Kepala Sekolah SDN 1 Lawela Busel Halifi SPd MPd memperlihatkan RKB yang rusak parahKepala Sekolah SDN 1 Lawela Busel Halifi SPd MPd memperlihatkan RKB yang rusak parah

Laporan: Ardi Toris

BUSEL, BP- Kepala Sekolah SDN 1 Lawela La Halifi SPd MPd bertekad akan menjadikan sekolah itu sebagai icon di Buton Selatan (Busel). Sebagai kepala sekolah yang sudah berpengalaman 24 tahun, La Halifi merasa tertarik dan tertantang ketika ditugaskan di SDN 1 Lawela sejak tahun 2021.

Kepala Sekolah SDN 1 Lawela Busel Halifi SPd MPd memperlihatkan RKB yang rusak parah
Kepala Sekolah SDN 1 Lawela Busel Halifi SPd MPd memperlihatkan RKB yang rusak parah

“Saya sebenarnya teratrik untuk masuk di SDN 1 Lawela ini. Karena saya anggap sebagai sekolah iconnya Buton Selatan. Kenapa demikian karena kertika ada tamu yang berasal dari Kota Baubau atau luar daerah lainnya sekolah yang pertama dilihat di Busel ini adalah sekolah SDN 1 Lawela. Jadi sekolah ini harus menjadi icon sekolah di Busel,” ucap pria kelahiran Simompu tahun 1971 itu.

Tekadnya yang kuat menjadikan SDN 1 Lawela sebagai wajah yang harus ditampilkan untuk pendidikan di Busel maka wajib hukumnya SDN 1 Lawela ini dibenahi dan ditata dengan sebaik-baiknya, sehingga kedepan sekolah ini bisa dijadikan sebagai sekolah model atau sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain di Busel.

“Sehingga program saya yang pertama kekita saya ditugaskan di SDN 1 Lawela adalah pembuatan gapura sekolah. Bisa dilihat gapura sekolah ini saya buat demikian bagus. Kedua, saya tata halamannya karena pertama kali saya masuk halamannya agak kumuh. Sekarang alhamdulilah sudah kita benahi dan kelihatan bagus,” ucapnya ditemu Baubau Post di ruang kerjanya, Jumat (03/02/2023).

Program ketiga, yang dilakukannya yaitu membuat pagar sekolah dimana modelnya dibuat agak lain dengan sekolah-sekolah yang ada di Buton Selatan dengan tujuan agar adanilai pembeda pagarnya SDN 1 Lawela dengan pagarnya sekolah-sekolah yang lain.

“Kemudian mulai hari minggu ini, kita mulai membangun papan nama baru. Dan mudah-mudahan papan nama ini juga memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda dari sekolah lainnya. Untuk papan nama ini saya siapkan panjangnya 5 meter,lalu tingginya 2 meter. Jadi dari pagar posisinya akan mundur 1 meter 20 centi. Kemudian nanti ada taman dibagian depan, samping kiri dan kanan. Lalu dilengkapi dengan lampu sehingga biar malam hari papan nama ini bisa terlihat dan terbaca bagi yang melintas di jalan depan SDN 1 Lawela, tetap bersinar,” lanjutnya.

La Halifi mengungkapkan saat ini ada 11 jumlah Rombongan belajar (Rombel) sementara guru yang mengabdi di SDN 1 Lawela ada 26 orang terdiri dari 16 orang guru berstatus ASN dan 10 orang guru berstatus guru magang.

“Jadi ada ketidakseimbangan antara jumlah guru dengan jumlah Rombel . Artinya lebih banyak jumlah tenaga pengajar dari jumlah Rombel yang ada saat ini. Namun demikian kami mengupayakan bagaimana semua guru ASN itu mendapatkan beban tugas yang sama,” tuturnya.

Untuk guru yang berstatus magang, kata Halifi, tidak digaji dengan dana BOS, mereka mengajar secara sukarela. Karena tujuan tenaga magang ini hanya satu yaitu terdaftar di pangkalan data Kemendikbudristek RI (Dapodik), karena itu merupakan persyaratan untuk masuk di P3K.”Alhamdulilah ntuk tahun ini yang sudah lolos P3K itu ada dua orang tenaga magang,” sambungnya.

Dari sisi pembangunan gedung sekolah, Halifi mengatakan di SDN 1 Lawela ada tiga ruang kelompok belajar (RKB) yang dibangun pada tahun 1987 dengan menggunakan dana PNPM Mandiri dimana kondisinya sudah rusak berat. Kemungkinan bangunannya akan direnovasi pada tahun ini dan bulan April ini sudah diperbaiki.

WhatsApp Image 2023 02 05 at 23.33.41

“Bangunan lainnya juga akan diperbaiki tahun ini selain tiga RKB itu, karena ada beberapa bantuan termasuk pagar sekolah juga bisa selesai tahun 2023 ini. Tahun ini kami mendapatkan bantuan pagar untuk 50 meter. Lalu saya sudah menghadap di Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Busel, ketika pagar sekolah itu dipercayakan kepada saya maka 50 meter itu saya bisa jadikan 90 meter. Artinya itu swadaya saya,” tuturnya.

Dia pun mengungkapkan pagar sekolah yang ada sekarang ini juga saat itu dipercayakan pekerjaannya di Kepsek Halifi. “Waktu itu kan diberi bantuan 50 meter. Kemudian karena dipercayakan sama saya untuk mengelolanya saat itu maka kekuranganya yang 29 meter saya usahakan sendiri. Termasuk besinya, saat itu di RAB nya tertulis besi 10, tapi saya lihat ini jari-jarinya tidak bagus kalau pakai besi 10 maka saya pakai besi 12 dan saya harus menambah biayanya sendiri yaitu Rp 14 juta. Jadi saya carikan sendiri anggarannya,” katanya lagi.

Untuk kelompok belajar siswa, Halifi mengatakan siswa dalam Rombel itu antara 20-25 orang. Pada tahun ajaran 2022/2023 total siswa yang ada di SDN 1 Lawela ada 11 Rombel. Dia pun menargetkan untuk tahun ajaran 2023/2024 pihaknuya bisa mendapatkan 12 Rombel.

“Sebab kelas 1 itu bisa kita mendapatkan dua Rombel dimana pada tahun ajaran sebelumnya kita hanya bisa mendapatkan 1 Rombel saja,” tambahnya.

Halifi pun menciptakan sistim yang kondusif di sekolah yang dipimpinnya. Pihaknya menerapkan sistim tidak saling menegur. Artinya setiap guru mengoreksi dirinya sendiri. Karena daftar hadir yang saya gunakan adalah sistim online, sehingga jam 07.00 WITA itu guru wajib sudah ada di sekolah. Ada aplikasi khusus untuk absen dan itu terbaca di Dinas Pendidikan Busel dan ketika guru absen muka mereka langsung terbaca di Dinas Pendidikan Busel.

baca juga: Pascasarjana Unidayan Gelar Workshop Studi Empiris

“Jadi sistim ini tidak bisa diabsenkan orang lain. Karena masing-masing orang terlihat wajahnya. Kemudian pulangnya juga nanti jam 13.00 WITA baru bisa absen lagi. Kalau pulang sebelum jam 1 siang berarti itu guru malas. Lalu dampaknya nanti dipemberkasan, kalau malas akan muncul warna merah.(*)