BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) Kota Baubau mulai mematangkan kekuatan untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) ke-XV tahun 2026 di Kota Kendari. Sebanyak 31 atlet telah mengikuti seleksi untuk memperebutkan tempat dalam kontingen, dengan penetapan atlet terpilih ditargetkan rampung dalam waktu sepekan. “PERPANI Baubau Bidik Prestasi Porprov 2026, 31 Atlet Berebut Tiket ke Kendari,”

Ketua PERPANI Kota Baubau, Muh. Ahadyat Zamani, S.T., M.T., mengatakan proses seleksi telah berlangsung selama satu hingga dua bulan terakhir. Penjaringan dilakukan untuk memastikan atlet yang dikirim memiliki kemampuan sesuai nomor pertandingan sekaligus peluang bersaing memperebutkan medali.
Seleksi mencakup sejumlah divisi, yakni standar nasional kelompok usia di bawah 18 tahun (U-18) dan di bawah 21 tahun (U-21), compound putra dan putri, recurve, serta barebow. Penilaian dilakukan berdasarkan perolehan poin dan disesuaikan dengan nomor yang akan dipertandingkan pada Porprov mendatang.
“Jumlah atlet yang mengikuti seleksi ada 31 orang. Kami masih menunggu hasil rekapitulasi poin serta mencermati keputusan mengenai nomor-nomor yang dilombakan. Dalam kurang lebih satu pekan ini, kami berharap sudah bisa menentukan atlet yang akan dikirim,” kata Ahadyat, Sabtu (31/10).
Setelah komposisi atlet ditetapkan, PERPANI Baubau akan memasukkan mereka ke dalam program training center (TC). Program ini diarahkan untuk memperkuat tiga aspek utama, yakni kondisi fisik, kesiapan mental, dan penguasaan teknik. Ketiganya menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan di tingkat provinsi.
Target peningkatan prestasi tersebut bertumpu pada capaian kontingen panahan Baubau dalam Porprov sebelumnya. Ketika itu, atlet Baubau berhasil membawa pulang satu medali emas dan dua medali perunggu. Hasil tersebut menjadi salah satu tolok ukur bagi pengurus dalam menyusun persiapan menghadapi kompetisi 2026.
Rekam jejak prestasi juga terlihat dalam sejumlah kejuaraan sepanjang 2022 hingga awal 2025. Atlet panahan Baubau tercatat mengikuti kompetisi tingkat regional Sulawesi Tenggara serta kejuaraan di luar daerah, antara lain di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Palu, Sulawesi Tengah. Sejumlah atlet bahkan pernah mengikuti seleksi untuk Pekan Olahraga Nasional (PON).
Secara historis, panahan merupakan cabang olahraga yang telah lama berkembang dalam kompetisi internasional. Federasi panahan dunia, World Archery, berdiri pada 1931, sedangkan panahan kembali masuk dalam program Olimpiade modern pada Olimpiade Munich 1972 setelah sebelumnya dipertandingkan pada beberapa edisi awal Olimpiade. Di Indonesia, pembinaan olahraga panahan berada di bawah organisasi PERPANI yang berdiri pada 12 Juli 1953. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa panahan membutuhkan pembinaan berkesinambungan, ketelitian, konsentrasi, dan konsistensi latihan.
Meski memiliki modal prestasi, pembinaan panahan di Baubau masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan jumlah atlet yang menekuni cabang olahraga tersebut. Ahadyat menilai perluasan minat masyarakat menjadi pekerjaan penting agar regenerasi atlet berjalan dan persaingan internal semakin kompetitif.
Dari aspek fasilitas, PERPANI Baubau kini telah menyiapkan lapangan untuk menunjang kegiatan latihan. Ketersediaan sarana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh atlet melalui peningkatan kedisiplinan dan intensitas latihan. Pengurus juga berupaya mengatasi berbagai kendala agar persiapan menuju Porprov tidak terhambat.
“Kami dari pengurus tentu akan berupaya mengatasi kendala yang ada. Salah satu kebutuhan utama adalah lapangan untuk berlatih, dan alhamdulillah sudah kami siapkan,” ujar Ahadyat.
baca juga:
- Wali Kota H Yusran Fahim Turun Langsung Pantau Antrian Bensin, Pemkot Baubau Awasi Distribusi …
- BULOG Baubau Bentuk Satgas Khusus, Pengawasan Beras SPHP Diperketat Cegah Penyimpangan
Dengan 31 atlet yang telah mengikuti seleksi, PERPANI Baubau kini memasuki tahap penentuan komposisi tim. Hasil seleksi dan program pemusatan latihan akan menjadi bagian penting dalam mengukur kesiapan kontingen untuk membawa nama Kota Baubau dan mengejar peningkatan prestasi pada Porprov Sultra 2026 di Kendari. (*)
Infografis

