Kampung Nelayan Merah Putih di Sulaa-Baubau Segera Direalisasikan, Warga Optimistis Ekonomi Pesisir BangkitKampung Nelayan Merah Putih di Sulaa-Baubau Segera Direalisasikan, Warga Optimistis Ekonomi Pesisir Bangkit

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Kelurahan Sulaa, Kota Baubau, dipastikan menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Program Kampung Nelayan Merah Putih. Program yang semula dijadwalkan berjalan pada Juli 2026 itu kini memasuki tahap finalisasi administrasi dan akan mulai direalisasikan setelah proses perubahan anggaran pemerintah selesai. Masyarakat nelayan berharap program tersebut mampu meningkatkan produktivitas perikanan sekaligus memperkuat perekonomian kawasan pesisir. “Kampung Nelayan Merah Putih di Sulaa-Baubau Segera Direalisasikan, Warga Optimistis Ekonomi Pesisir Bangkit,”

Kampung Nelayan Merah Putih di Sulaa-Baubau Segera Direalisasikan, Warga Optimistis Ekonomi Pesisir Bangkit
Kampung Nelayan Merah Putih di Sulaa-Baubau Segera Direalisasikan, Warga Optimistis Ekonomi Pesisir Bangkit

 

Pemerintah Kelurahan Sulaa optimistis program tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Keyakinan itu didasarkan pada tingginya ketergantungan warga terhadap sektor perikanan serta dukungan penuh dari masyarakat nelayan yang telah mengikuti sosialisasi bersama pemerintah kelurahan dan dinas terkait sebelum pelaksanaan dimulai.

Lurah Sulaa, Dinarti Pina, Kamis (23/7), mengatakan Kelurahan Sulaa dipilih karena memenuhi berbagai persyaratan sebagai kawasan pengembangan kampung nelayan. Wilayah tersebut berada di kawasan pesisir dan memiliki sekitar 100 kepala keluarga yang menggantungkan mata pencaharian sebagai nelayan.

“Sebagian besar mata pencaharian warga di sini adalah nelayan. Karena itu, kawasan ini memang sangat layak menjadi lokasi Program Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Dinarti.

Menurut Dinarti, hasil koordinasi dengan tim pelaksana menunjukkan bahwa program masih menunggu penyelesaian proses perubahan anggaran pemerintah. Meski demikian, pelaksanaan ditargetkan tetap berlangsung pada tahun ini setelah seluruh tahapan administrasi selesai.

“Setelah kami berkoordinasi dengan tim yang menangani Program Kampung Nelayan Merah Putih, mereka menyampaikan bahwa pelaksanaan masih menunggu proses perubahan anggaran. Insya Allah setelah proses tersebut selesai, program ini sudah bisa mulai berjalan tahun ini,” katanya.

Selama menunggu dimulainya pelaksanaan, aktivitas masyarakat nelayan di Kelurahan Sulaa tetap berlangsung normal. Pemerintah daerah memperkirakan implementasi program dapat dimulai pada Agustus mendatang setelah perubahan anggaran disahkan. Para nelayan berharap pembangunan yang dilakukan nantinya mencakup peningkatan sarana pendukung, penguatan produktivitas usaha perikanan, serta perluasan peluang ekonomi masyarakat pesisir.

“Kami menyambut baik program ini karena diharapkan dapat meningkatkan hasil usaha nelayan dan memperbaiki fasilitas yang dibutuhkan masyarakat pesisir,” ungkap salah seorang perwakilan nelayan dalam pertemuan sosialisasi yang digelar pemerintah kelurahan.

Secara nasional, Program Kampung Nelayan Merah Putih merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat pembangunan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan yang sejalan dengan arah kebijakan ekonomi biru (blue economy). Kebijakan tersebut mendorong pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, nilai tambah hasil perikanan, serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Konsep serupa juga telah diterapkan di berbagai negara maritim, seperti Jepang, Norwegia, dan Islandia, yang berhasil membangun kawasan perikanan modern dengan dukungan infrastruktur, teknologi, dan penguatan kelembagaan nelayan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

baca juga:

  1. Imigrasi Baubau Luncurkan PASPORIA, Layanan Paspor Hadir di Hari Libur dan Pusat Keramaian
  2. PASPORIA Jadi Inovasi Baru Imigrasi Baubau, Sasar Warga yang Sibuk Bekerja, Buka Layanan Paspor di Hari Libur dan Tempat Keramaian

Dengan dukungan pemerintah, Dinas Perikanan, dan partisipasi masyarakat, Kelurahan Sulaa diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan kampung nelayan yang produktif dan berdaya saing. Program Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya diharapkan memperkuat sektor perikanan Kota Baubau, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.(*)

baca berita lainnya:

 

 

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Meningkatnya permintaan pasar internasional, terutama dari Amerika Serikat, mendorong pertumbuhan ekspor komoditas perikanan asal Pulau Buton. Kondisi tersebut tidak hanya memperkuat posisi tuna sebagai komoditas unggulan ekspor dari Kota Baubau dan wilayah Kepulauan Buton, tetapi juga meningkatkan harga jual hasil tangkapan nelayan serta membuka peluang pengembangan industri perikanan daerah. “Permintaan AS Melonjak, Tuna Pulau Buton Perkuat Ekspor Perikanan,”

 

Permintaan AS Melonjak, Tuna Pulau Buton Perkuat Ekspor Perikanan
Permintaan AS Melonjak, Tuna Pulau Buton Perkuat Ekspor Perikanan

Pimpinan CV Buton Indo Tuna, Hedyanto, mengatakan sekitar 80 persen produk perikanan yang diekspor perusahaannya dipasarkan ke Amerika Serikat melalui jalur distribusi Jakarta sebelum diberangkatkan ke negara tujuan. Sementara sisanya dipasarkan ke sejumlah negara lain, termasuk Jepang. Seluruh produksi dilakukan menggunakan sistem by order atau berdasarkan permintaan pembeli dari luar negeri sehingga volume produksi menyesuaikan kebutuhan pasar.

