BUTON, BAUBAUPOST.COM — Danantara bersama sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) mengkaji kesiapan Aspal Buton (Asbuton) untuk mendukung kebutuhan infrastruktur nasional setelah meninjau fasilitas produksi, pertambangan, dan pelabuhan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (1/10/2026). Kunjungan yang didampingi Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, S.H., tersebut sekaligus meluruskan isu pembangunan pabrik Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat, serta mengevaluasi kesiapan bahan baku dan distribusi produk lokal. “Danantara Cek Kesiapan Aspal Buton, Klarifikasi Isu Pembangunan Pabrik di Karawang,”

Senior Associate Cluster Infra MD Business 3 PT Danantara Asset Management (DAM), Aditya Hutama Iswardi, menegaskan bahwa kegiatan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Karawang bukan pembangunan pabrik Asbuton baru. “Groundbreaking di Karawang sebenarnya sebagai bentuk mendukung ekosistemnya, jadi bukan membangun pabrik,” kata Aditya. Ia menyatakan Danantara tidak memiliki rencana membangun pabrik Aspal Buton di Karawang karena berbagai opsi pengembangan masih dalam kajian internal.
Aditya menjelaskan, peninjauan di Buton merupakan bagian dari dukungan terhadap arahan Presiden dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk meningkatkan penggunaan Aspal Buton. Danantara bersama BUMN terkait, termasuk PT Wijaya Karya (Wika) dan PT Hutama Karya, tengah mengevaluasi produk yang tersedia, bahan baku, fasilitas pengolahan, serta kesiapan teknis pemanfaatannya. “Kami ke sini untuk melihat produknya dan kesiapan teknisnya untuk bisa digunakan produknya,” ujarnya.
Rombongan meninjau fasilitas dan lahan pertambangan PT Wika Bitumen di kawasan Mantowu dan Kabungka, Kecamatan Pasarwajo, serta Pelabuhan Banabungi dan Nambo. Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Utama PT Hakaaston M. Rozi Rinjayadi, General Manager Operasi PT Wika Bitumen Pujo, perwakilan KPMG Fahmi, serta Ade dari tim khusus Asbuton Hakaaston. Pemeriksaan pelabuhan dilakukan untuk menilai dukungan distribusi jika kebutuhan Asbuton meningkat secara nasional.
Rozi mengatakan, Hakaaston berkepentingan memastikan kesiapan Asbuton karena perusahaan tersebut bergerak dalam bidang operasi dan pemeliharaan jalan tol serta aplikasi aspal. Di tengah fluktuasi harga minyak dan aspal impor akibat dinamika global, ia menilai penguatan penggunaan material dalam negeri menjadi penting. “Kami berharap Aspal Buton bisa match dengan aspal impor sehingga komersialisasinya atau penetrasi ke pasarnya bisa dilakukan segera,” katanya. Perluasan pasar diharapkan menghidupkan kembali industri aspal di Kabupaten Buton, termasuk PT Wika Bitumen dan perusahaan Asbuton lainnya.
Aspal Buton memiliki sejarah panjang dalam industri jalan Indonesia. Pengelolaannya telah dimulai sejak 1925 pada masa Hindia Belanda, sedangkan pemanfaatannya untuk pengaspalan jalan di Indonesia tercatat sejak 1970, antara lain pada ruas Cimahi–Padalarang, Jawa Barat, sepanjang tiga kilometer. Pada dekade 1980-an, Asbuton pernah mencapai masa kejayaan sebelum pemanfaatannya menurun. Secara internasional, aspal alam juga dikenal dari Trinidad di kawasan Karibia. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan sumber daya alam perlu ditopang teknologi pengolahan, standar mutu, harga yang kompetitif, dan kepastian pasar.
Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra menyambut kunjungan tersebut sebagai kesempatan memperlihatkan potensi Asbuton langsung dari daerah sumbernya. “Kedatangan mereka di sini ingin melihat langsung extraction plant di Buton, salah satunya di Wika,” ujarnya. Pemerintah Kabupaten Buton berharap kajian Danantara dan BUMN membuka peluang sinergi pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pelaku usaha untuk mengoptimalkan pemanfaatan aspal lokal.
baca juga:
- Bertemu Menkes, Bupati Buton Alvin Akawijaya Dorong Penguatan RSUD dan Puskesmas …
- Audiensi di Kemenkes, Bupati Buton Alvin Akawijaya Usulkan DAK untuk Infrastruktur Kesehatan
Hasil kajian teknis akan menjadi dasar untuk menentukan langkah pengembangan berikutnya, terutama terkait kualitas produk, kesiapan produksi, daya saing terhadap aspal impor, dan kesinambungan distribusi. Bagi Kabupaten Buton, peningkatan pemanfaatan Asbuton berpotensi memperkuat industri daerah, memperluas kegiatan ekonomi masyarakat, dan mendukung kebutuhan pembangunan jalan nasional. Namun, realisasi peluang tersebut bergantung pada hasil evaluasi dan kemampuan produk memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.(*)
baca berita lainnya:

Komitmen tersebut mengemuka dalam pembukaan Wasuemba EXO 2026 di Halaman Kantor Desa Wasuemba, Rabu sore, 26 Agustus 2026. Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Dr. Ir. Hugua, M.Ling., membuka kegiatan yang menjadi ruang promosi potensi wisata, adat, budaya, serta produk ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, S.H., memastikan pemerintah daerah akan terus mengawal pengembangan Wasuemba, termasuk melalui dukungan penganggaran. Menurut dia, potensi wisata yang dimiliki desa tersebut harus diolah agar memberikan manfaat langsung terhadap perekonomian masyarakat. “Kegiatan ini sangat baik dan tentu kami akan terus mendukung. Memang Wasuemba memiliki potensi pariwisata yang harus kita kembangkan. Pemerintah Kabupaten Buton akan terus memberikan dukungan, termasuk dalam penganggaran,” kata Alvin.
Dukungan pemerintah daerah tersebut sejalan dengan kecenderungan pengembangan pariwisata dunia yang semakin menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari destinasi. UN Tourism sejak meluncurkan program Best Tourism Villages pada 2021 mendorong desa-desa di berbagai negara menjadikan pariwisata sebagai instrumen pembangunan perdesaan, pelestarian budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hingga 2025, jaringan tersebut telah berkembang menjadi 319 destinasi perdesaan.
Indonesia juga telah memperoleh pengakuan dalam skema tersebut. Pada 2024, Desa Wisata Jatiluwih di Bali dan Wukirsari di Yogyakarta masuk dalam Best Tourism Villages. Pengalaman itu menunjukkan bahwa kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat dapat menjadi kekuatan pariwisata apabila dikelola dengan prinsip keberlanjutan.
Hugua meminta Wasuemba EXO tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dikembangkan secara berkelanjutan untuk memperkenalkan identitas daerah ke pasar wisata internasional. “Wasuemba EXO 2026 ke depannya mari terus kita kembangkan dan perkenalkan kepada mancanegara, sehingga dapat diketahui bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di negara lain, baik adat, budaya maupun pariwisatanya,” ujarnya.
Menurut Hugua, pelestarian adat dan kearifan lokal memiliki arti penting di tengah perubahan zaman. Kekayaan budaya dan tradisi maritim Buton dinilai bukan hanya warisan masa lalu, melainkan aset yang dapat memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi daya tarik wisata apabila diperkenalkan dan dikelola secara tepat.

Penyelenggaraan Wasuemba EXO 2026 juga diarahkan untuk memperkenalkan produk ekonomi kreatif warga bersama kekayaan budaya dan tradisi maritim kepada wisatawan nasional maupun mancanegara. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pariwisata perdesaan UN Tourism yang menekankan pelestarian sumber daya budaya dan alam, keterlibatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, serta penguatan tata kelola dan rantai nilai pariwisata.
baca juga:
- TMMD Ke-129 Kodim 1413/Buton Percepat Pembangunan MCK Desa Mopaano di Buton Utamakan …
- Satgas TMMD Ke-129 Targetkan Drainase Desa Ambuau Indah Segera Rampung di Buton
Pembukaan kegiatan dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Buton La Ode Syamsudin, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara Dr. M. Ridwan Badallah, S.Pd., M.M., jajaran Forkopimda, para kepala OPD, serta masyarakat setempat. Pemerintah Kabupaten Buton dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap sinergi tersebut dapat menjadikan Wasuemba sebagai destinasi berbasis masyarakat yang mampu menjaga budaya sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi warga.(*)



