IlustrasiIlustrasi

Peliput: Arianto W

BUTON, BP- Wacana kegiatan belajar tatap muka yang digadang-gadang pelaksanaannya pada awal masuk Tahun Pelajaran 2021/2022 nampaknya bakal terealisasi.

Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (KCD Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Rayon Kabupaten Buton La Ode Djamaluddin SPd MPd membenarkan hal tersebut.

Ilustrasi
Ilustrasi

Kendati demikian, Djamaluddin menegaskan, dengan diterapkannya kebijakan ini bukan berarti kondisi daerah kini telah bebas dari ancaman Covid19.

Dikatakannya, dalam melaksanakan prosesi belajar mengajar (PBM) tatap muka di kelas khususnya di Satuan Pendidikan jenjang SMA/SMK, siswa dan guru wajib menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman.

“Semua yang berkaitan dengan protokol kesehatan harus dipatuhi oleh siswa. Sebab, dengan diterapkannya PBM tatap muka bukan berarti kita bebas dari ancaman Covid19, tetapi kita harus lebih disiplin dan berhati-hati,” jelasnya.

Khawatir akan resiko penularan Covid19 di kalangan pelajar, kata Djamaluddin, untuk mengefesiensikan kegiatan PBM, setiap sekolah harus membagi jumlah satu kelas ideal menjadi dua ruangan atau dua kelompok belajar.

“Jumlah harus dibatasi, satu kelas dibagi menjadi dua ruangan. Kemudian, waktunya harus diefektifkan sedemikian rupa supaya tidak ada peluang bagi anak-anak untuk melakukan kumpul-kumpul di sekolah agar menghindari potensi klaster baru,” terangnya.

Tak ayal, jika kebijakan ini dinilai berat untuk optimalkan mengingat ketersediaan Ruang Kelas Belajar (RKB) yang terbatas karena tidak mampu mengimbangi penambahan jumlah kelompok belajar, maka setiap satuan pendidikan bisa melaksanakan kegiatan belajar online untuk siswa yang terlambat mengikuti pembelajaran di kelas.

baca juga: Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan, DKP Buton Rutin Salurkan Bantuan Penangkap Ikan

“Kalau dua ruangan ini dapat dioptimalkan dalam satu waktu maka tidak apa-apa, yang penting bisa dilayani. Tapi mengingat ruangan kelas yang terbatas maka kemungkinan ada yang online. Artinya, semua tergantung dari sekolahnya masing-masing,” pungkasnya. (*)