F09.3 Kelompok nelayan Posaasa pose bersama perwakilan Danramil Wangi Wangi dan pihak DKP Wakatobi. FOTO Duriani Baubau PostF09.3 - Kelompok nelayan Posa'asa pose bersama perwakilan Danramil Wangi-Wangi dan pihak DKP Wakatobi. FOTO Duriani Baubau Post

-Wujudkan PAAP di Wilayah Adat Kadie Liya

Peliput: Duriani

WAKATOBI, BP – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Wakatobi melaksanakan sosialisasi sekaligus menginisiasi pengukuhan pembentukkan kelompok nelayan dalam wilayah adat Kadie Liya Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.

Pengukuhan kelomok nelayan yang diberi nama kelompok nelayan posa’asa itu dilaksanakan Meantu’u (kepala adat) Liya, La Ode Harisi. Dan dihadiri perwakilan perangkat stuktur adat dalam Kadie Liya, perwakilan forum komunikasi pimpinan daerah bertempat di Desa Wisata Kolo Wangi-Wangi Selatan, Minggu (6/8).

Meantu’u Liya, La Ode Harisi mengungkapkan jika kawasan perairan pulau Sumanga yang terketak disekitar Liya Raya disepakati sebagai kawasan penangkapan ikan oleh masyarakat nelayan di Kadie Liya. Dimana kawasan itu akan dikelola secara arif dan bijaksana dengan mengedepankan kearifan lokal.

“Saya memutuskan forum nelayan posa’asa sebagai kelompok yang akan menjaga, melestarikan, memanfaatkan serta mengelola kawasan perairan pulau Sumanga sebagai kawasan Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP),” ungkap La Ode Harisi dalam sambutannya usai mengukuhkan kelompok nelayan dimaksud.

La Ode Harisi, berharap kegiatan pengembangan kawasan pengelolaan PAAP dimaksud, agar kelompok nelayan posa’asa dianjurkan untuk berkoordinasi dengan pemangku adat dan pemerintah desa se Liya Raya.
Kemudian mendorong perumusan aturan pengelolaan kawasan perairan sebagai kawasan berbasis masyarakat adat melalui sistem Wehai, pengaturan mata jaring minimal dua inch dan ijin nelayan luar untuk menjamin kelestarian sumber daya kawasan tersebut.

“Wilayah kita harus dijaga dari kegiatan orang asing meskipun itu perintah pimpinan tertinggi dinegeri ini. Begitu pula, siapapun yang membangun harus seijin pemangku adat sekalipun program itu bersumber dari pemerintah pusat,” tegasnya.

Oktavianus, Kepala Bidang Perikanan Tangkap mewakili Kadis DKP Wakatobi Oktawinus berharap kelompok nelayan Poasa’asa kedepan menjadi mandiri dan menjadikan kelompok sebagai media untuk belajar bersama, tukar informasi sekaligus untuk mencapai tujuan bersama kelompok.
Oktavianus, meyakini jika kelompok nelayan Posa’asa bakal sukses kedepannya selain pendampingan yang efektiv, kelompok ini secara sadar mengorganisasi dirinya secara kelembagaan melalui kelompok nelayan.

“Kenapa saya yakini jika kelompok nelayan ini bakal sukses karena mendapat dukungan dan legitimasi dari lembaga adat khususnya Sara Liya dan tentunya pemerintah daerah,” kata Avi, panggilan Oktavianus.

Menurut Oktavianus, kelompk nelayan Posa’asa menjadi miniature upaya pencapaian visi Dinas Kelautan dan Perikanan yang mewujudkan kawasan pengelolaan perikanan yang lestari, sejahtera dan berdaya saing.

“Kenapa saya katakana demikian karena bentuk kegiatan ini dikomandani program Rare – Sara Liya bekerjasama dengan DKP Wakatobi adalah mendorong pengelolaan kawasan area perikanan di perairan pulau Sumanga dengan cara yang lestari dan bijak,” kata Oktavianus.

Oktavianus, menambahkan pembentukkan keompok nelayan Posa’asa tentu sejalan dengan upaya mendorong pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan berbasis masyarakat (Community Based Management Fishieries) menuju kejayaan laut di Wakatobi.

“Ini juga sekaligus menjamin sustainable stock sumberdaya kelautan perikanan kita sebagai titipan anak cucu kita kedepan. Semoga perikanan Wakatobi akan lebih bersinar dan berdaya saing,” harap Oktavianus.(*)

Visited 2 times, 1 visit(s) today