baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 September 2026 Versi PDF
baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 September 2026
Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 September 2026

baca juga Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi lainnya:
- Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 18 September 2026
- Koran Online Baubau Post Edisi 15 September 2026
baca berita lainnya:
Tiga Titik Api Kembali Muncul di Bukit Wantiro Baubau, Tim Gabungan Bergerak, Medan Tebing Jadi Kendala
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Tiga titik api kembali muncul di kawasan Bukit Wantiro, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, Rabu (16/9/2026), setelah kebakaran sebelumnya berhasil dipadamkan hingga tengah malam. Tim gabungan dari Polsek Kokalukuna, Damkar Kota Baubau, TNI, dan PLN kembali dikerahkan untuk mencegah api meluas di kawasan perbukitan tersebut. “Tiga Titik Api Kembali Muncul di Bukit Wantiro Baubau, Tim Gabungan Bergerak, Medan Tebing Jadi Kendala,”

Kapolsek Kokalukuna Polres Baubau Ipda Haris Eka Putra mengatakan, kebakaran kembali diketahui setelah warga melaporkan munculnya api di sekitar lokasi yang sebelumnya telah ditangani. Medan berupa tebing menjadi salah satu kendala petugas dalam menjangkau titik kebakaran. “Untuk sementara sekarang kami dari Kepolisian Polsek Kokalukuna dan Damkar bersama PLN dan TNI, sementara ini memadamkan tiga titik api di Bukit Wantiro,” kata Haris saat ditemui di lokasi, Rabu (16/9).
Sebelumnya, personel gabungan telah bekerja hingga sekitar pukul 00.00 WITA untuk memadamkan kebakaran yang dilaporkan warga pada Selasa malam. Api sempat berhasil dikendalikan, tetapi pada pagi harinya titik kebakaran kembali ditemukan di bagian lain kawasan tersebut. Polisi menduga kondisi cuaca panas dan embusan angin dapat menyebabkan bara berpindah, meski sumber awal kebakaran belum diketahui.
“Jadi mungkin itu diakibatkan angin yang terbawa dengan cuaca panas,” ujar Haris. Ia menegaskan, dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kebakaran. Polisi masih memprioritaskan pemadaman agar api tidak bergerak menuju kawasan yang berpotensi menimbulkan dampak lebih besar.

Fenomena kebakaran di kawasan vegetasi kering memang kerap meningkat ketika musim kemarau. BNPB pada Juli hingga Agustus 2026 mencatat kebakaran hutan dan lahan masih menjadi salah satu kejadian yang menonjol di berbagai daerah Indonesia. Pada sejumlah kasus, kondisi panas, lahan kering, dan angin membuat api lebih mudah merambat.
Secara historis, Indonesia juga memiliki pengalaman panjang menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran besar pada 1997–1998, 2013, dan 2015 pernah menimbulkan dampak luas, termasuk asap lintas batas di kawasan Asia Tenggara. BNPB mencatat peristiwa 1997–1998 berkaitan dengan kekeringan panjang yang dipengaruhi El Niño, sedangkan kebakaran 2015 menjadi salah satu episode karhutla terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Di tingkat global, kebakaran vegetasi juga menjadi persoalan yang berkaitan dengan musim kering dan kerentanan ekosistem. FAO mencatat kekeringan berat pada dekade 1990-an menjadi salah satu kondisi yang memperbesar risiko kebakaran liar di berbagai kawasan dunia dan mendorong penguatan sistem informasi serta manajemen kebakaran.
baca juga:
- Reses Anggota DPRD Baubau Naslia Alu Serap Aspirasi Warga Waruruma, Desil Bansos Jadi …
- 284,3 Juta Penduduk Terlindungi JKN, BPJS Dorong Layanan Berbasis Nilai
Haris mengatakan, hingga Rabu, belum ada kesimpulan mengenai asal-muasal api. “Belum, belum. Jadi kami masih berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan dulu titik api ini,” katanya. Ia mengimbau warga tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila menemukan api. “Api sekecil mungkin dapat menimbulkan kebakaran yang besar,” tegasnya.(*)


