbaru menunjukkan agenda tersebut terus bergerak di tingkat internasional. Pada 2025, WHO menerbitkan panduan khusus perencanaan Triple Elimination dan pada tahun yang sama melakukan prakualifikasi tes cepat terpadu yang dapat mendeteksi HIV, hepatitis B, dan sifilis. WHO juga mencatat Maladewa sebagai negara pertama yang memperoleh validasi eliminasi penularan ketiga penyakit tersebut dari ibu ke anak pada 2025.
baca juga:
- Jelang HUT Baubau, Pemkot Perketat Penataan Pedagang di Kawasan Kotamara
- MAKESA Jadi Bagian Hari Jadi Kota Baubau ke-485, Warga Bisa Cek Kesehatan Gratis di Kotamara
Menutup kegiatan di SMAN 1 Baubau, panitia menggelar kuis interaktif untuk mengukur pemahaman peserta. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan antusias. “Melalui semangat ‘Stop Stigma dan Diskriminasi’, kami berharap edukasi ini melahirkan generasi muda Baubau yang sehat, cerdas, berkarakter, serta terlindungi dari ancaman HIV, sifilis, dan hepatitis,” ujar Yuslina.(*)



