Peliput: Gustam
BAUBAU, BP- Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) seakan tak pernah henti menulai polemik. Setelah beberapa bulan terkahir terjadi kelangkaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau bersama istansi terkait duduk bersama mengkaji akar persoalannya.
Diduga, ada mafia dibalik persoalan tersebut. Dari pihak pertamina juga sudah menyalurkan sesuai kuota. Yang menjadi persoalan utama adalah sistem penyalurannya di SPBU.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Baubau Sumarto Lanae menduga ada oknum yang sengaja malakukan penimbunan BBM untuk kemudian dijual kembali. Untuk itu, kepada pihak SPBU ia menegaskan untuk tidak main-main dengan sistem penyaluran BBM.
“Ada kejadian pengisian (BBM-red) berulang-ulang, makanya saya sampaikan dicatat plat nomor kendaraannya. Artinya pengisian berulang-ulang ini, katakan barusan jalan, sudah habis satu tangki, beberarti ada indiksi pengisian tangki, ini perlu kita curigai,” katanya, Senin (01/04).
Kepada segenap awak media, Sumarto mengungkapkan, penyaluran BBM mesti diawasi dengan ketat, sehingga para mafia bisa ditindaki. Jika terbukti melakukan penimbunan, maka akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
“Katakan misalnya pasokannya cukup sesuai kuota, tapi kan tidak menutup kemungkinan bukan masyarakat sebagai pihak pengguna yang menerima, ternyata yang di pangkalan ada pengusaha yang borong, ada penadah, ada siluman, bisa saja terjadi mafia kecil-kecilan,” ungkapnya.
Tidak menutup kemungkinan, lanjut mantan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Baubau itu, penyaluran BBM Kota Baubau tidak tepat sasaran. Bisa saja karena ulah mafia, BBM yang tadinya untuk masyarakat, dibawa ke luar daerah.
“BBM kita ini kan bisa saja dibawa ke Nusa Tenggara, atau ke Wakatobi,” tandas Sumarto Lanae. (*)