baca berita lainnya:

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, H. Andi Hamzah Machmud, S.Sos., M.Si., mengatakan informasi BMKG harus menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengambil tindakan pencegahan. Karena itu, seluruh jajaran pemerintahan diminta tidak berhenti pada penyebarluasan informasi, tetapi menerjemahkannya menjadi langkah kesiapsiagaan di lapangan.
“Atas arahan Bapak Wali Kota Baubau, kami meneruskan informasi peringatan dini dari BMKG kepada seluruh OPD, camat, dan lurah. Kami minta agar informasi ini tidak hanya diketahui, tetapi juga ditindaklanjuti dengan langkah kesiapsiagaan yang konkret,” kata Andi Hamzah di Baubau, Sabtu (31/10/2026).
BMKG menyediakan tiga jenis peringatan berdasarkan rentang waktu pemantauan. Pertama, peringatan dini cuaca jangka pendek atau nowcasting untuk mendeteksi potensi cuaca ekstrem dalam rentang 0–3 jam ke depan hingga tingkat kecamatan. Kedua, peringatan dini curah hujan harian yang mencakup prakiraan hingga tujuh hari ke depan, juga dengan rincian wilayah kecamatan. Ketiga, peringatan curah hujan dasarian atau 10 harian dan bulanan untuk mengantisipasi potensi curah hujan tinggi pada skala kabupaten/kota.
Informasi tersebut dikelompokkan dalam tiga tingkatan ancaman, yakni WASPADA, SIAGA, dan AWAS. Klasifikasi ini menjadi pedoman untuk menentukan prioritas kesiapsiagaan sesuai tingkat potensi bahaya. Pemutakhiran informasi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan iklim.
Pemkot Baubau juga meminta BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Satpol PP bersama pemerintah kecamatan serta kelurahan mengidentifikasi kawasan rawan bencana. Penyiagaan personel, kapasitas penanganan darurat, dan koordinasi lintas sektor dinilai penting agar respons pemerintah dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi bencana.
Upaya tersebut sejalan dengan pengalaman penanganan bencana hidrometeorologi di Indonesia. Banjir dan tanah longsor yang berulang di berbagai daerah menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya ditentukan oleh intensitas hujan, tetapi juga kesiapan masyarakat, kondisi lingkungan, tata ruang, serta kecepatan respons pemerintah. Secara internasional, kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015–2030 yang disepakati negara-negara anggota PBB juga menempatkan penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian penting pengurangan risiko bencana.
baca juga:
- Pedagang Pasar Baubau Klaim Belum Temukan Beras Oplosan, Pengawasan Diminta Diperketat
- BULOG Baubau Bentuk Satgas Khusus, Pengawasan Beras SPHP Diperketat Cegah Penyimpangan
Andi Hamzah mengimbau masyarakat Baubau turut memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Peringatan dini curah hujan dapat diakses melalui https://www.bmkg.go.id/peringatan-dini/curah-hujan/. Ia juga mengharapkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), RT/RW, dan media membantu menyebarluaskan informasi tersebut agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “Ini merupakan upaya bersama untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana hidrometeorologi serta melindungi keselamatan masyarakat,” ujarnya. (*)




