BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Pemerintah Kota Baubau melalui Dishub menghadirkan layanan bus wisata gratis selama tiga hari pada momentum Idulfitri 1447 Hijriah, sebagai upaya mendorong kunjungan wisata sekaligus mempermudah mobilitas masyarakat dan pemudik ke destinasi unggulan. “Tiga Hari Lebaran Idulfitri 1447 H, Dishub Baubau Operasikan Bus Wisata Gratis Terjadwal ke Pantai Nirwana dan Batu Sori Jadi Wisata Favorit,”

Program yang berlangsung pada 23 hingga 25 Maret 2026 ini difokuskan pada rute menuju objek wisata favorit, khususnya kawasan pesisir seperti Pantai Nirwana dan Batu Sori yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Baubau, Idrus Taufiq Saidi, mengatakan tren kunjungan wisata di daerah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring membaiknya fasilitas dan promosi destinasi.
“Dari sisi retribusi saja, terlihat peningkatan dari sekitar Rp50 juta menjadi Rp181 juta pada 2025. Ini menunjukkan minat wisata masyarakat terus tumbuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena peningkatan kunjungan wisata saat libur hari besar keagamaan bukan hanya terjadi di Baubau, tetapi juga secara nasional. Data Kementerian Pariwisata RI dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan lonjakan wisata domestik saat Idulfitri, dengan destinasi pantai menjadi favorit.
Secara global, tren serupa juga terjadi. Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mencatat bahwa wisata berbasis alam dan pesisir mengalami peningkatan pascapandemi, karena dianggap lebih aman dan memberikan pengalaman rekreasi terbuka.
Di Baubau sendiri, program bus wisata gratis ini dijalankan oleh Dinas Perhubungan sebagai bagian dari pelayanan publik di sektor transportasi, sekaligus mendukung geliat ekonomi lokal selama libur Lebaran.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Baubau, La Ode Muhammad Takdir, menjelaskan bahwa kebijakan pemfokusan rute diambil berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya.
“Tahun lalu kami siapkan beberapa titik, tetapi minat masyarakat lebih terkonsentrasi di Pantai Nirwana dan Batu Sori. Karena itu, tahun ini kami fokuskan ke destinasi yang paling diminati,” katanya.
Ia mengungkapkan, pada hari pertama pelaksanaan, dua unit bus menuju Batu Sori terisi penuh, menandakan tingginya antusiasme masyarakat terhadap program tersebut.
Operasional bus dilakukan secara berkala setiap dua jam, dimulai pukul 07.00 hingga 16.00 WITA, guna memastikan distribusi penumpang merata dan pelayanan berjalan optimal.
Untuk mengikuti layanan ini, masyarakat dapat mendaftar melalui sistem daring yang telah disediakan, dengan jumlah pendaftar mencapai lebih dari 100 orang sebelum hari pelaksanaan.
Namun demikian, warga yang belum terdaftar tetap dapat langsung datang ke titik keberangkatan di Pantai Kamali, Kecamatan Wolio, yang menjadi pusat layanan angkutan wisata selama program berlangsung.
“Silakan masyarakat datang langsung, kami tetap melayani selama kapasitas masih tersedia,” ujar Takdir.
Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan memberikan kemudahan akses transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga tradisi masyarakat yang kerap memanfaatkan momen Idulfitri untuk berwisata bersama keluarga.
Sementara itu, Idrus berharap ke depan layanan tersebut dapat ditingkatkan dengan menghadirkan pemandu wisata agar pengalaman pengunjung menjadi lebih informatif.
“Kalau ada pemandu, wisatawan bisa memahami kawasan yang dilalui, tidak sekadar berkunjung tetapi juga mendapatkan edukasi,” katanya.
baca juga:
- Enam Unit Bus Wisata Gratis Yang Disediakan Dishub Baubau Akan Dilepas Walikota H Yusran….
- Sesuai Prediksi Dishub Baubau, Keberangkatan Sesi Dua, Masyarakat Membludak Naik Bus Wisata Gratis Menuju Wisata Batusori
Ia menegaskan, penguatan sektor pariwisata memerlukan kolaborasi lintas perangkat daerah, termasuk dukungan transportasi yang memadai dan terjangkau bagi masyarakat.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kota Baubau optimistis sektor pariwisata akan terus berkembang dan menjadi salah satu pilar ekonomi daerah, terutama dalam memanfaatkan momentum libur nasional seperti Idulfitri.(*)
GALERI FOTO
baca berita lainnya:
Pemerintah Baubau Saksikan Pergantian Katuko Masjid Agung Keraton Buton, Simbol Jabatan yang Kaya Nilai Budaya
BAUBAU, BP-Prosesi pergantian katuko, tongkat adat yang menjadi simbol jabatan perangkat Masjid Agung Keraton Buton, berlangsung khidmat di Baruga Keraton Buton di Kota Baubau pada Sabtu pagi, 14 Februari 2026. Pergantian ini dilakukan setelah perangkat masjid menilai katuko yang digunakan sebelumnya telah usang dan perlu diganti. “Pemerintah Baubau Saksikan Pergantian Katuko Masjid Agung Keraton Buton, Simbol Jabatan yang Kaya Nilai Budaya,”

