BAUBAU, BAUBAUPOST.COM — Praktik Mandiri Bidan (PMB) Hafizah di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui layanan persalinan humanis, pendampingan intensif, serta kesiapsiagaan tenaga kesehatan selama 24 jam guna menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah Baubau dan daerah kepulauan sekitarnya. “PMB Hafizah Baubau Kembangkan Layanan Persalinan Modern dan Berorientasi Pasien, Fasilitas Lengkap dan Siaga 24 Jam,”

Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan tersebut terlihat dari banyaknya pasien yang datang tidak hanya dari Kota Baubau, tetapi juga dari Kabupaten Wakatobi, khususnya Kecamatan Kaledupa, serta Kabupaten Buton Selatan, termasuk wilayah Kadatua. Kepercayaan itu dibangun melalui pelayanan yang mengedepankan kenyamanan pasien sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan.
Pemilik PMB Hafizah, Bdn Harafiah, S.ST., C.MSHT., C.BMHT, mengatakan pihaknya berupaya memberikan pelayanan yang lebih personal dibandingkan layanan kesehatan sejenis. “Kami berusaha memberikan pendampingan maksimal sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga masa nifas agar ibu dan bayi mendapatkan pelayanan yang aman dan nyaman,” ujarnya, Minggu (21/6).
Dalam setiap proses persalinan, PMB Hafizah menerapkan sistem pendampingan oleh tiga bidan sekaligus. Saat ini fasilitas tersebut didukung enam bidan, termasuk pemilik praktik, serta seorang dokter umum, dr. Aldino Siwa Putra. “Untuk pelayanan persalinan, kami melibatkan tiga bidan agar keselamatan dan kenyamanan ibu maupun bayi dapat terjaga secara optimal,” kata Harafiah.

Selain layanan persalinan 24 jam, PMB Hafizah juga menyediakan pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana (KB), pemeriksaan IVA dan IVA Test, tembak telinga, Baby Spa, serta pelayanan kesehatan umum. Seluruh layanan tersebut didukung dengan kelengkapan perizinan, mulai dari Surat Izin Praktik (SIP), Surat Tanda Registrasi (STR), hingga dokumen administrasi lain yang dipersyaratkan pemerintah.

PMB Hafizah juga memfasilitasi peserta BPJS Kesehatan untuk mengakses layanan persalinan, pemeriksaan kehamilan, dan KB. Tidak hanya itu, fasilitas kesehatan tersebut turut membantu pengurusan kepesertaan BPJS bagi bayi yang baru lahir dari orang tua yang telah terdaftar sebagai peserta. “Mayoritas masyarakat saat ini menggunakan BPJS Kesehatan sehingga kami berupaya membantu agar pelayanan kesehatan lebih mudah dijangkau,” ujar Harafiah.
Sebagai bentuk pelayanan berkelanjutan, PMB Hafizah melakukan pemantauan pascapersalinan melalui kunjungan rumah. Bahkan bagi pasien yang masih berdomisili di wilayah Kota Baubau, pihaknya turut membantu proses pengantaran pulang serta memberikan souvenir dan dokumentasi foto bayi sebagai kenang-kenangan bagi keluarga. “Kami ingin pasien merasa diperhatikan sejak datang hingga kembali ke rumah,” katanya.
Dari sisi fasilitas, PMB Hafizah menyediakan ruang persalinan yang nyaman dengan pendingin ruangan (AC), kamar mandi dalam, oksigen, alat sterilisator, serta peralatan medis yang memenuhi standar pelayanan kesehatan. Penguatan fasilitas ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan bayi yang menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional.
baca juga:
- Penguatan SDM dan Sarana Laboratorium Jadi Fokus Kunjungan Kepala BB Labkesmas …
- Klinik Estetika Tanpa Izin di Bali Ditutup, WNA Ikut Diperiksa
Secara historis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF selama dua dekade terakhir terus mendorong pendekatan respectful maternity care atau pelayanan persalinan yang menghormati martabat ibu. Di Indonesia, upaya penurunan angka kematian ibu juga menjadi agenda penting pemerintah sejak pelaksanaan target Millennium Development Goals (MDGs) hingga Sustainable Development Goals (SDGs). Kehadiran fasilitas kesehatan berbasis komunitas seperti PMB Hafizah dinilai berperan dalam memperluas akses layanan kesehatan maternal yang aman, berkualitas, dan mudah dijangkau masyarakat, terutama di wilayah kepulauan. (*)
INFOGRAFIS

Baca berita Lainnya:
BB Labkesmas Makassar Perkuat Akurasi Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Baubau, Dua Puskesmas Dibina Mutu Pemeriksaan Malaria
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM– Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar memperkuat pembinaan mutu laboratorium kesehatan di Kota Baubau melalui kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) yang digelar pada Senin (9/6/2026). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hasil pemeriksaan laboratorium di fasilitas pelayanan kesehatan memenuhi standar sehingga dapat menjadi dasar diagnosis dan pengambilan keputusan medis secara akurat. “BB Labkesmas Makassar Perkuat Akurasi Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Baubau, Dua Puskesmas Dibina Mutu Pemeriksaan Malaria,”

Dalam kunjungan tersebut, Kepala BB Labkesmas Makassar, Dr. dr. Irene, M.K.M., menegaskan bahwa penguatan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Baubau memiliki arti strategis bagi pelayanan kesehatan di wilayah Kepulauan Buton. Menurutnya, keberadaan laboratorium yang andal akan mengurangi ketergantungan pengiriman sampel ke Makassar sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien.
“Labkesda Baubau memiliki peran penting agar masyarakat tidak perlu lagi mengirim sampel pemeriksaan ke Makassar. Kalau pemeriksaan bisa dilakukan di sini sendiri tentu lebih cepat dan biaya lebih ringan,” ujar Irene.
Selain memperkuat fungsi Labkesda, tim BB Labkesmas juga mengevaluasi hasil PME yang telah diikuti laboratorium kesehatan dan puskesmas di Baubau. Dari evaluasi tersebut ditemukan adanya kekeliruan pembacaan pemeriksaan malaria di Puskesmas Sulaa dan Puskesmas Kadolomoko sehingga keduanya menjadi prioritas pembinaan lanjutan.
Irene menegaskan bahwa temuan tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian negatif terhadap fasilitas kesehatan, melainkan sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas layanan. “Kalau ada hasil yang tidak sesuai dengan kunci panel, maka kami turun langsung ke lapangan untuk melihat apa kendalanya dan apa yang perlu diperbaiki. Ini sifatnya pembinaan, bukan menghakimi,” katanya.

Ia menambahkan, peninjauan lapangan diperlukan karena penyebab ketidaksesuaian hasil pemeriksaan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi peralatan, metode pemeriksaan hingga kompetensi sumber daya manusia. “Kami harus melihat langsung kondisi di lapangan. Bisa saja masalahnya pada alat, metode, atau sumber daya manusianya. Jadi tidak bisa langsung disimpulkan,” jelas Irene.
Program PME sendiri merupakan mekanisme pengendalian mutu yang dilakukan dengan mengirimkan panel uji kepada laboratorium peserta untuk kemudian dibandingkan dengan standar acuan. Sistem serupa telah lama diterapkan di berbagai negara sebagai bagian dari penjaminan mutu laboratorium klinik guna memastikan hasil pemeriksaan memiliki tingkat akurasi dan konsistensi yang tinggi.
Secara historis, penguatan sistem mutu laboratorium menjadi perhatian dunia sejak berkembangnya standar internasional pengelolaan laboratorium medis seperti ISO 15189, yang mendorong penerapan kompetensi dan manajemen mutu di berbagai negara. Di Indonesia, peningkatan kualitas laboratorium kesehatan juga terus didorong pemerintah melalui jejaring laboratorium berjenjang, mulai dari puskesmas sebagai tier 1, laboratorium kesehatan daerah kabupaten/kota sebagai tier 2, laboratorium provinsi sebagai tier 3, hingga laboratorium regional seperti BB Labkesmas sebagai tier 4.
baca juga:
- Labkesda Baubau Perkuat Laboratorium Lingkungan dan Klinik Untuk Layani Masyarakat di …
- Pemkot Baubau Perluas Program DASHAT Hingga 40 Kelurahan Untuk Tekan Angka Stunting
Sebagai bagian dari pengembangan kapasitas, BB Labkesmas Makassar turut membuka kesempatan magang bagi tenaga laboratorium daerah untuk meningkatkan kompetensi teknis. “Kami juga membuka fasilitasi magang di Makassar untuk peningkatan kemampuan SDM laboratorium daerah,” tutur Irene. Melalui pembinaan berkelanjutan tersebut, diharapkan mutu pemeriksaan laboratorium di Baubau semakin meningkat sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, tepat, dan dapat dipercaya.(*)



