500 Kali Salawat Menggema di MIN 1 Baubau pada Peringatan Maulid Nabi500 Kali Salawat Menggema di MIN 1 Baubau pada Peringatan Maulid Nabi

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Sekitar 1.000 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Baubau melantunkan salawat Nabi sebanyak 500 kali dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman madrasah, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi peringatan keagamaan, tetapi diarahkan sebagai bagian dari pendidikan karakter untuk membentuk peserta didik yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. “500 Kali Salawat Menggema di MIN 1 Baubau pada Peringatan Maulid Nabi,”

500 Kali Salawat Menggema di MIN 1 Baubau pada Peringatan Maulid Nabi
500 Kali Salawat Menggema di MIN 1 Baubau pada Peringatan Maulid Nabi

Kepala MIN 1 Baubau Dra. Yuliana Donggi Hanas, M.Pd., mengatakan Maulid Nabi merupakan agenda tahunan yang tahun ini telah memasuki pelaksanaan kelima. Ia menyebut keterlibatan orang tua dan wali murid menjadi salah satu unsur penting dalam kelancaran kegiatan yang mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Kita Wujudkan Generasi Madrasah yang Beriman, Berilmu dan Berakhlak Mulia.”

“Ini sudah yang kelima kalinya kita melaksanakan Maulid Nabi. Terima kasih kepada orang tua dan wali murid yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan ini,” kata Yuliana.

Sebelum rangkaian acara utama berlangsung, para siswa terlebih dahulu melantunkan salawat Nabi. Madrasah semula menargetkan 1.000 kali lantunan, tetapi siswa berhasil menyelesaikan 500 kali. Dengan jumlah peserta sekitar 1.000 siswa, capaian tersebut jika dikalkulasikan mencapai sekitar 500 ribu lantunan salawat secara keseluruhan.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Baubau H. Hasim Umar, S.Pd.I., yang hadir dalam kegiatan itu, menilai peringatan Maulid Nabi penting untuk menghubungkan kecintaan kepada Rasulullah dengan pembentukan karakter peserta didik. Menurut dia, keteladanan Nabi Muhammad SAW perlu diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.

1 1

“Maulid Nabi merupakan momentum untuk meneladani dan mengikuti sifat serta keimanan Rasulullah kepada Allah SWT. Ini juga penting dalam memperkuat karakter peserta didik,” ujarnya.

Selain Hasim, kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kementerian Haji Buton Selatan Hj. Nurhayati, SE., Kepala Tata Usaha Kemenag Baubau, Kepala Seksi Bidang Madrasah Marwiyah, S.Pd.I., pengawas lingkup Kota Baubau, kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN), serta Kepala Urusan Agama Kecamatan Murhum. Rangkaian kegiatan diisi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, zikir, dan salawat yang diikuti siswa serta keluarga besar MIN 1 Baubau.

Dalam konteks sejarah Islam, peringatan Maulid Nabi berkembang jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Kementerian Agama mencatat terdapat sejumlah versi mengenai awal tradisi tersebut, termasuk yang mengaitkannya dengan Dinasti Fathimiyah di Mesir maupun peringatan yang berkembang pada masa Sultan Muzhaffaruddin Al-Kaukabri di wilayah Irbil pada awal abad ke-7 Hijriah.

3

Di Nusantara, tradisi Maulid kemudian berkembang dalam beragam bentuk dan melahirkan karya keagamaan seperti Maulid Barzanji. NU Online mencatat teks karya Syekh Ja’far al-Barzanji menjadi salah satu bacaan Maulid yang populer di dunia Islam dan turut berkembang luas di Nusantara. Di MIN 1 Baubau, nilai historis dan keagamaan itu diterjemahkan melalui pembiasaan salawat serta keteladanan akhlak. “Tujuan kita melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW agar peserta didik kelak dapat meneladani sifat Rasulullah yang santun, rajin belajar dan memiliki semangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yuliana.

baca juga:

  1. Baubau Jadi Pintu Masuk Investasi Cornhouse, Pabrik Mete 30 Ribu Ton Dikaji
  2. Hilirisasi Jambu Mete di Baubau Dibidik, Kementan Soroti Penyakit Tanaman

Setelah zikir dan salawat bersama, kegiatan ditutup dengan makan bersama. Para peserta menikmati beragam makanan khas lokal yang disiapkan keluarga besar MIN 1 Baubau sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi dan kebersamaan di lingkungan madrasah.(*)

baca berita lainnya:

 

