Walikota Baubau AS Tamrin MH Walikota Baubau AS Tamrin MH

Laporan: Prasetio M

BAUBAU, BP-Bagi Walikota Baubau Dr H AS Tamrin, MH PO 5 yakni Pomaamasiaka yang artinya saling sayang menyayangi, Popiapiara artinya pelihara atau rawat, pengertiannya saling memelihara, saling merawat atau saling mengayomi, Pomaemaeaka, artinya rasa malu, maknanya saling menanggung rasa malu, jika melakukan perbuatan tercela yang malu bukan saja yang bersangkutan tapi seluruh keluarga, orang tua dan komunitas akan turut merasa malu, Poangka- angkataka, artinya saling mengangkat martabat, saling menghormati, saling menghargai, Pobinci-binci kuli, artinya saling mencubit kulit berlandaskan filsafat rasa, sudah merupakan harga mati untuk diterapkan dalam membangun Kota Baubau.

 Walikota Baubau AS Tamrin MH
Walikota Baubau AS Tamrin MH

Saat diwawancarai oleh stasiun TV swastadi Sultra secara live Selasa (19/1/2021) di Kendari pada acara bincang kita yang dipandu oleh Erwin Randalajuk, orang nomor satu di Kota Baubau ini mengakui, PO 5 sudah diterapkan sejak memasuki tahun kedua masa kepemimpinan sebagai Walikota Baubau hingga dengan sekarang ini. Sehingga, akibat menerapkan PO 5 dalam membangun Kota Baubau, beberapa penghargaan seperti WTP, Adipura, Wahana Tata Nugraha, Pangripta Nusantara Urama, Kota Peduli HAM, termaksud diangkat jadi warga Kasunanan Surakarta dan diberi gelar secara resmi dengan nama Kanjeng Raden Arya Tumenggung AS Tamrin Reksonegoro telah didapatkan oleh Pemkot Baubau.

Menurut AS Tamrin, PO 5 merupakan karya ilmiah dengan temuan konsep baru kepemimpinan dimana sebelumnya telah ada kepemimpinan strategis, visioner, demokratis dan yang lainnya.”Kepemimpinan PO 5 sudah saya pertanggungjawabkan secara ilmiah dihadapan 9 orang penguji yang bergelar Profesor dan 2 penguji bergelar doktor sehingga memang PO 5 secara ilmiah sudah diakui merupakan temuan baru untuk kossep pemerintahan di Indonesia sehingga sangat nyaman untuk dikembangkan karena selalu menciptakan kedamaian,”ujarnya. sebagaimana dirilis Kominfo Baubau

Walikota Baubau dua periode ini mengungkapkan, sesungguhnya PO 5 disadur dalam nilai-nilai budaya lokal sebagai warisan leluhur yakni Sara Pataanguna. Dalam konteks Sara Patanguna adalah ada 4 norma yang menjadi pegangan dalam berinteraksi. Kemudian, sejak tahun 2016 lalu PO 5 sudah digaungkan dikarenakan hidup dalam dunia yang kompleks dan telah banyak terlihat di sekitar telah banyak bias mental. Bahkan, di pemerintahan ada korupsi, nepotisme, penyalahgunaan wewenang, sementara di masyarakat ada bentrok antar kampung, di mahasiswa ada bentrok antar fakultas, di rumah tangga ada KDRT sehingga hal ini sangat memprihatinkan.

Padahal,, sesungguhnya leluhur meninggalkan berbagai pesan-pesan mulia untuk hidup damai rukun di dunia ini. Oleh sebab itu, melihat kondisi ini pihaknya sangat prihatin, sehingga jauh-jauh hari sebelum maju di Pilwali Baubau mulai menggaungkan PO 5 dengan mencetak baju Sadar Polima. Alasan membuat baju sadar PO 5, karena memang materi PO 5 itu sudah ada sejak dari dulu leluhur meninggalkan warisan tapi sudah terlupa dikarenakan terlena dengan kemajuan sehingga moral sudah terkontaminasi dengan budaya luar. “Setelah jadi Walikota, muncul pula program Presiden Jokowi yang melakukan revolusi mental sehingga sangat konek dengan PO 5. Dan salah satu instrumen untuk melakukan sebagai spirit untuk merubah mental ini harus ada, Kalau secara nasional ada pancasila yang memandu dan menaungi dan didaerah ada juga yang menaungi yang melekat kental dengan masyarakat sehingga masyarakat kalau diingatkan mengenai nilai itu akan lebih pas sehingga saya ingat di Buton ada nilai-nilai yakni PO 5,”ungkap AS Tamrin.

baca juga: Musim Penghujan, Kelurahan Lakologou Himbau Masyarakat Untuk Waspada Terhadap Luapan Sungai

AS Tamrin menyakini, PO 5 selain itu sudah ada dari dulu nilai namun perlu penyadaran kembali sebab bila ini diterapkan dan dimplementasikan kepada seluruh masyarakat akan tercipta kedamaian. Sebab PO 5 merupakan perpaduan nilai lokal dan nasional serta perpaduan nilai agama dan budaya. Apalagi, ada salah satu hadist yang shahih yang artinya tidaklah beriman seseorang diantara kalian sebelum ia menyayangi dan mencintai sesamanya seperti menyayangi dirinya sendiri. Sehingga, memang betapa pentingnya saling menyayangi yang ditakar dengan diri sendiri.” Inilah keterkaitan leluhur memberikan adigum atau ungkapan-ungkapan itu yang tidak dipungut di tengah jalan tapi disadur dalam nilai agama. Sehingga dengan demikian tidak kurang bila PO 5 ini dikatakan landasan filosofisnya sara pataanguna karena memang diadopsi dan nilai binci-binci kulinya yang tadinya didalam martabat tujuh binci binci kuli itu disampaikan tersamar tidak menjadi nilai tapi dalam implementasi ada. Bahkan, sejak dulu zaman kerajaan dan kesultnanan, PO 5 telah menjadi parameter hidup dalam masyarakat ,”jelasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *