BUTON SELATAN, BP– Pemerintah Kabupaten Buton Selatan terus mematangkan layanan dasar air bersih dengan mengevaluasi kesiapan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Wawoangi di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi secara optimal dan berkelanjutan. “Bupati Buton Selatan Muh Adios Tinjau IPA Wawoangi, Pengoperasian Tinggal Tunggu Sambungan Listrik,”

Peninjauan fasilitas yang dilakukan pada Sabtu (14/2/2026) tersebut menjadi langkah penting pemerintah daerah dalam memastikan infrastruktur air bersih dapat segera difungsikan. Akses terhadap layanan air bersih sebelumnya menjadi isu krusial di beberapa wilayah pesisir Buton Selatan.
Dalam kunjungan itu, Bupati Buton Selatan H. Muhammad Adios turun langsung meninjau kondisi instalasi bersama Direktur Perumda Air Minum Tirta Lamaindo Buton Selatan, La Ode Sirlan. Keduanya memeriksa sejumlah titik penting, mulai dari mekanisme penyaringan, alur distribusi, hingga kondisi sumber air baku yang menjadi tumpuan operasional.
Adios menilai seluruh fasilitas pendukung di IPA Wawoangi sudah mengarah pada standar pelayanan air minum yang layak. Berdasarkan pengamatannya, potensi debit air baku di kawasan tersebut diyakini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. “Secara teknis, fasilitasnya sudah memadai dan sumber airnya juga cukup baik untuk mendukung layanan air bersih,” ujar Bupati.
Meski demikian, proses pengoperasian fasilitas tersebut belum dapat dilakukan sepenuhnya karena masih menunggu penyambungan jaringan listrik. Komponen listrik merupakan bagian vital dari operasional sistem pemompaan, pengolahan, dan distribusi air. “Kita berharap seluruh kebutuhan teknis, termasuk pasokan listrik, bisa segera dipenuhi agar layanan bisa berjalan,” imbuhnya.
Menurut Adios, pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penyediaan energi listrik bagi instalasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran IPA Wawoangi diharapkan dapat menjadi solusi kebutuhan air bersih masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber alternatif yang sering tidak stabil.
Keberadaan IPA Wawoangi juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan sebagaimana ditekankan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keenam, yaitu memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Secara global, akses air bersih menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat yang terus didorong oleh berbagai organisasi internasional.
Secara historis, Indonesia juga pernah menghadapi tantangan pasokan air bersih dalam skala nasional, terutama di awal tahun 2000-an ketika perubahan iklim mulai memengaruhi kualitas sumber air di sejumlah daerah. Pemerintah kemudian memperluas pembangunan instalasi air bersih sebagai bagian dari program prioritas nasional.
Di tingkat internasional, negara-negara maju seperti Jepang dan Belanda telah lebih dulu menerapkan sistem pengolahan air modern yang dijadikan rujukan pembangunan infrastruktur air di banyak wilayah dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan mereka menunjukkan pentingnya dukungan energi listrik dan teknologi yang stabil dalam mengoptimalkan layanan pengolahan air.
baca juga:
- Dukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI, Pemkab Buton Selatan Instruksikan Aksi…
- Bupati Adios Pastikan Kesiapan Dukungan PLN untuk Jaringan istrik Kantor Baru Bupati Buton Selatan di Laompo
Adios berharap IPA Wawoangi dapat segera melayani masyarakat dalam beberapa waktu ke depan. Ia menekankan bahwa pemerintah tetap berkomitmen memastikan layanan dasar terus ditingkatkan sebagai bagian dari pembangunan daerah yang inklusif. “Kami ingin masyarakat segera merasakan manfaatnya. Air bersih adalah kebutuhan mendasar yang harus kita pastikan tersedia,” kata Adios.
Dengan beroperasinya IPA Wawoangi nanti, masyarakat diharapkan tidak lagi mengalami kendala distribusi air bersih, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air meningkat. Pemerintah daerah juga berencana memperluas jaringan distribusi untuk menjangkau lebih banyak wilayah.(*)
baca berita lainnya:

Kedatangan orang nomor satu di Buton Selatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang sejak pagi telah menyiapkan rangkaian ritual adat. Syukuran ini dikenal sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap alam yang sudah diwariskan turun-temurun.
Bupati hadir didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Buton Selatan, Sekretaris Daerah, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan. Rombongan pemerintah turut diperkuat Kepala OPD, Anggota DPRD Dapil Sampolawa, dan Kapolsek Sampolawa, memperlihatkan solidaritas lintas sektor dalam mendukung kegiatan masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan desa. “Alam adalah bagian dari identitas masyarakat kita. Jika kita menjaganya, maka alam akan menjaga kita,” ujarnya ketika memberikan pesan kepada warga.
Ia juga menekankan pentingnya kerukunan sebagai pondasi kemajuan daerah. “Buton Selatan tidak bisa dibangun tanpa kebersamaan. Tradisi seperti ini adalah perekat sosial yang harus terus hidup,” kata Bupati, Minggu, 15 Februari 2026
Tokoh adat Desa Bangun menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah daerah yang rutin hadir dalam kegiatan tahunan ini. Mereka menyebut kehadiran pejabat lengkap membawa energi positif bagi pelestarian syukuran. “Pemerintah hadir, berarti adat tidak berjalan sendiri. Ini membuat kami bangga,” ucap salah satu tokoh adat.
Acara syukuran Mata Air Adhoda memiliki jejak panjang dalam budaya lokal. Tradisi penghormatan mata air juga tercatat dalam sejumlah peradaban dunia, seperti masyarakat Jepang yang setiap musim semi menggelar Mizu Matsuri sebagai bentuk syukur terhadap sumber air. Sementara di Indonesia, ritual penghormatan alam ditemukan dalam tradisi Seren Taun di Sunda dan Sedekah Bumi di Jawa, yang menandai hubungan kuat manusia dengan sumber daya alam.
Sejalan dengan itu, Desa Bangun menjadikan syukuran Mata Air Adhoda sebagai upaya menjaga keseimbangan ekologis. Mata air tersebut menjadi sumber kehidupan pertanian warga dan dianggap keramat karena menopang irigasi kebun masyarakat selama puluhan tahun.
Rangkaian acara diawali doa adat, dilanjutkan laporan hasil panen tahun berjalan. Tahun ini, warga mencatat peningkatan hasil kebun yang menurut mereka tidak lepas dari keberkahan mata air. Pemerintah daerah menilai pencapaian ini sebagai bukti bahwa pertanian berbasis kearifan lokal tetap relevan di tengah modernisasi.
Selain memperkuat identitas budaya, kehadiran pemerintah dalam syukuran dianggap menjadi bentuk dukungan nyata terhadap ketahanan pangan desa. Para kepala OPD tampak berdialog dengan masyarakat untuk menampung kebutuhan pengembangan sektor pertanian.
baca juga:
- Bupati Buton Selatan Adios Undang PLN Untuk Pastikan Dukungan Jaringan Listrik Kantor Baru Bupati…
- Ramadan 1447H/2026M Bermakna, Pembinaan Keagamaan Jadi Fokus Kemenag Buton Selatan
Bupati juga memberi pesan agar tradisi tetap dijalankan tanpa mengabaikan inovasi. Ia menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan seimbang antara budaya, ekonomi, dan ekologi. “Kita jaga adatnya, kita kembangkan pertaniannya, dan kita lindungi lingkungannya,” ujarnya menutup sambutannya.
Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama dan jamuan sederhana, menandai harapan baru warga Desa Bangun agar mata air Adhoda tetap lestari dan hasil kebun semakin melimpah pada tahun-tahun berikutnya.(*)