Acara tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah daerah Kota Baubau, di antaranya Walikota Baubau H. Yusran Fahim SE (HYF), Sekda La Ode Darus Salam, S.Sos, M.Si, serta Kadis Pariwisata Dr. H. Moh Idrus Taufik Saidi, S.Kom, M.Si. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan pemerintah terhadap tradisi Kesultanan Buton yang masih bertahan hingga kini.
Sebelum prosesi utama, katuko lebih dulu menjalani kolemiasana, yakni ritual zikir selama empat malam di Galampa Lakina Agama. Tahapan ini diyakini sebagai proses pensucian yang menguatkan legitimasi penggunaan katuko baru dalam struktur keagamaan adat Wolio.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Haroa, tradisi pembacaan doa bersama sebelum makan adat dilakukan. Salah satu perangkat masjid yang ditunjuk memimpin doa, lalu seluruh peserta menikmati hidangan sebagai simbol persatuan dan penghormatan terhadap leluhur.
Pada puncak acara, Wali Kota Baubau HYF menyerahkan katuko baru kepada perangkat masjid, mulai dari Lakina Agama, Imam, Hatibi, hingga Moji. “Pergantian ini merupakan permintaan internal perangkat masjid karena katuko lama sudah usang,” ujar Yusran Fahim setelah prosesi.
Sebelum penyerahan dilakukan, doa khusus kembali dibacakan untuk memohon keberkahan dan kelancaran para pemangku jabatan dalam mengemban amanah. Prosesi diakhiri dengan ucapan selamat dari para hadirin kepada penerima tongkat adat tersebut.
Katuko sendiri memiliki makna budaya yang kuat dalam tatanan sosial Kesultanan Wolio. Dalam tradisi adat, tongkat ini berfungsi seperti surat keputusan (SK) yang menandai pengangkatan maupun pemberhentian jabatan. “Dalam tradisi Wolio, tongkat adalah identitas sekaligus legitimasi jabatan,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir.
Tongkat adat ini dibedakan menurut golongan. Perangkat dari golongan Kaomu—Lakina Agama, Imam, dan Hatibi—menggunakan katuko berhulu perak. Sedangkan Moji yang berasal dari golongan Walaka menggunakan hulu berbahan kuningan. Perbedaan ini mencerminkan stratifikasi adat yang telah berakar ratusan tahun.

Secara historis, pemakaian tongkat sebagai simbol otoritas bukan hanya tradisi lokal. Dalam sejarah nasional, tongkat komando digunakan dalam struktur kerajaan Nusantara seperti Kesultanan Mataram dan Kesultanan Banten. Sementara dalam sejarah internasional, tongkat serupa dikenal sebagai scepter, simbol kekuasaan raja di Eropa dan Timur Tengah sejak era Mesir Kuno.
Pergantian katuko Masjid Agung Keraton Buton sendiri tercatat baru dua kali dilakukan. Pertama pada awal 2000-an dan kedua pada 2026 ini. Katuko lama masih tersimpan di Galampa Lakina Agama sebagai arsip budaya yang bernilai historis.
Wali Kota Baubau HYF menegaskan bahwa proses pergantian berjalan tanpa kendala. “Semua tahapan mengikuti prosedur koordinasi yang tepat antara perangkat masjid dan pemerintah kota Baubau,” ungkapnya. Ia juga menyebut bahwa pihaknya masih mempertimbangkan lokasi museum penyimpanan katuko lama.
baca juga:
- Enam Unit Bus Wisata Gratis Yang Disediakan Dishub Baubau Akan Dilepas Walikota H Yusran…
- Resmi Lepas Enam Bus Wisata Gratis, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Berterimakasih Insan Perhubungan Baubau Kreatif dan Inovatif Wujudkan Program 100 Hari Kerja HYF-Hamsinah
Ritual tahun ini semakin menegaskan bahwa tradisi Buton tidak sekadar warisan budaya, tetapi juga simbol identitas masyarakat Baubau dan daerah eks Kesultanan Buton . Pemerintah daerah berharap upacara adat seperti ini dapat terus dijaga sekaligus menjadi daya tarik wisata sejarah bagi generasi mendatang.(*)