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM  – Potensi jambu mete di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mulai dilirik untuk dikembangkan melalui hilirisasi komoditas strategis perkebunan. Pemerintah melihat peluang peningkatan nilai ekonomi tidak hanya dari kacang mete, tetapi juga dari sejumlah produk turunannya yang dapat menopang industri sekaligus memperbesar manfaat bagi petani dan pelaku usaha lokal. “Kementan Bidik Hilirisasi Jambu Mete di Baubau, Nilai Tambah Jadi Sasaran,”

Kementan Bidik Hilirisasi Jambu Mete di Baubau, Nilai Tambah Jadi Sasaran
Kementan Bidik Hilirisasi Jambu Mete di Baubau, Nilai Tambah Jadi Sasaran

Peluang tersebut mengemuka setelah perwakilan Kementerian Pertanian (Kementan) RI bersama Utusan Khusus Presiden (UKP), Kementerian Perindustrian, serta Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Direktur Hilirisasi Perkebunan melakukan kunjungan ke Kota Baubau dan bertemu Wali Kota Baubau, Rabu (2/9/2026).

Menurut Kementan, kondisi pasar jambu mete di Baubau sejauh ini relatif telah terbentuk. Hasil produksi petani telah terserap pasar, bahkan terdapat pihak yang mengambil langsung komoditas tersebut dari petani. Kondisi ini menjadi modal awal untuk mendorong pengembangan industri pengolahan di daerah.

“Baubau memiliki potensi untuk itu, tetapi masih ada kendala terkait penyakit dan kerentanan tanaman itu sendiri,” kata Sulkandi, perwakilan Kementan RI.

Persoalan tersebut dinilai penting karena peningkatan produksi dan hilirisasi tidak dapat dipisahkan dari kondisi bahan baku. Kementan meminta kondisi tanaman jambu mete di Baubau diperiksa secara teknis untuk memastikan faktor penyebab penyakit dan kerentanan tanaman sebelum langkah pengembangan lebih lanjut dilakukan.

“Ini perlu di-cross-check ke lapangan secara teknis untuk mengetahui apa yang menyebabkan kondisi tersebut,” ujar Sulkandi.

Secara historis, jambu mete telah lama menjadi bagian dari pengembangan perkebunan di Indonesia, terutama di wilayah timur. Data FAO mencatat luas areal jambu mete Indonesia meningkat dari sekitar 58.000 hektare dengan produksi 9.000 ton pada 1975 menjadi sekitar 466.000 hektare dengan produksi 78.000 ton pada 1996. Namun, peningkatan luas areal ketika itu belum sepenuhnya diikuti produktivitas karena persoalan bahan tanam, pengelolaan kebun, hama, dan penyakit.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa tantangan produktivitas bukan persoalan baru. Dalam pengembangan jambu mete Indonesia, lebih dari 90 persen produksi pada periode tersebut berada di tangan petani kecil. Sulawesi Tenggara juga tercatat sebagai salah satu sentra utama, dengan kontribusi sekitar 46 persen dari areal produksi jambu mete Indonesia pada 1996.

Di tingkat global, jambu mete yang berasal dari kawasan Amerika Selatan dan Tengah kini telah menyebar luas ke kawasan tropis Asia dan Afrika. Komoditas ini memiliki tiga potensi produk utama, yakni kacang, buah semu, dan cairan kulit biji atau Cashew Nut Shell Liquid (CNSL). CNSL memiliki berbagai pemanfaatan industri, antara lain untuk bahan pelapis, plastik, bahan kimia, dan komponen industri lainnya.

Karena itu, peluang hilirisasi di Baubau tidak berhenti pada pengolahan kacang mete. Pemanfaatan CNSL dan produk turunan lainnya dapat menjadi jalan untuk menciptakan rantai nilai baru di daerah. Tantangannya adalah membangun sistem pengolahan yang mampu menghubungkan produksi petani, industri lokal, pasar, dan teknologi secara berkelanjutan.

baca juga:

  1. KONTEMPLASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DENGAN DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA DENGAN …
  2. Baubau Dilirik Cornhouse, Pabrik Pengolahan Mete 30 Ribu Ton Disiapkan

“Yang penting bagaimana menciptakan sistem yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar kepada petani dan pelaku usaha lokal melalui pengolahan di daerah,” kata Sulkandi. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda bersama pemerintah untuk mendorong hilirisasi komoditas strategis perkebunan sekaligus memperkuat posisi jambu mete sebagai komoditas bernilai ekonomi.(*)

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *