BUTON SELATAN, BAUBAUPOST.COM – Upaya memperkuat kualitas dakwah dan kepemimpinan keagamaan di tingkat akar rumput terus digalakkan di Buton Selatan melalui pelatihan imam masjid dan da’i yang diselenggarakan pemerintah daerah bersama Yayasan Muadz Kendari. Program ini mendapat apresiasi dari Kementerian Agama Buton Selatan karena dinilai strategis dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan figur imam dan da’i yang kompeten. “Pelatihan Imam dan Da’i Oleh Pemda Buton Selatan Bersama Yayasan Muadz Kendari Dinilai Strategis bagi Masa Depan, Kemenag Busel Dorong Regenerasi Imam Muda,”

Pelatihan Imam dan Da'i Oleh Pemda Buton Selatan Bersama Yayasan Muadz Kendari Dinilai Strategis bagi Masa Depan, Kemenag Busel Dorong Regenerasi Imam Muda
Pelatihan Imam dan Da’i Oleh Pemda Buton Selatan Bersama Yayasan Muadz Kendari Dinilai Strategis bagi Masa Depan, Kemenag Busel Dorong Regenerasi Imam Muda

 

Kepala Kementrian Agama Buton Selatan Khalifah SPd MPd melalui Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Buton Selatan Muhammad Ilham Ibnu Wahid,S.Si menegaskan pentingnya kaderisasi dalam menjaga keberlanjutan peran imam di masa depan. Ia menilai regenerasi menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.

“Kita memang masih menghadapi keterbatasan dalam regenerasi imam. Idealnya, generasi muda juga ikut ambil bagian dalam pelatihan ini,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, sebagian besar peserta diketahui berasal dari kalangan usia lanjut. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan regenerasi yang perlu ditangani melalui program pembinaan yang lebih terarah.

Menurut Ilham, salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuat segmentasi pelatihan, termasuk program khusus pengkaderan calon imam muda. Langkah ini dinilai penting agar tidak terjadi kekosongan imam di tengah masyarakat di masa mendatang.

“Pembinaan tidak cukup dilakukan satu kali, tetapi harus berkesinambungan agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” katanya menegaskan.

Selain aspek regenerasi, pelatihan da’i juga menjadi fokus utama dalam kegiatan tersebut. Kemenag menilai kualitas dakwah sangat dipengaruhi oleh kemampuan metode penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat.

“Dakwah tidak hanya soal materi, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan pesan agar mudah dipahami dan diterima,” ujar Ilham.

Sementara itu, pelatihan imam masjid tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga aspek kepemimpinan dan pembinaan umat. Imam diharapkan mampu menjadi rujukan keagamaan sekaligus penggerak sosial di lingkungan masing-masing.

Salah satu keunggulan pelatihan ini adalah penerapan metode pembelajaran bacaan Al-Fatihah dengan sanad yang bersambung. Pendekatan ini dianggap penting karena Al-Fatihah merupakan rukun dalam salat yang menentukan keabsahan ibadah.

“Pelatihan ini spesial karena bacaan Al-Fatihah diajarkan dengan sanad yang jelas dan bersambung,” katanya.

Secara umum, pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons positif dari peserta. Testimoni yang diterima menunjukkan adanya peningkatan kapasitas, baik dalam pemahaman keagamaan maupun teknik berdakwah.

Kemenag Buton Selatan juga mendorong keterlibatan lebih luas dari berbagai lembaga keagamaan untuk memperluas jangkauan program pembinaan di seluruh wilayah kabupaten.

Dalam konteks historis, pembinaan imam dan dai di Indonesia telah menjadi bagian penting dari pembangunan keagamaan sejak era awal kemerdekaan. Kementerian Agama yang dibentuk pada 1946 memiliki mandat untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama, termasuk melalui pendidikan dan pelatihan tokoh agama.

Di tingkat global, tradisi pengkaderan ulama dan imam telah berlangsung sejak berabad-abad lalu, terutama di pusat-pusat peradaban Islam seperti Kairo dan Mekkah, di mana sistem sanad menjadi fondasi dalam menjaga otoritas keilmuan dan keabsahan ajaran.

Mengacu pada praktik tersebut, pelatihan imam berbasis sanad yang diterapkan di Buton Selatan dinilai sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang telah mengakar kuat secara internasional.

baca juga:

  1. Kolaborasi Pemkab Buton Selatan dan SMI Hadirkan Layanan Sosial Terpadu, Sasar Kesehatan Gratis
  2. Dibawah Komando Hj Siti Norma Adios, PMI Buton Selatan Aktif Kembali Gelar Donor Darah Besar Libatkan TNI, Polri, dan Masyarakat

Kemenag berharap para peserta pelatihan dapat menjadi agen perubahan dengan menularkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat luas.

“Harapannya, peserta yang sudah dilatih bisa menjadi pelatih bagi yang lain di wilayahnya masing-masing,” tutup Ilham.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penguatan ekosistem keagamaan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan zaman.(*)

baca berita lainnya:

BUTON SELATAN, BAUBAUPOST.COM – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Buton Selatan tetap berupaya menghidupkan kembali aktivitas pasar rakyat sebagai pusat ekonomi masyarakat. Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi fasilitas, distribusi pedagang, hingga penguatan pengelolaan pasar yang selama ini belum berjalan maksimal. “Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi,”

Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi
Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi

Upaya tersebut difokuskan pada sejumlah pasar yang mengalami penurunan aktivitas, bahkan tidak lagi beroperasi, seperti di wilayah Lapandewa, Siompu, dan Siompu Barat. Pasar-pasar tersebut sebelumnya sempat aktif, namun kini sepi akibat minimnya pedagang dan pembeli serta keterbatasan akses pendukung.

Kepala Disperindag Buton Selatan, La Ode Safi, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan untuk memetakan persoalan yang dihadapi di masing-masing pasar. “Kami sudah turun langsung ke lapangan dan akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar pasar-pasar ini bisa kembali aktif,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

dummy

Selain pasar yang tidak aktif, persoalan lain yang mencuat adalah banyaknya kios yang belum dimanfaatkan oleh pedagang. Kondisi ini terjadi di beberapa pasar rakyat yang dikelola pemerintah daerah, seperti di pasar yang ada di Bandar Batauga.

Menurut La Ode Safi, sebagian kios belum digunakan karena kondisi fasilitas yang belum memadai. Kerusakan bangunan, jaringan listrik yang belum berfungsi optimal, serta pasokan air bersih yang tidak lancar menjadi kendala utama.

“Sebagian kios sebenarnya sudah ada jaringan listrik, tetapi belum berfungsi maksimal. Air bersih juga belum lancar, sehingga pedagang belum merasa nyaman,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya akan segera memanggil pemilik kios untuk membahas pemanfaatan lapak yang masih kosong. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas jual beli kembali berjalan.

Distribusi pedagang yang tidak merata juga menjadi tantangan tersendiri. Kios yang berada di bagian depan pasar cenderung terisi, sementara bagian belakang masih kosong.

“Kebiasaan masyarakat yang lebih memilih berbelanja di pinggiran pasar membuat kios di dalam kurang diminati,” ungkapnya.

Dari sisi aktivitas, pasar di Buton Selatan umumnya beru beroperasi pada hari tertentu, yakni Rabu, Jumat, dan Minggu, dengan puncak keramaian terjadi pada hari Minggu. Pada hari tersebut, lanjutnya, pedagang dari luar daerah turut meramaikan pasar dengan berbagai komoditas.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pendukung juga masih dirasakan pedagang. Di Pasar Rakyat Sampolawa, misalnya, pedagang ikan dan sayur belum memiliki tempat permanen dan masih berjualan secara swadaya.

Tidak hanya itu, kekurangan tenaga operasional seperti petugas kebersihan, keamanan, dan mandor pasar turut memengaruhi kualitas pengelolaan pasar. Minimnya anggaran membuat kebutuhan tersebut belum dapat terpenuhi secara optimal.

Meski demikian, Disperindag tetap berupaya menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban pasar dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. “Kami tetap berusaha agar pelayanan berjalan, termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan pasar,” ujar La Ode Safi.

Dalam konteks yang lebih luas, revitalisasi pasar rakyat merupakan bagian penting dari strategi penguatan ekonomi lokal. Secara historis, pasar tradisional di Indonesia telah menjadi tulang punggung distribusi barang sejak era kerajaan hingga masa kolonial, sebelum berkembangnya pasar modern pada akhir abad ke-20.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa pasar rakyat masih menyumbang lebih dari 60 persen distribusi kebutuhan pokok nasional, meskipun menghadapi tekanan dari ritel modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Secara global, tren revitalisasi pasar tradisional juga terjadi di berbagai negara berkembang. Organisasi seperti UN-Habitat mencatat bahwa penguatan pasar lokal menjadi salah satu strategi untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat kecil dan menengah, terutama pascapandemi COVID-19.

baca juga:

  1. Hasil Panen 2,68 Ton/Ha, Sampolawa Optimistis Tingkatkan Produksi dan Perkuat Ketahanan
  2. Dorong Ekonomi Pesisir, KKP Tinjau Lima Desa di Buton Selatan Masuk Kajian Kampung Nelayan Nasional

 

Sejalan dengan itu, Disperindag Buton Selatan juga terus melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok secara rutin sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pemerintah daerah berharap pasar rakyat tetap dapat berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Optimalisasi pasar dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal di tengah tantangan fiskal yang dihadapi saat ini.(*)

Visited 71 times, 62 visit(s) today
One thought on “Pelatihan Imam dan Da’i Oleh Pemda Buton Selatan Bersama Yayasan Muadz Kendari Dinilai Strategis bagi Masa Depan, Kemenag Busel Dorong Regenerasi Imam Muda”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *