BAUBAU, BP — Untuk memaksimalkan momentum pendidikan karakter selama Ramadhan 1447 Hijriah, SMP Negeri 5 Baubau menyelenggarakan rangkaian kegiatan keagamaan yang melibatkan seluruh siswa kelas VII hingga IX. Program yang berlangsung sepanjang Ramadhan ini bertujuan menanamkan disiplin spiritual, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan sekolah. “SMPN 5 Baubau Semarakkan Ramadhan Lewat Program Keagamaan dan Aksi Sosial,”

Pembukaan kegiatan diawali dengan pesantren Ramadhan selama tiga hari. Selama mengikuti program tersebut, para siswa dibimbing dalam pembinaan akhlak, pendalaman akidah, serta peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an. Kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan sekolah dalam rangka pembinaan keislaman yang lebih intens selama bulan suci.
Kepala sekolah, Machmud S.Pd, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya membentuk karakter religius generasi muda. “Program pesantren Ramadhan dirancang untuk memperkuat pembinaan moral sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan siswa,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Selain pembinaan keagamaan, pihak sekolah juga menyesuaikan sistem belajar mengajar selama Ramadhan. Aktivitas pembelajaran dimulai pukul 07.30 WITA dan jam pelajaran dipersingkat menjadi 30 menit per sesi. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan siswa yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Machmud menambahkan bahwa kebijakan perubahan durasi pembelajaran mengikuti arahan Dinas Pendidikan. “Penyesuaian ini merupakan bagian dari regulasi untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif selama siswa berpuasa,” katanya. Waktu pulang pun dipercepat hingga pukul 11.50 WITA, sementara sejumlah kelas selesai lebih awal, yakni sekitar pukul 10.20 WITA.
Di sisi lain, bentuk kegiatan sosial juga menjadi fokus SMPN 5 Baubau dalam memaknai Ramadhan. Melalui OSIS, siswa menggelar program berbagi takjil yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Maret 2026. Kegiatan tersebut dipusatkan di jalan poros sekitar lingkungan sekolah.
Menurut Machmud, aksi sosial siswa itu merupakan kontribusi sukarela dari peserta didik. “Program berbagi takjil ini lahir dari inisiatif siswa dan menjadi agenda rutin yang kami kolaborasikan dengan bagian kesiswaan,” tuturnya. Pembagian takjil diharapkan dapat menanamkan nilai empati sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitar.
Selain kegiatan sosial tersebut, SMPN 5 Baubau juga telah merencanakan penyelenggaraan buka puasa bersama menjelang akhir Ramadhan. Meskipun jadwal resminya masih disusun, tradisi tersebut diharapkan menjadi momen silaturahmi antarsiswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Rangkaian kegiatan Ramadhan di sekolah ini sejalan dengan sejarah panjang tradisi pendidikan keagamaan di Indonesia. Sejak masa awal kemerdekaan, pesantren kilat dan pendidikan nilai selama Ramadhan merupakan sarana efektif membangun karakter generasi muda. Beberapa negara mayoritas Muslim seperti Malaysia, Mesir, dan Turki juga menerapkan program serupa sebagai bagian dari kurikulum nonformal selama bulan suci.
baca juga:
- SD Negeri Tomba Baubau Deklarasikan Stop Bullying Demi Lingkungan Belajar Aman
- Wali Kota Baubau H Yusran Fahim Sebut Pembangunan Sekolah Rakyat Baubau Siap Dimulai, Tender Ditarget April 2026
Pembinaan karakter lewat tradisi Ramadhan juga tercatat dalam sejarah sebagai momen penguatan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Secara global, kegiatan sosial seperti berbagi makanan saat berbuka (iftar) menjadi simbol kepedulian masyarakat Muslim di berbagai negara, termasuk program community iftar yang marak di Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat.
Dengan berbagai kegiatan yang telah disusun, SMPN 5 Baubau berharap Ramadhan tahun ini bukan hanya menjadi periode ibadah, tetapi juga ruang pembentukan jati diri siswa agar lebih religius, peduli, dan berkarakter kuat. Pihak sekolah optimistis bahwa program ini dapat memberi dampak positif jangka panjang bagi perkembangan siswa.(*)
baca berita lainnya:

Kerusakan di SDN 2 Topa pertama kali kembali disorot setelah kunjungan Wa Ode Hamsinah Bolu, Wakil Wali Kota Baubau, saat menyalurkan bantuan untuk warga terdampak angin puting beliung di Topa. Dalam peninjauan itu, ia menemukan sejumlah ruang kelas yang tidak lagi layak digunakan.
Menurut laporan yang diterima Pemerintah Kota Baubau, termasuk dokumentasi foto dan video yang juga diperoleh Yusran Fahim, sebagian bangunan sekolah mengalami keretakan dan pelapukan. “Kami melihat kondisi bangunan ini memang sudah lama tidak layak dan harus segera ditangani,” ujar Hamsinah.
Pemkot menyatakan, penanganan SDN 2 Topa tidak hanya akan fokus pada bangunan yang rusak. Kajian juga dilakukan untuk menjawab persoalan berkurangnya jumlah siswa dalam beberapa tahun terakhir. Tren tersebut dinilai berpotensi mempengaruhi efektivitas penyelenggaraan pendidikan di kawasan itu.
“Penanganan fisik memang penting, tetapi kami juga perlu melihat keberlanjutan sekolah karena data menunjukkan jumlah siswa terus menurun,” kata Hamsinah dalam kutipan langsung lainnya.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah kini membatasi penggunaan ruangan yang dinilai berbahaya. Sejumlah ruang kelas yang mengalami keretakan parah tidak lagi dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Sebagian perabot masih berada di dalam ruangan, tetapi tidak digunakan.
Kondisi infrastruktur sekolah yang menua bukan hal baru di Indonesia. Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, ribuan sekolah dasar di berbagai daerah juga mengalami kerusakan serupa sejak awal program rehabilitasi nasional tahun 1970-an. Secara global, UNESCO mencatat bahwa negara berkembang kerap menghadapi tantangan serupa, terutama terkait pemeliharaan gedung sekolah yang telah berusia puluhan tahun.
Historis kawasan Topa sendiri mencatat beberapa kali bencana angin puting beliung dalam dua dekade terakhir, sehingga berdampak pada sejumlah fasilitas publik, termasuk sekolah. Meski demikian, Pemkot menilai kerusakan SDN 2 Topa bukan hanya akibat bencana terkini, melainkan akumulasi kerusakan bertahun-tahun.

Kajian yang sedang disusun Pemkot Baubau akan mencakup evaluasi struktural bangunan, estimasi kebutuhan anggaran rehabilitasi, serta kemungkinan penataan ulang sistem penyelenggaraan pendidikan di wilayah itu. Pemerintah menargetkan rekomendasi awal dapat dirampungkan dalam waktu dekat.
“Langkah terbaik akan diambil berdasarkan hasil kajian komprehensif, baik untuk keselamatan siswa maupun keberlangsungan pendidikan,” ujar Hamsinah dalam salah satu kutipannya.
Pemerintah juga menegaskan komitmen bahwa keselamatan siswa menjadi prioritas utama. Pemkot akan memastikan setiap keputusan mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan belajar, dan efektivitas pelayanan pendidikan.
Kajian ini diprediksi akan menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan jangka panjang, termasuk potensi revitalisasi total atau opsi relokasi jika dibutuhkan. Hal ini sekaligus menjawab kebutuhan publik terhadap fasilitas pendidikan yang aman dan layak di Kota Baubau.
baca juga:
- SD Negeri Tomba Baubau Deklarasikan Stop Bullying Demi Lingkungan Belajar Aman
- Pengawasan PIP Diperketat, Dinas Pendidikan Buton Selatan Minta Sekolah Hentikan Pembagian Merata
Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Baubau akan melibatkan tim teknis dan pemangku kepentingan pendidikan dalam proses kajian. Hasil kajian nantinya diharapkan menjadi acuan strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan dasar di Baubau.(*)