“Produk unggulan kami tetap tuna. Namun sekarang permintaan untuk jenis ikan lain juga semakin tinggi sehingga kami mulai meningkatkan produksinya,” kata Hedyanto saat ditemui di Baubau, Kamis (23/7).

Selain tuna, perusahaan kini mengembangkan ekspor berbagai komoditas lain seperti tenggiri, lemadang, julung-julung, ikan jenggot, tiko-tiko, waho, dan gurita. Tahun lalu, pembeli dari luar negeri menetapkan target pengiriman minimal satu kontainer tuna setiap bulan dengan kapasitas sekitar 15 hingga 17 ton. Di luar itu, perusahaan juga mengirim satu kontainer campuran berisi berbagai jenis ikan sesuai kebutuhan pasar internasional.

Pasokan bahan baku sebagian besar berasal dari nelayan Pulau Buton yang beroperasi di Pasarwajo, Siompu, Lasalimu, hingga wilayah perairan lainnya. Sementara nelayan Kota Baubau lebih banyak memasok tenggiri, waho, gurita, dan hasil tangkapan lain dari kawasan pesisir, termasuk Kelurahan Sulaa yang selama ini dikenal sebagai sentra nelayan gurita. Menurut Hedyanto, perbedaan jenis tangkapan dipengaruhi oleh fasilitas, alat tangkap, kemampuan nelayan, dan karakteristik perairan tempat mereka melaut. “Kemungkinan yang membedakan adalah fasilitas dan alat tangkap yang dimiliki nelayan, termasuk keterampilan mereka dalam menangkap jenis ikan tertentu,” ujarnya.

Lonjakan permintaan ekspor turut mendongkrak harga ikan di tingkat nelayan. Tuna kini dibeli sekitar Rp70 ribu per kilogram, waho sekitar Rp35 ribu per kilogram, sedangkan gurita berukuran di atas dua kilogram mencapai Rp80 ribu per kilogram. Gurita berukuran lebih kecil dihargai antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Adapun lemadang berukuran di atas empat kilogram dibeli sekitar Rp30 ribu per kilogram, sedangkan ukuran sekitar dua kilogram berkisar Rp20 ribu per kilogram. “Dulu harga lemadang hanya sekitar Rp7.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Setelah ada permintaan ekspor, sekarang bisa mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram,” ungkap Hedyanto.

Perusahaan menerapkan sistem pembayaran tunai kepada nelayan setelah hasil tangkapan diterima dan ditimbang. Pada musim paceklik, volume pembelian berkisar 3–5 ton per bulan, sedangkan ketika musim ikan mencapai puncaknya meningkat menjadi 10–20 ton per bulan. Musim penangkapan di wilayah Kepulauan Buton umumnya berlangsung pada Agustus hingga Januari dan kembali terjadi pada Maret hingga Juni. Daerah penangkapan utama meliputi perairan Batu Atas, Lasalimu, hingga Kabaena yang dikenal sebagai kawasan potensial penghasil tuna, lemadang, dan berbagai ikan pelagis. “Kami membayar hasil tangkapan nelayan secara tunai setelah diterima dan ditimbang sehingga perputaran ekonomi masyarakat pesisir dapat berlangsung lebih cepat,” kata Hedyanto.

Secara historis, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tuna terbesar di dunia dengan wilayah penangkapan yang membentang di Samudra Hindia, Laut Banda, Laut Maluku, hingga Samudra Pasifik. Selama dua dekade terakhir, komoditas tuna menjadi penyumbang utama devisa sektor perikanan nasional. Amerika Serikat dan Jepang secara konsisten tercatat sebagai dua pasar ekspor terbesar bagi produk tuna Indonesia karena tingginya kebutuhan industri pengolahan dan konsumsi makanan laut di kedua negara. Di tingkat regional, perairan Sulawesi Tenggara, termasuk Kepulauan Buton, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi.

baca juga:

  1. Gandeng BMKG dan PMI, Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Komunikasi, …
  2. Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Kesiapsiagaan Bencana Bagi 100 Siswa SMPN 7 Baubau, Juga Libatkan BMKG dan PMI, Tingkatkan Literasi Kebencanaan Pelajar

Meningkatnya permintaan pasar global menjadi momentum bagi sektor perikanan Baubau dan Kepulauan Buton untuk memperkuat daya saing ekspor. Selain meningkatkan nilai perdagangan daerah, tren tersebut diharapkan mendorong investasi pada industri pengolahan hasil perikanan, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui harga jual yang lebih kompetitif di pasar internasional.(*)

Visited 672 times, 2 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *