BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Meningkatnya permintaan pasar internasional, terutama dari Amerika Serikat, mendorong pertumbuhan ekspor komoditas perikanan asal Pulau Buton. Kondisi tersebut tidak hanya memperkuat posisi tuna sebagai komoditas unggulan ekspor dari Kota Baubau dan wilayah Kepulauan Buton, tetapi juga meningkatkan harga jual hasil tangkapan nelayan serta membuka peluang pengembangan industri perikanan daerah. “Permintaan AS Melonjak, Tuna Pulau Buton Perkuat Ekspor Perikanan,”

Pimpinan CV Buton Indo Tuna, Hedyanto, mengatakan sekitar 80 persen produk perikanan yang diekspor perusahaannya dipasarkan ke Amerika Serikat melalui jalur distribusi Jakarta sebelum diberangkatkan ke negara tujuan. Sementara sisanya dipasarkan ke sejumlah negara lain, termasuk Jepang. Seluruh produksi dilakukan menggunakan sistem by order atau berdasarkan permintaan pembeli dari luar negeri sehingga volume produksi menyesuaikan kebutuhan pasar.
“Produk unggulan kami tetap tuna. Namun sekarang permintaan untuk jenis ikan lain juga semakin tinggi sehingga kami mulai meningkatkan produksinya,” kata Hedyanto saat ditemui di Baubau, Kamis (23/7).
Selain tuna, perusahaan kini mengembangkan ekspor berbagai komoditas lain seperti tenggiri, lemadang, julung-julung, ikan jenggot, tiko-tiko, waho, dan gurita. Tahun lalu, pembeli dari luar negeri menetapkan target pengiriman minimal satu kontainer tuna setiap bulan dengan kapasitas sekitar 15 hingga 17 ton. Di luar itu, perusahaan juga mengirim satu kontainer campuran berisi berbagai jenis ikan sesuai kebutuhan pasar internasional.
Pasokan bahan baku sebagian besar berasal dari nelayan Pulau Buton yang beroperasi di Pasarwajo, Siompu, Lasalimu, hingga wilayah perairan lainnya. Sementara nelayan Kota Baubau lebih banyak memasok tenggiri, waho, gurita, dan hasil tangkapan lain dari kawasan pesisir, termasuk Kelurahan Sulaa yang selama ini dikenal sebagai sentra nelayan gurita. Menurut Hedyanto, perbedaan jenis tangkapan dipengaruhi oleh fasilitas, alat tangkap, kemampuan nelayan, dan karakteristik perairan tempat mereka melaut. “Kemungkinan yang membedakan adalah fasilitas dan alat tangkap yang dimiliki nelayan, termasuk keterampilan mereka dalam menangkap jenis ikan tertentu,” ujarnya.
Lonjakan permintaan ekspor turut mendongkrak harga ikan di tingkat nelayan. Tuna kini dibeli sekitar Rp70 ribu per kilogram, waho sekitar Rp35 ribu per kilogram, sedangkan gurita berukuran di atas dua kilogram mencapai Rp80 ribu per kilogram. Gurita berukuran lebih kecil dihargai antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Adapun lemadang berukuran di atas empat kilogram dibeli sekitar Rp30 ribu per kilogram, sedangkan ukuran sekitar dua kilogram berkisar Rp20 ribu per kilogram. “Dulu harga lemadang hanya sekitar Rp7.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Setelah ada permintaan ekspor, sekarang bisa mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram,” ungkap Hedyanto.
Perusahaan menerapkan sistem pembayaran tunai kepada nelayan setelah hasil tangkapan diterima dan ditimbang. Pada musim paceklik, volume pembelian berkisar 3–5 ton per bulan, sedangkan ketika musim ikan mencapai puncaknya meningkat menjadi 10–20 ton per bulan. Musim penangkapan di wilayah Kepulauan Buton umumnya berlangsung pada Agustus hingga Januari dan kembali terjadi pada Maret hingga Juni. Daerah penangkapan utama meliputi perairan Batu Atas, Lasalimu, hingga Kabaena yang dikenal sebagai kawasan potensial penghasil tuna, lemadang, dan berbagai ikan pelagis. “Kami membayar hasil tangkapan nelayan secara tunai setelah diterima dan ditimbang sehingga perputaran ekonomi masyarakat pesisir dapat berlangsung lebih cepat,” kata Hedyanto.
Secara historis, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tuna terbesar di dunia dengan wilayah penangkapan yang membentang di Samudra Hindia, Laut Banda, Laut Maluku, hingga Samudra Pasifik. Selama dua dekade terakhir, komoditas tuna menjadi penyumbang utama devisa sektor perikanan nasional. Amerika Serikat dan Jepang secara konsisten tercatat sebagai dua pasar ekspor terbesar bagi produk tuna Indonesia karena tingginya kebutuhan industri pengolahan dan konsumsi makanan laut di kedua negara. Di tingkat regional, perairan Sulawesi Tenggara, termasuk Kepulauan Buton, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi.
baca juga:
- Gandeng BMKG dan PMI, Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Komunikasi, …
- Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Kesiapsiagaan Bencana Bagi 100 Siswa SMPN 7 Baubau, Juga Libatkan BMKG dan PMI, Tingkatkan Literasi Kebencanaan Pelajar
Meningkatnya permintaan pasar global menjadi momentum bagi sektor perikanan Baubau dan Kepulauan Buton untuk memperkuat daya saing ekspor. Selain meningkatkan nilai perdagangan daerah, tren tersebut diharapkan mendorong investasi pada industri pengolahan hasil perikanan, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui harga jual yang lebih kompetitif di pasar internasional.(*)
baca berita lainnya:
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Baubau segera meluncurkan Program PASPORIA sebagai inovasi pelayanan Direktorat Jenderal Imigrasi untuk mendekatkan layanan keimigrasian kepada masyarakat. Program bertajuk “Imigrasi untuk Rakyat” itu dijadwalkan mulai dilaksanakan pada akhir bulan ini dengan menghadirkan pelayanan paspor di pusat-pusat keramaian pada hari libur, sehingga masyarakat yang tidak memiliki waktu pada hari kerja tetap dapat memperoleh pelayanan. “Imigrasi Baubau Luncurkan PASPORIA, Layanan Paspor Hadir di Hari Libur dan Pusat Keramaian,”

Pelaksanaan perdana PASPORIA direncanakan berlangsung pada Minggu pagi di salah satu lokasi keramaian di Kota Baubau. Program tersebut akan diawali sebagai pilot project sebelum dievaluasi untuk mengukur efektivitas pelayanan, tingkat partisipasi masyarakat, serta peluang pengembangannya ke kabupaten lain yang berada dalam wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Baubau.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Baubau Muhammad Bakri, S.H., M.Si., melalui Kepala Seksi Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal, Febrian Noor, Senin (27/7), mengatakan PASPORIA merupakan terobosan Direktorat Jenderal Imigrasi yang bertujuan memperluas akses pelayanan keimigrasian sekaligus memberikan kemudahan kepada masyarakat.
“PASPORIA merupakan program dari Direktorat Jenderal Imigrasi dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat. Program ini ditujukan bagi masyarakat yang pada hari kerja tidak sempat mengurus paspor karena bekerja atau memiliki aktivitas lain, sehingga dapat memanfaatkan layanan pada hari libur,” ujar Febrian.
Selain melayani permohonan paspor, petugas juga akan memberikan edukasi mengenai berbagai layanan keimigrasian. Informasi yang disampaikan mencakup pelayanan bagi warga negara asing, Visa on Arrival (VOA), perpanjangan Izin Tinggal Kunjungan (ITK), hingga Izin Tinggal Terbatas (KITAS). Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pelayanan administrasi, tetapi juga pemahaman mengenai berbagai regulasi keimigrasian.
“Kegiatan ini tidak hanya pelayanan paspor, tetapi juga memberikan informasi dan edukasi mengenai berbagai layanan keimigrasian,” kata Febrian.
Menurutnya, apabila hasil evaluasi menunjukkan respons masyarakat yang positif, PASPORIA berpeluang menjadi program berkelanjutan dan diperluas hingga menjangkau daerah-daerah di luar Kota Baubau. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemerataan pelayanan publik, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari kantor imigrasi.
“Apabila hasil evaluasi menunjukkan respons yang baik, bukan tidak mungkin program ini akan kembali dilaksanakan, bahkan diperluas hingga menjangkau kabupaten lain di wilayah kerja Kantor Imigrasi Baubau,” jelasnya.
Terkait mekanisme pelayanan, Febrian menegaskan bahwa paspor tidak langsung diterbitkan di lokasi kegiatan. Petugas hanya melakukan pemeriksaan dokumen, wawancara, pengambilan foto, dan perekaman data biometrik. Setelah pemohon menyelesaikan pembayaran, paspor diterbitkan sesuai standar pelayanan, yakni paling lambat empat hari kerja.
“Kami tetap mengikuti standar pelayanan yang berlaku. Setelah proses wawancara, foto, dan pembayaran selesai, paspor dapat diambil dalam waktu empat hari kerja,” tutupnya.
baca juga:
- Gandeng BMKG dan PMI, Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Komunikasi, …
- Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Kesiapsiagaan Bencana Bagi 100 Siswa SMPN 7 Baubau, Juga Libatkan BMKG dan PMI, Tingkatkan Literasi Kebencanaan Pelajar
Secara historis, Direktorat Jenderal Imigrasi dalam beberapa tahun terakhir terus mengembangkan transformasi layanan berbasis digital dan pelayanan jemput bola guna meningkatkan kualitas pelayanan publik. Berbagai inovasi seperti M-Paspor, layanan Eazy Passport, hingga kini PASPORIA merupakan bagian dari reformasi birokrasi nasional yang menitikberatkan pelayanan yang lebih mudah, cepat, transparan, dan menjangkau masyarakat secara langsung. Tren serupa juga berkembang di berbagai negara, seperti Australia, Kanada, Singapura, dan Inggris, yang memperluas akses layanan keimigrasian melalui sistem digital, pelayanan bergerak (mobile immigration service), maupun pusat layanan terpadu untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.(*)



