Bupati Busel H Muh Adios Ungkap Nilai Utang Budi Pada Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dalam Bakti Sosial Terpadu Lewat Pantun, Ratusan Warga Terima Bantuan PanganBupati Busel H Muh Adios Ungkap Nilai Utang Budi Pada Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dalam Bakti Sosial Terpadu Lewat Pantun, Ratusan Warga Terima Bantuan Pangan

BUTON SELATAN, BP – Suasana haru dan penuh rasa syukur mewarnai kegiatan bakti sosial terpadu yang digelar di Rujab Bupati Kabupaten Buton Selatan. Bupati Buton Selatan H Muhammad Adios S.Sos MBA menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dan para mitra yang telah menunjukkan kepedulian nyata kepada masyarakat. “Bupati Busel H Muh Adios Ungkap Nilai Utang Budi Pada Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dalam Bakti Sosial Terpadu Lewat Pantun, Ratusan Warga Terima Bantuan Pangan,”

Bupati Busel H Muh Adios Ungkap Nilai Utang Budi Pada Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dalam Bakti Sosial Terpadu Lewat Pantun, Ratusan Warga Terima Bantuan Pangan
Bupati Busel H Muh Adios Ungkap Nilai Utang Budi Pada Yayasan Sahabat Muadz Indonesia dalam Bakti Sosial Terpadu Lewat Pantun, Ratusan Warga Terima Bantuan Pangan

Dalam sambutannya, Bupati mengaku terharu dan sulit mengungkapkan perasaan bahagianya dengan kata-kata. Ia bahkan menyampaikan ungkapan tersebut melalui pantun sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada rombongan bakti sosial.

Berikut pantun yang disampaikan Bupati Buton Selatan H Muh Adios

“Rumah Batu Jendela Kaca
Tempat Tinggal si Nabi Musa
Peduli Apa Orang Berkata
Bakti Sosial Terpadu Luar Biasa”

Ratausan masyarakat yang memadati Rujab Bupati Buton Selatan menyambut pantun itu dengan tepuk tangan meriah.

Bupati H Muh Adios secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Direktur Yayasan Sahabat Muadz Indonesia, Ustadz Zezen Zainal Mursalin LC.M.Pd, atas kontribusi yang dinilai sangat besar bagi masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada pimpinan PT Sabina Samudera Shipping beserta rombongan yang turut berpartisipasi. Menurutnya, kontribusi tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk pengabdian tulus untuk kepentingan masyarakat luas, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara.

16 2

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyinggung nilai “hutang budi” yang menurutnya tidak dapat terbalaskan dengan materi. Ia kembali menyampaikan pantun yang sarat makna: “Hutang emas dapat dibayar, tapi hutang budi dibawa mati.”

Berikut Petikan pantun yang diucapkan Bupati Busel H Muh Adios

“Pisang Emas Dibawah Berlayar
Masak Sebiji di Dalam Peti
Utang Emas Itu Dapat Kita Bayar
Tapi Utang Budi Itu Dibawa Mati”

“Saya berutang budi,” kata Bupati Busel H Muh. Adios, singkat.

Lebih lanjut, ia berbagi kisah pribadi tentang keluarga dan perjalanan hidup, termasuk anaknya yang telah lama bekerja di luar negeri. Hal tersebut menjadi refleksi bahwa kesuksesan tidak lepas dari nilai kerja keras dan niat tulus karena Allah.

Di akhir sambutannya, Bupati memberikan pesan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan dan menjadikan jabatan sebagai sarana berbuat kebaikan.

“Jabatan adalah modal untuk menuju akhirat. Berbuatlah yang terbaik karena kita tidak tahu kapan ajal datang,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan keluarga serta memperlakukan sesama dengan kelembutan, termasuk dalam kepemimpinan. Pada kesempatan itu, Bupati Busel H Muh Adios membagikan bantuan sosial berupa sembako kepada ratusan warga Buton Selatan

baca juga:

  1. Pelatihan Imam dan Da’i Oleh Pemda Buton Selatan Bersama Yayasan Muadz Kendari Dinilai
  2. SDN 1 Masiri Buton Selatan Andalkan Chromebook dan Full Internet, 53 Siswa Ikuti Ujian TKA Dibagi Tiga Sesi

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, pemerintah daerah berharap dapat terus memperkuat jaringan kolaborasi serta mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat dalam kegiatan sosial demi kesejahteraan masyarakat Buton Selatan.

Kegiatan bakti sosial terpadu ini sekaligus menjadi simbol bahwa kepedulian sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat dalam semangat kebersamaan.(*)

baca berita lainnya:

BUTON SELATAN, BAUBAUPOST.COM – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Buton Selatan tetap berupaya menghidupkan kembali aktivitas pasar rakyat sebagai pusat ekonomi masyarakat. Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi fasilitas, distribusi pedagang, hingga penguatan pengelolaan pasar yang selama ini belum berjalan maksimal. “Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi,”

Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi
Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi

Upaya tersebut difokuskan pada sejumlah pasar yang mengalami penurunan aktivitas, bahkan tidak lagi beroperasi, seperti di wilayah Lapandewa, Siompu, dan Siompu Barat. Pasar-pasar tersebut sebelumnya sempat aktif, namun kini sepi akibat minimnya pedagang dan pembeli serta keterbatasan akses pendukung.

Kepala Disperindag Buton Selatan, La Ode Safi, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan untuk memetakan persoalan yang dihadapi di masing-masing pasar. “Kami sudah turun langsung ke lapangan dan akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar pasar-pasar ini bisa kembali aktif,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

dummy

Selain pasar yang tidak aktif, persoalan lain yang mencuat adalah banyaknya kios yang belum dimanfaatkan oleh pedagang. Kondisi ini terjadi di beberapa pasar rakyat yang dikelola pemerintah daerah, seperti di pasar yang ada di Bandar Batauga.

Menurut La Ode Safi, sebagian kios belum digunakan karena kondisi fasilitas yang belum memadai. Kerusakan bangunan, jaringan listrik yang belum berfungsi optimal, serta pasokan air bersih yang tidak lancar menjadi kendala utama.

“Sebagian kios sebenarnya sudah ada jaringan listrik, tetapi belum berfungsi maksimal. Air bersih juga belum lancar, sehingga pedagang belum merasa nyaman,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya akan segera memanggil pemilik kios untuk membahas pemanfaatan lapak yang masih kosong. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas jual beli kembali berjalan.

Distribusi pedagang yang tidak merata juga menjadi tantangan tersendiri. Kios yang berada di bagian depan pasar cenderung terisi, sementara bagian belakang masih kosong.

“Kebiasaan masyarakat yang lebih memilih berbelanja di pinggiran pasar membuat kios di dalam kurang diminati,” ungkapnya.

Dari sisi aktivitas, pasar di Buton Selatan umumnya beru beroperasi pada hari tertentu, yakni Rabu, Jumat, dan Minggu, dengan puncak keramaian terjadi pada hari Minggu. Pada hari tersebut, lanjutnya, pedagang dari luar daerah turut meramaikan pasar dengan berbagai komoditas.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pendukung juga masih dirasakan pedagang. Di Pasar Rakyat Sampolawa, misalnya, pedagang ikan dan sayur belum memiliki tempat permanen dan masih berjualan secara swadaya.

Tidak hanya itu, kekurangan tenaga operasional seperti petugas kebersihan, keamanan, dan mandor pasar turut memengaruhi kualitas pengelolaan pasar. Minimnya anggaran membuat kebutuhan tersebut belum dapat terpenuhi secara optimal.

Meski demikian, Disperindag tetap berupaya menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban pasar dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. “Kami tetap berusaha agar pelayanan berjalan, termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan pasar,” ujar La Ode Safi.

Dalam konteks yang lebih luas, revitalisasi pasar rakyat merupakan bagian penting dari strategi penguatan ekonomi lokal. Secara historis, pasar tradisional di Indonesia telah menjadi tulang punggung distribusi barang sejak era kerajaan hingga masa kolonial, sebelum berkembangnya pasar modern pada akhir abad ke-20.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa pasar rakyat masih menyumbang lebih dari 60 persen distribusi kebutuhan pokok nasional, meskipun menghadapi tekanan dari ritel modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Secara global, tren revitalisasi pasar tradisional juga terjadi di berbagai negara berkembang. Organisasi seperti UN-Habitat mencatat bahwa penguatan pasar lokal menjadi salah satu strategi untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat kecil dan menengah, terutama pascapandemi COVID-19.

baca juga:

  1. Hasil Panen 2,68 Ton/Ha, Sampolawa Optimistis Tingkatkan Produksi dan Perkuat Ketahanan
  2. Dorong Ekonomi Pesisir, KKP Tinjau Lima Desa di Buton Selatan Masuk Kajian Kampung Nelayan Nasional

 

Sejalan dengan itu, Disperindag Buton Selatan juga terus melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok secara rutin sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pemerintah daerah berharap pasar rakyat tetap dapat berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Optimalisasi pasar dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal di tengah tantangan fiskal yang dihadapi saat ini.(*)

Visited 36 times, 36 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *