BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Baubau memastikan pelayanan pembuatan paspor tetap berjalan normal meskipun terjadi peningkatan permohonan selama semester pertama 2026. Lonjakan tersebut dipicu tingginya kebutuhan dokumen perjalanan bagi calon jemaah haji dan umrah, di samping meningkatnya perjalanan wisata dan bisnis masyarakat ke luar negeri. “Imigrasi Baubau Optimalkan Layanan Saat Musim Haji Picu Kenaikan Paspor tetap Lakukan Jemput Bola,”

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Baubau Muhammad Bakri, S.H., M.Si., melalui Kepala Seksi Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal, Febrian Noor, mengatakan seluruh layanan tetap dibuka setiap hari kerja melalui aplikasi M-Paspor maupun pelayanan langsung (walk-in). “Pelayanan paspor berjalan seperti biasa. Masyarakat dapat mengajukan permohonan melalui aplikasi M-Paspor maupun datang langsung ke kantor sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Febrian, Senin (27/7).
Selain membuka layanan reguler di kantor, Imigrasi Baubau juga memperluas jangkauan pelayanan melalui program jemput bola di sejumlah daerah dalam wilayah kerjanya. Salah satu kegiatan dilakukan dengan mendatangi Kabupaten Buton Tengah untuk melaksanakan perekaman data biometrik calon jemaah haji secara bertahap. “Karena sedang musim haji, kami melakukan perekaman data secara bertahap. Ada yang kami datangi langsung ke kabupaten, ada juga masyarakat yang datang ke kantor imigrasi,” katanya.
Peningkatan permohonan paspor tidak hanya berasal dari calon jemaah haji dan umrah. Berdasarkan hasil wawancara petugas dengan para pemohon, sebagian besar masyarakat juga mengajukan paspor untuk perjalanan wisata dan bisnis ke luar negeri. Malaysia, Singapura, dan Thailand menjadi negara tujuan yang paling banyak dipilih setelah Arab Saudi, sementara Jepang mulai menunjukkan peningkatan sebagai destinasi perjalanan masyarakat.
“Tujuan terbanyak masih Malaysia, Singapura, dan Thailand. Mayoritas untuk keperluan wisata,” ujar Febrian. Menurutnya, tren tersebut mencerminkan mulai pulihnya mobilitas masyarakat Indonesia ke luar negeri setelah beberapa tahun sebelumnya sempat melambat akibat pandemi Covid-19.
Untuk memperoleh paspor baru, masyarakat diwajibkan melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), serta akta kelahiran. Apabila akta kelahiran tidak tersedia, persyaratan dapat diganti dengan buku nikah atau ijazah yang memuat identitas lengkap, termasuk nama orang tua serta tempat dan tanggal lahir. Setelah dokumen diverifikasi, pemohon akan menjalani pemeriksaan berkas, perekaman biometrik, dan wawancara sebelum paspor diterbitkan dalam waktu empat hari kerja.
Febrian mengimbau masyarakat mempersiapkan seluruh dokumen sebelum mengajukan permohonan agar proses pelayanan berlangsung lebih cepat. “Kami mengimbau masyarakat memastikan seluruh persyaratan telah lengkap sehingga proses penerbitan paspor dapat berjalan lancar tanpa harus bolak-balik melengkapi berkas,” ujarnya.
baca juga:
- Dana Abadi Pendidikan Rp195,8 Triliun, LPDP Perluas Akses Beasiswa, UM Buton Gelar Seminar
- LPDP Buka Beasiswa Tahap II 2026, Baubau Jadi Pusat Sosialisasi di Sultra, Dana Abadi Pendidikan Rp195,8 Triliun
Secara historis, permintaan paspor di Indonesia hampir setiap tahun mengalami peningkatan menjelang musim haji dan libur panjang. Direktorat Jenderal Imigrasi juga secara rutin melakukan penyesuaian kapasitas pelayanan di berbagai daerah untuk mengantisipasi lonjakan permohonan. Di tingkat global, Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) mencatat mobilitas wisata internasional terus pulih pascapandemi, sehingga kebutuhan dokumen perjalanan, termasuk paspor, kembali meningkat di banyak negara. Kondisi tersebut turut tercermin pada tren pelayanan di Kantor Imigrasi Baubau yang kini tidak hanya didominasi kebutuhan ibadah, tetapi juga perjalanan wisata dan bisnis masyarakat.(*)
baca berita lainnya:
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Pemerintah Kota Baubau melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Baubau terus memperluas program pendidikan kebencanaan dengan menggelar Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kesiapsiagaan Bencana bagi 100 siswa SMP Negeri 7 Baubau, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sekolah yang siaga sekaligus memperkuat budaya mitigasi bencana sejak usia dini. “Gandeng BMKG dan PMI, Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Kebencanaan Bagi Siswa SMP Negeri 7 Baubau, Pelajar Menjadi Agen Edukasi Kebencanaan,”

Sosialisasi yang dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Kota Baubau, Dr. Mohamad Tasdik, M.Si., mewakili Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, S.E., menghadirkan narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Palang Merah Indonesia (PMI). Para peserta memperoleh materi mengenai potensi bencana, langkah mitigasi, kesiapsiagaan, hingga tindakan penyelamatan diri saat terjadi keadaan darurat.
Dalam sambutannya, Tasdik menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat menghadapi bencana tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi harus dimulai melalui pendidikan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. “Sosialisasi KIE kebencanaan bagi siswa SMP ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya membangun sekolah-sekolah yang siaga dan tangguh bencana di Kota Baubau,” ujarnya.
Menurutnya, BPBD Kota Baubau terus mengembangkan sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi, mulai dari tahap prabencana, tanggap darurat hingga pascabencana. Sistem tersebut dibangun melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Tasdik juga mengingatkan para siswa agar tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Ikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, pahami materi dari para narasumber, jangan ragu bertanya, dan praktikkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah maupun di rumah,” pesannya. Ia menambahkan, “Kalian adalah bagian penting dari upaya bersama membangun Kota Baubau yang tangguh bencana.”
Program tersebut merupakan implementasi kerangka operasional SIGAP yang dikembangkan BPBD Kota Baubau. Melalui program ini, pelajar diposisikan sebagai agen penyebar informasi kebencanaan sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat terhadap pentingnya mitigasi risiko bencana.

Secara historis, pendidikan kebencanaan semakin mendapat perhatian dunia setelah Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana di Kobe, Jepang, pada 2005 melahirkan Hyogo Framework for Action 2005–2015, yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu strategi utama pengurangan risiko bencana. Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang mendorong setiap negara membangun masyarakat tangguh melalui peningkatan literasi kebencanaan, khususnya di lingkungan pendidikan. Di Indonesia, penguatan edukasi kebencanaan juga menjadi bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat sebagai salah satu pilar utama pengurangan risiko bencana.
baca juga:
- Kabhanti Dinilai Efektif Perkuat Budaya Demokrasi dan Pengawasan Pemilu di Buton …
- SMA Negeri 1 Baubau Terima 432 Siswa Baru Pertahankan 12 Rombel, SPMB Berjalan Transparan Tanpa Intervensi
Kegiatan di SMP Negeri 7 Baubau turut dihadiri unsur BPBD Kota Baubau, jajaran BMKG dan PMI sebagai narasumber, serta kepala sekolah bersama dewan guru. Pemerintah Kota Baubau menyatakan akan terus memperluas jangkauan program edukasi kebencanaan ke seluruh satuan pendidikan sebagai langkah mewujudkan Baubau sebagai kota tangguh bencana (resilient city) sekaligus memperkuat budaya kesiapsiagaan masyarakat sejak usia sekolah.(*)



