BUTON SELATAN, BAUBAUPOST.COM – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Buton Selatan tetap berupaya menghidupkan kembali aktivitas pasar rakyat sebagai pusat ekonomi masyarakat. Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi fasilitas, distribusi pedagang, hingga penguatan pengelolaan pasar yang selama ini belum berjalan maksimal. “Kios Kosong dan Fasilitas Minim di Pasar Rakyat, Tantangan Besar Disperindag Buton Selatan Kembali Mengaktifkan Aktivitas Ekonomi,”

Upaya tersebut difokuskan pada sejumlah pasar yang mengalami penurunan aktivitas, bahkan tidak lagi beroperasi, seperti di wilayah Lapandewa, Siompu, dan Siompu Barat. Pasar-pasar tersebut sebelumnya sempat aktif, namun kini sepi akibat minimnya pedagang dan pembeli serta keterbatasan akses pendukung.
Kepala Disperindag Buton Selatan, La Ode Safi, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan untuk memetakan persoalan yang dihadapi di masing-masing pasar. “Kami sudah turun langsung ke lapangan dan akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar pasar-pasar ini bisa kembali aktif,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Selain pasar yang tidak aktif, persoalan lain yang mencuat adalah banyaknya kios yang belum dimanfaatkan oleh pedagang. Kondisi ini terjadi di beberapa pasar rakyat yang dikelola pemerintah daerah, seperti di pasar yang ada di Bandar Batauga.
Menurut La Ode Safi, sebagian kios belum digunakan karena kondisi fasilitas yang belum memadai. Kerusakan bangunan, jaringan listrik yang belum berfungsi optimal, serta pasokan air bersih yang tidak lancar menjadi kendala utama.
“Sebagian kios sebenarnya sudah ada jaringan listrik, tetapi belum berfungsi maksimal. Air bersih juga belum lancar, sehingga pedagang belum merasa nyaman,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya akan segera memanggil pemilik kios untuk membahas pemanfaatan lapak yang masih kosong. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas jual beli kembali berjalan.
Distribusi pedagang yang tidak merata juga menjadi tantangan tersendiri. Kios yang berada di bagian depan pasar cenderung terisi, sementara bagian belakang masih kosong.
“Kebiasaan masyarakat yang lebih memilih berbelanja di pinggiran pasar membuat kios di dalam kurang diminati,” ungkapnya.
Dari sisi aktivitas, pasar di Buton Selatan umumnya beru beroperasi pada hari tertentu, yakni Rabu, Jumat, dan Minggu, dengan puncak keramaian terjadi pada hari Minggu. Pada hari tersebut, lanjutnya, pedagang dari luar daerah turut meramaikan pasar dengan berbagai komoditas.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pendukung juga masih dirasakan pedagang. Di Pasar Rakyat Sampolawa, misalnya, pedagang ikan dan sayur belum memiliki tempat permanen dan masih berjualan secara swadaya.
Tidak hanya itu, kekurangan tenaga operasional seperti petugas kebersihan, keamanan, dan mandor pasar turut memengaruhi kualitas pengelolaan pasar. Minimnya anggaran membuat kebutuhan tersebut belum dapat terpenuhi secara optimal.
Meski demikian, Disperindag tetap berupaya menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban pasar dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. “Kami tetap berusaha agar pelayanan berjalan, termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan pasar,” ujar La Ode Safi.
Dalam konteks yang lebih luas, revitalisasi pasar rakyat merupakan bagian penting dari strategi penguatan ekonomi lokal. Secara historis, pasar tradisional di Indonesia telah menjadi tulang punggung distribusi barang sejak era kerajaan hingga masa kolonial, sebelum berkembangnya pasar modern pada akhir abad ke-20.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa pasar rakyat masih menyumbang lebih dari 60 persen distribusi kebutuhan pokok nasional, meskipun menghadapi tekanan dari ritel modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Secara global, tren revitalisasi pasar tradisional juga terjadi di berbagai negara berkembang. Organisasi seperti UN-Habitat mencatat bahwa penguatan pasar lokal menjadi salah satu strategi untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat kecil dan menengah, terutama pascapandemi COVID-19.
baca juga:
- Hasil Panen 2,68 Ton/Ha, Sampolawa Optimistis Tingkatkan Produksi dan Perkuat Ketahanan…
- Dorong Ekonomi Pesisir, KKP Tinjau Lima Desa di Buton Selatan Masuk Kajian Kampung Nelayan Nasional
Sejalan dengan itu, Disperindag Buton Selatan juga terus melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok secara rutin sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.
Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pemerintah daerah berharap pasar rakyat tetap dapat berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Optimalisasi pasar dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal di tengah tantangan fiskal yang dihadapi saat ini.(*)
baca berita lainnya:
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM- Perum Bulog Cabang Baubau bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Baubau menyalurkan 8.900 liter minyak goreng merek Minyak Kita di Pasar Wameo, Kota Baubau, Jumat (17/4/2026). Penyaluran ini dilakukan sebagai langkah menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat di tingkat pedagang. “Perum Bulog Baubau dan Disperindag Jaga Harga Minyak Tetap Stabil Dengan Menyalurkan 8.900 Liter Minyak Goreng di Pasar Wameo Baubau,”

Kegiatan distribusi tersebut difokuskan di salah satu pusat perdagangan utama Kota Baubau yaitu di Pasar Wameo yang menjadi barometer harga kebutuhan pokok. Pemerintah daerah bersama Bulog menilai pasar rakyat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan harga di tingkat konsumen.
Pimpinan Perum Bulog Cabang Baubau Ritno mengatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya antisipasi meskipun kondisi pasokan minyak goreng di wilayah tersebut masih dalam keadaan stabil.
“Sebetulnya minyak goreng saat ini tidak mengalami kelangkaan. Namun kami tetap melakukan penyaluran untuk mengantisipasi agar tidak terjadi gangguan pasokan yang bisa memicu kenaikan harga,” ujar Ritno.
Ia menambahkan bahwa harga Minyak Kita di pasar tradisional di Baubau saat ini masih berada pada level normal, yakni sekitar Rp15.700 per liter.
Penyaluran minyak goreng tersebut dilakukan kepada 30 mitra Bulog yang beroperasi di Pasar Wameo, dengan masing-masing menerima alokasi rata-rata sekitar 120 liter. Selain mitra resmi, kata Rino, distribusi juga menjangkau pedagang lain di sekitar pasar.
“Setiap mitra kami mendapatkan distribusi kurang lebih 120 liter, dan sebagian juga dialokasikan kepada pedagang lain di luar mitra Bulog,” kata Ritno.
Selain di Kota Baubau, Bulog juga memperluas distribusi ke wilayah lain seperti Buton Tengah serta beberapa daerah yang berada dalam cakupan kerja distribusi pangan Bulog setempat.
Total stok Minyak Kita yang tersimpan di gudang Bulog Baubau saat ini tercatat sekitar 90.000 liter. Jumlah tersebut dinilai masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.
Penyaluran secara berkala ini dilakukan melalui mekanisme distribusi langsung ke pedagang pasar rakyat agar harga tetap terkendali dan tidak terjadi penumpukan permintaan di titik tertentu.
Kondisi ini juga menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah, terutama pada komoditas minyak goreng yang memiliki dampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat.
Dalam konteks nasional, Indonesia pernah mengalami gejolak harga minyak goreng pada awal 2022. Saat itu, kelangkaan sempat terjadi di berbagai daerah akibat gangguan rantai pasok global dan kebijakan pembatasan ekspor minyak sawit mentah (CPO), yang memicu kepanikan pasar domestik.
Krisis tersebut bahkan mendorong pemerintah Indonesia mengambil langkah intervensi, termasuk penetapan harga eceran tertinggi dan pelarangan sementara ekspor CPO demi menjaga ketersediaan dalam negeri.
Secara global, pasar minyak nabati juga kerap dipengaruhi oleh dinamika internasional, termasuk dampak konflik geopolitik seperti perang di Ukraina yang sempat mengganggu rantai pasok minyak nabati dunia serta mendorong volatilitas harga komoditas pangan.

“Stok yang ada di gudang Bulog Baubau saat ini masih aman, sekitar 90.000 liter, dan kami pastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta mengantisipasi potensi kenaikan permintaan,” ujar Ritno menegaskan.
Sementara itu, Disperindag Kota Baubau menilai sinergi dengan Bulog menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga di pasar tradisional seperti di Pasar Wameo Kota Baubau. Kolaborasi tersebut dinilai efektif dalam meredam potensi lonjakan harga yang biasanya terjadi pada periode tertentu.
baca juga:
- Hasil Panen 2,68 Ton/Ha, Sampolawa Optimistis Tingkatkan Produksi dan Perkuat Ketahanan…
- Sinergi Pemerintah dan Petani Sukseskan Panen Padi di Wawoangi Sekaligus Perkuat Ketahanan Pangan Buton Selatan
“Kolaborasi ini penting untuk memastikan harga tetap stabil dan masyarakat tidak terdampak fluktuasi pasar,” kata salah satu pejabat Disperindag Baubau.
Dengan ketersediaan stok yang memadai serta distribusi yang terus dilakukan secara berkala, pemerintah daerah bersama Bulog memastikan stabilitas harga minyak goreng di Kota Baubau tetap terjaga dan pasokan aman untuk kebutuhan masyarakat.(*)



