F03.1 Tradisi Kariaa disalah satu desa yang berada di Kecamatan Wangi Wangi Kabupaten Wakatobi Tradisi Karia'a disalah satu desa yang berada di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

Peliput: Zul Ps

WANGI-WANGI, BP – Wakatobi merupakan daerah wisata yang masuk dalam sepuluh top destinasi wisata prioritas Indonesia, sehingga tentu bakal mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, pasalnya diketahui memiliki pesona bawah laut yang tak tersaingi.

F03.1 Tradisi Kariaa disalah satu desa yang berada di Kecamatan Wangi Wangi Kabupaten Wakatobi
Tradisi Karia’a disalah satu desa yang berada di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

Nampaknya, selain pesona bawah laut taman nasional itu, Wakatobi memiliki kearifan lokal yang mampu dijadikan potensi sebagai penarik wisata lain, dimana salah satu kearifan lokal tersebut adalah tradisi Karia’a (Sunatan_Red).

Tradisi Karia’a di Wakatobi ini dilakukan cukup berbeda dengan daerah lain. Dimana kaum laki-laki memikul gadis yang beranjak dari remaja menuju dewasa dengan menggunakan Kansodaa atau biasa disebut dengan tandu yang biasanya terbuat dari kayu.

Kemudian, gadis yang menaiki kansodaa tersebut berjumlah sekitar tiga hingga empat orang yang didandani lengkap dengan pakaian adat khas Wakatobi dengan aksesoris yang kerlap-kerlip dengan dominasi warna kuning dan merah dengan kepala yang dihiasi dengan mahkota yang terbuat dari marnik dan bunga-bunga.

Sekitar delapan hingga puluhan lelaki memikul Kansodaa yang telah dinaiki oleh para anak perempuan itu dengan mengelilingi desa, selain itu beberapa warga memegang termos yang telah diisi dengan air untuk minum para laki-laki yang memikul tandu.

Beberapa warga juga terlihat mengelilingi tandu sembari menyanyi dan bersorak berbahagia. Salah satu warga setempat yang ditemui awak media ini mengaku jika hal tersebut sering dilakukan jika terdapat warga yang menggelar adat Karia’a ini.

baca juga: Ngamen Amal JBI Blacksmith Islan Wakatobi, Cetak 3 Juta Lebih Untuk Korban Sulbar

” Kalau ada yang Karia’a, biasanya sering begini, masih terjaga tradisi ini sampai sekarang, ” Ungkap pemuda yang seri g disapa dengan nama Adi tersebut pada Selasa (26/01) saat ditemui dilokasi kegiatan disalah satu desa di Kecamatan Wangi-Wangi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *