BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Ambisi merebut gelar juara umum cabang olahraga pencak silat pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) XV 2026 menjadi target utama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Baubau. Sebanyak 32 atlet putra dan putri dipersiapkan untuk memperkuat kontingen Baubau dalam kompetisi yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026. Target tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan prestasi setelah pada Porprov 2022 Baubau menempati posisi juara II umum. “Siap Mengulang Prestasi di Proprov 2022, IPSI Baubau Bidik Juara Umum Porprov Sultra XV 2026, Siapkan 32 Pesilat Terbaik,”

Pelatih IPSI Kota Baubau, Djamal, mengatakan para atlet yang dipersiapkan memiliki pengalaman bertanding dan jam terbang yang cukup baik. Modal tersebut menjadi bekal menghadapi persaingan dengan pesilat dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. “Kami menargetkan juara I umum pada Porprov 2026. Atlet yang disiapkan memiliki pengalaman bertanding dan kemampuan untuk bersaing,” ujarnya.
Pada Porprov Baubau-Buton 2022, kontingen pencak silat Kota Baubau berhasil mengumpulkan lima medali emas, tiga perak, dan lima perunggu. Total 13 medali tersebut mengantarkan Baubau berada di peringkat kedua klasemen umum cabang pencak silat. Capaian itu sekaligus menjadi tolok ukur bagi jajaran pelatih untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan memperbesar peluang meraih prestasi lebih tinggi pada penyelenggaraan berikutnya.
Untuk mencapai target tersebut, pembinaan atlet kini diarahkan pada peningkatan kekuatan fisik, penguasaan teknik, pematangan strategi pertandingan, serta ketahanan mental. Sebanyak 32 atlet diproyeksikan turun pada dua kategori, yakni tanding atau laga dan seni. Ketua IPSI Kota Baubau, dr. Lukman, Sp.PD, juga terus memberikan dukungan dan motivasi kepada atlet putra maupun putri agar konsisten menjalani program latihan.
Namun, ambisi tersebut masih berhadapan dengan persoalan keterbatasan sarana dan prasarana. IPSI Kota Baubau berharap KONI Kota Baubau segera merealisasikan dukungan anggaran, terutama untuk pengadaan perlengkapan latihan, peralatan pertandingan, serta pembiayaan pemusatan latihan atau Training Center (TC). “Dukungan anggaran sangat dibutuhkan agar persiapan atlet dapat berjalan maksimal, termasuk pemenuhan peralatan dan pelaksanaan TC,” demikian harapan jajaran IPSI Kota Baubau.
Kebutuhan pembiayaan tersebut dinilai tidak sekadar menyangkut kelengkapan fasilitas, tetapi juga berkaitan dengan kesinambungan program pembinaan dan kesiapan atlet menghadapi kompetisi. Tanpa dukungan sarana yang memadai, upaya meningkatkan intensitas latihan dan memaksimalkan potensi 32 pesilat berisiko tidak berjalan optimal. Meski demikian, keterbatasan yang ada tidak menyurutkan semangat atlet untuk terus berlatih.
Secara historis, pencak silat memiliki perjalanan panjang sebagai olahraga sekaligus warisan budaya Indonesia. Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) didirikan di Surakarta pada 18 Mei 1948 untuk menyatukan dan mengembangkan pembinaan pencak silat secara nasional.
Pengakuan internasional juga diperoleh pada 12 Desember 2019 ketika tradisi pencak silat ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan juga mengandung nilai seni, spiritualitas, dan tradisi masyarakat.
baca juga:
- PASGARDA SMA Negeri 1 Baubau Tampil Gemilang, Rebut Lima Penghargaan di Surabaya …
- Unhas Cup 2026, Tiga Atlet Taekwondo SMA Negeri 1 Baubau Sukses Naik Podium
Bagi IPSI Kota Baubau, tantangan Porprov Sultra XV 2026 kini bukan hanya mempertahankan catatan prestasi sebelumnya, melainkan membuktikan peningkatan kualitas pembinaan melalui raihan medali yang lebih banyak. Dengan kekuatan 32 atlet, pengalaman pertandingan, kerja keras pelatih, serta dukungan anggaran dan fasilitas dari KONI maupun pemerintah daerah, Baubau berharap dapat mengakhiri persaingan pencak silat Porprov 2026 di posisi tertinggi.(*)
baca berita lainnya:

Tiket menuju kompetisi nasional itu diperoleh setelah Aisa menjuarai seleksi O2SN tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Kota Kendari pada Juni 2026. Dalam seleksi tersebut, ia harus bersaing dengan atlet-atlet pelajar yang mewakili 17 kabupaten/kota di Sultra. Keberhasilan melewati persaingan antardaerah mengantarkannya menjadi salah satu atlet pelajar yang dipercaya membawa nama provinsi ke tingkat nasional.
Sebelum keberangkatan, Aisa bersama kontingen Sultra dijadwalkan berkumpul di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), 8 November 2026. Kontingen tersebut selanjutnya akan dilepas secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari persiapan mengikuti kompetisi di Jakarta.
Kepala SMA Negeri 1 Baubau, Samsuriati AH, S.Pd., M.M., menyambut pencapaian tersebut dengan penuh kebanggaan. Ia berharap Aisa tidak sekadar berpartisipasi, tetapi mampu menunjukkan kemampuan terbaik dan meraih posisi tertinggi dalam kompetisi nasional. “Kami berharap tahun ini Aisa bisa meraih juara pertama di tingkat nasional. Tiga tahun lalu, seniornya pernah meraih juara III nasional. Mudah-mudahan pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi,” kata Samsuriati saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/11/2026).
Harapan tersebut memiliki pijakan pada rekam prestasi sekolah. Pada O2SN tingkat nasional 2023, SMA Negeri 1 Baubau pernah mengantarkan siswanya meraih juara III. Capaian itu menjadi modal motivasi bagi Aisa untuk melampaui prestasi seniornya sekaligus memperkuat tradisi keberhasilan sekolah dalam pembinaan olahraga pelajar.
Dalam konteks lebih luas, O2SN merupakan bagian dari upaya pembinaan bakat dan karakter peserta didik melalui olahraga. Kompetisi ini juga sejalan dengan perkembangan pencak silat sebagai olahraga sekaligus warisan budaya Indonesia. Secara internasional, pencak silat telah berkembang menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di berbagai kejuaraan dunia dan tampil pada Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pencak silat memiliki ruang kompetisi yang semakin luas di tingkat internasional.
Samsuriati menilai keberhasilan Aisa harus menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk mengembangkan potensi, baik dalam bidang akademik maupun olahraga. “Kami memberikan apresiasi atas perjuangan Aisa. Harapan kami, prestasi ini bisa menjadi perintis bagi adik-adiknya dan pemantik semangat bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Baubau lainnya. Ternyata anak-anak kita juga mampu berlaga dan berprestasi di tingkat nasional,” ungkapnya.
baca juga:
- Tiga Atlet Muda SMA Negeri 1 Baubau Bersinar di Kejuaraan Taekwondo Unhas Cup 2026 …
- Jelang Hari Pahlawan, Baubau Siapkan Ziarah Nasional, Tabur Bunga 2026, dan Ajak Warga Kibarkan Merah Putih, serta Hening Cipta Serentak 2026
Keikutsertaan Aisa dalam O2SN nasional menjadi kesempatan bagi pelajar Baubau untuk menunjukkan kemampuan bersaing di tingkat lebih tinggi. Sekolah berharap perjuangannya di Jakarta tidak hanya menghasilkan prestasi bagi dirinya, tetapi juga mengharumkan nama SMA Negeri 1 Baubau, Kota Baubau, dan Sulawesi Tenggara serta mendorong lahirnya atlet-atlet pelajar berprestasi berikutnya.(*)




