Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 April 2026Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 April 2026

Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 April 2026

baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 April 2026 versi PDF

 

 

baca Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 21 April 2026

01 02 7 04 7 05 7 06 7 07 7 08 7 21

baca juga Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi lainnya:

  1. Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 13 April 2026
  2. Koran Online Baubau Post Edisi 16 April 2026

baca berita lainnya:

 

SULTRA, BAUBAUPOST.COM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menargetkan penurunan signifikan angka stunting dari posisi saat ini sebesar 26,1 persen melalui penguatan intervensi spesifik yang dilakukan secara terpadu, terukur, dan berkelanjutan sepanjang 2026. “Sultra Percepat Penurunan Stunting Lewat Intervensi Terpadu 2026,”
Sultra Percepat Penurunan Stunting Lewat Intervensi Terpadu 2026
Sultra Percepat Penurunan Stunting Lewat Intervensi Terpadu 2026

Upaya tersebut ditegaskan dalam pertemuan evaluasi pelaksanaan intervensi spesifik stunting tingkat provinsi yang digelar di Kendari, Rabu (8/4/2026), dengan melibatkan seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-Sultra sebagai bagian dari konsolidasi program lintas wilayah.

Wakil Gubernur Sultra, Dr. Ir. Hugua, M.Ling, menyatakan bahwa percepatan penurunan stunting menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

dummy

“Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi menyangkut kualitas generasi. Ini adalah investasi jangka panjang bagi daerah,” kata Hugua dalam arahannya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga mendekati rata-rata nasional, bahkan diupayakan dapat ditekan hingga sekitar 5 persen melalui berbagai intervensi strategis.

Dalam pelaksanaannya, Pemprov Sultra mengedepankan dua pendekatan utama, yakni promotif dan kuratif. Pendekatan promotif dilakukan melalui edukasi intensif terkait pola makan bergizi seimbang, terutama bagi ibu hamil, balita, dan keluarga.

Sementara itu, pendekatan kuratif diarahkan pada penanganan medis terhadap anak yang mengalami stunting akibat faktor kesehatan, termasuk penyakit penyerta yang menghambat penyerapan nutrisi.

“Kalau kebutuhan gizi tidak terpenuhi sejak awal kehidupan, dampaknya akan panjang, mulai dari kemampuan belajar hingga produktivitas saat dewasa,” ujar Hugua.

Selain intervensi langsung, pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas wilayah. Perencanaan hingga evaluasi program dilakukan secara bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar kebijakan lebih tepat sasaran.

Evaluasi berkala dijadwalkan berlangsung pada pertengahan dan akhir tahun sebagai instrumen pengendalian program sekaligus dasar penyusunan strategi lanjutan.

Pendekatan berbasis perubahan perilaku masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah menilai bahwa faktor budaya dan kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanganan stunting.

“Perubahan perilaku adalah kunci. Tanpa itu, intervensi teknis tidak akan maksimal,” kata Hugua menegaskan.

Secara historis, upaya penurunan stunting di Indonesia telah menunjukkan tren positif dalam satu dekade terakhir. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting nasional turun dari sekitar 37 persen pada 2013 menjadi sekitar 21,6 persen pada 2022.

Pemerintah pusat bahkan menargetkan angka stunting nasional turun menjadi 14 persen sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia unggul.

Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 148 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada 2022, dengan sebagian besar kasus terjadi di negara berkembang akibat keterbatasan akses gizi dan layanan kesehatan.

Pengalaman sejumlah negara seperti Vietnam dan Thailand menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada integrasi program gizi, sanitasi, pendidikan, serta intervensi berbasis komunitas.

baca juga:

  1. Gubernur Sultra ASR Soroti Antrean Mudik Naik 7 Persen, Tambah Armada Jadi Solusi
  2. Gubernur Sultra ASR Lepas 13 Ribu Pemudik Gratis 2026, Tanpa Biaya Pergi dan Pulang, Prioritaskan Keselamatan

 

Dengan mengacu pada praktik tersebut, Pemprov Sultra optimistis dapat mempercepat penurunan stunting melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap kondisi lokal.

Melalui penguatan layanan kesehatan, edukasi gizi, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap kualitas generasi mendatang di Sulawesi Tenggara dapat meningkat secara signifikan dan berkelanjutan.(*)

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *