BAUBAU, BP- Sebagian wilayah pertanian di Kecamatan Bungi saat ini banyak mengalami kendala. Asupan air yang ada hanya untuk mencukupi 17 hektar lahan persawahan.

Ketua Kelompok Tani di Waliabuku, Rela Nabang saat diwawancarai Baubau Post, Senin (23/03) mengatakan, pihaknya khawatir lahan pertanian tidak akan mendapatkan air di musim tanam kedua (kemarau). Kurangnya pasokan air disebabkan oleh mata air sudah digunakan untuk sumber air minum oleh Pemerintah Kota Baubau. Bukan hanya itu, untuk saat ini kebutuhan petani dapat dikategorikan sangat mahal namun harga beras terbilang murah.

“Untuk saat ini kebutuhan petani sangat mahal, mulai dari pupuk bermasalah, mata air bendungan diambil sebagai air minum, coba bayangkan? Kalau obat-obatan serba mahal tapi harga beras terbilang murah, dengan harga Rp 8000, padahal beras di Kecamatan Bungi terkenal dimana-mana,” keluhnya.

Jika Pemerintah Kota Baubau tidak memperhatikan nasib petani, pihaknya akan melakukan pemasangan plat yang bertuliskan “area ini sebagai persiapan perumahan” bersama seluruh anggota kelompoknya.

Diketahui bahwa hal tersebut sudah lama terjadi baik dari kekurangan air, pupuk, pestisida bahkan ada pembangunan tambang. Para Petani berharap agar Pemerintah Kota Baubau dapat memberikan solusi kepada para petani.

“Hal ini sudah terjadi sejak lama sering jika ada pertemuan di dinas saya sampaikan, tetapi sekarang ini sangat parah air sudah mengecil, tikus mulai menyerang, padahal di musim hujan ini jika tidak hujan selama tiga hari air langsung mengecil,” ujarnya. (#)

Peliput: Nelvida A

Pin It on Pinterest