
Oleh: Nursida, S.Pd.,M.Pd
Kepala Sekolah SDN 2 Baadia, Kota Baubau
BEBERAPA tahun terakhir, wajah ruang kelas sekolah dasar berubah. Papan tulis berdampingan dengan layar proyektor, buku cetak berbagi tempat dengan aplikasi belajar, dan tugas rumah kini bisa dikerjakan lewat gawai. Pemerintah mendorong transformasi digital pendidikan, dan arah itu patut didukung. Namun di balik kemajuan tersebut ada paradoks yang jarang dibicarakan: semakin canggih teknologi di tangan anak, belum tentu semakin kuat karakter yang tumbuh dalam dirinya. “Layar Makin Canggih, Karakter Jangan Tertinggal: Paradoks Digitalisasi dan Peran Guru di Sekolah Dasar,”
Paradoks pertama adalah soal keterhubungan. Anak-anak hari ini terhubung dengan dunia tanpa batas, tetapi sering terputus dari orang-orang di dekatnya. Seorang siswa bisa menonton video dari belahan dunia lain, sementara temannya di bangku sebelah tidak lagi ia ajak bicara. Empati, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama tumbuh dari perjumpaan langsung: bermain bersama, berbagi bekal, bertengkar lalu berdamai. Layar tidak bisa menggantikan pengalaman itu.
Paradoks kedua menyangkut akses pengetahuan. Informasi melimpah, jawaban hanya sejauh satu ketukan jari, dan kecerdasan buatan dapat menyusun karangan dalam hitungan detik. Godaan untuk menyalin dan mengambil jalan pintas pun ikut membesar. Bagi anak usia sekolah dasar yang sedang membangun dasar kejujuran dan ketekunan, kemudahan ini bisa menjadi jebakan. Anak belajar bahwa hasil lebih penting daripada proses. Padahal tekun, jujur, dan bertanggung jawab hanya terbentuk ketika anak mengalami sendiri jerih payah belajar, termasuk kegagalannya.
Paradoks ketiga ada pada kecepatan. Dunia digital menawarkan hiburan instan, sedangkan karakter dibangun perlahan melalui pembiasaan. Anak yang terbiasa dengan video berdurasi belasan detik cenderung sulit bertahan pada hal yang menuntut kesabaran, seperti menyimak penjelasan guru, membaca satu halaman penuh, atau menunggu giliran. Rentang perhatian yang memendek berdampak pada kemampuan mengendalikan diri.
Paradoks keempat adalah soal keteladanan. Kita menuntut anak santun di dunia maya, tetapi ruang digital orang dewasa kerap dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan perundungan. Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar bukan dari nasihat, melainkan dari apa yang mereka lihat.
Di titik inilah peran guru menjadi penentu. Teknologi dapat menyampaikan materi, tetapi hanya guru yang dapat menyentuh hati. Aplikasi bisa mengoreksi jawaban, tetapi tidak bisa melihat raut kecewa seorang anak yang gagal, atau tahu kapan ia perlu dipeluk dengan kata-kata dan kapan perlu ditegur dengan tegas. Di ruang kelas, guru menjalankan setidaknya tiga peran yang tidak tergantikan mesin.
Pertama, guru adalah teladan hidup. Ketika guru datang tepat waktu, menyimpan gawai saat anak berbicara, bertutur santun, dan mengakui kekeliruan, siswa menyerap nilai itu tanpa perlu ceramah panjang. Bagi anak SD, karakter lebih banyak ditangkap daripada diajarkan.
Kedua, guru adalah pengarah penggunaan teknologi. Gawai dan layar hendaknya dipakai dengan tujuan yang jelas dalam pembelajaran, bukan sekadar pengisi waktu. Guru yang bijak memadukan video, aplikasi, atau kecerdasan buatan dengan diskusi, tanya jawab, dan kerja kelompok. Setiap tayangan diikuti pertanyaan: apa yang kamu pelajari, apa yang kamu rasakan, apa yang akan kamu lakukan? Dengan begitu teknologi memantik percakapan, bukan menggantikannya.
Ketiga, guru adalah pembentuk pembiasaan. Di kelas, guru menumbuhkan karakter lewat rutinitas kecil yang konsisten: berdoa bersama, piket kebersihan, antre dengan tertib, mendengarkan teman berbicara, dan menyelesaikan tugas dengan jujur. Guru juga perlu menjaga agar tugas-tugas yang menuntut pemikiran anak benar-benar dikerjakan dengan usaha sendiri, serta menghargai proses, bukan hanya hasil. Anak yang dipuji karena berusaha akan lebih tahan banting daripada anak yang hanya dipuji karena nilai.
Peran guru tentu tidak berdiri sendiri. Keluarga adalah benteng pertama. Kesepakatan sederhana di rumah, seperti jam penggunaan gawai, waktu makan tanpa layar, dan pendampingan saat anak menonton, lebih efektif daripada larangan keras. Kerja sama antara guru dan orang tua, melalui komunikasi yang rutin, membuat pesan karakter di sekolah dan di rumah berjalan searah. Budaya lokal juga perlu dihidupkan kembali sebagai sumber nilai. Cerita rakyat, permainan tradisional, dan kearifan bahasa daerah menyimpan pelajaran tentang kejujuran dan hormat kepada sesama yang tidak tergantikan konten digital mana pun. Teknologi justru dapat membantu mendokumentasikan dan menyebarkannya.
Karena itu, guru pun perlu didukung. Pelatihan literasi digital, ruang untuk berbagi praktik baik, dan beban administrasi yang tidak menyita waktu mendidik akan menentukan seberapa leluasa guru menjalankan peran ini. Digitalisasi sekolah tidak boleh hanya menambah perangkat, tetapi harus menguatkan guru sebagai penjaga karakter.
Pada akhirnya, transformasi digital pendidikan akan dinilai bukan dari seberapa banyak perangkat yang masuk ke sekolah, melainkan dari seperti apa anak-anak yang keluar darinya. Apakah mereka cakap menggunakan teknologi sekaligus jujur, santun, tangguh, dan peduli? Jika ya, paradoks itu berhasil kita taklukkan.
Teknologi akan terus berubah, tetapi kebutuhan anak akan teladan tidak pernah berubah. Di tengah layar yang makin canggih, guru tetaplah cahaya yang menuntun karakter.(*)
baca juga:
- KONTEMPLASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DENGAN DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA DENGAN
- 30 Kursi DPRD Kota Baubau: Wacana, Kebutuhan, dan Agenda Besar Menata Potensi Pertumbuhan Kota




