BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Sebanyak 445 warga binaan pemasyarakatan (WBP) bersama pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Baubau menjalani skrining kesehatan massal yang dilaksanakan selama dua hari, pada 29–30 April 2026. “Dinkes Baubau Periksa 445 WBP dan Pegawai Lapas Secara Massal Untuk Cegah Penyakit Menular,”

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis yang dirangkaikan dengan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), sebagai bentuk pemenuhan hak dasar kesehatan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Pelaksanaan skrining ini digagas melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan Kota Baubau dengan tujuh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) puskesmas yang tersebar di wilayah setempat.
Adapun puskesmas yang terlibat meliputi Puskesmas Bataraguru, Puskesmas Wolio, Puskesmas Bukit Wolio Indah, Puskesmas Wajo, serta Puskesmas Kodolomoko, Katobengke, dan Waborobo.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, Sp.B, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, termasuk warga binaan di lingkungan pemasyarakatan.
Ia menjelaskan bahwa layanan yang diberikan tidak hanya sebatas pemeriksaan kesehatan umum, tetapi juga mencakup deteksi dini dan upaya pencegahan berbagai penyakit.
Rangkaian pemeriksaan meliputi skrining fisik berupa pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) dan tekanan darah, serta pemeriksaan laboratorium seperti gula darah, hepatitis C, sifilis, dan HIV.
Selain itu, dilakukan pula deteksi dini tuberkulosis (TBC) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran penyakit menular di lingkungan dengan tingkat hunian tinggi.
Kegiatan ini juga mencakup inspeksi kesehatan lingkungan pada sarana dan prasarana dapur Lapas guna memastikan standar kebersihan dan sanitasi terpenuhi.
Para peserta turut mendapatkan edukasi kesehatan melalui sosialisasi pola hidup sehat untuk mencegah penyebaran penyakit di lingkungan padat hunian.
Sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan berkelanjutan, pada hari pertama kegiatan dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Lapas Kelas IIA Baubau Abdul Waris, A.Md.IP., S.H., M.H., dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau.
Menurut dr. Frederik, kerja sama tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam menjamin terpenuhinya hak kesehatan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Ia menegaskan bahwa Dinas Kesehatan akan terus memberikan pelayanan optimal guna menciptakan lingkungan Lapas yang sehat dan mendukung proses pembinaan.
baca juga:
- Kolaborasi Dinkes dan Poltekkes Perkuat Pencegahan Stunting Digital Pada Remaja Melalui Aplikasi…
- MTQ XIV Baubau Sukses Digelar, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Tutup MTQ XIV Dengan Meriah, Murhum Tampil sebagai Juara Umum
Sementara itu, Kepala Lapas Baubau Abdul Waris menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam menjaga kesehatan dan kondusivitas lingkungan Lapas.
Ia menilai bahwa melalui deteksi dini, potensi penyebaran penyakit di dalam blok hunian dapat ditekan secara signifikan.
Dengan adanya skrining kesehatan massal ini, diharapkan seluruh warga binaan dan pegawai Lapas Baubau dapat menjalani aktivitas dengan kondisi kesehatan yang lebih baik serta meningkatkan kualitas hidup di lingkungan pemasyarakatan.(*)
Galeri Foto
Baca Berita Lainnya:

Tes kebugaran tersebut diikuti oleh 87 CJH dari total 137 jamaah asal Kota Baubau. Pemeriksaan dimulai sejak pukul 06.00 WITA dan berlangsung tertib di bawah pengawasan tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kota Baubau.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Djainudin Ishak, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan fisik jamaah agar mampu menjalani rangkaian ibadah haji yang membutuhkan ketahanan stamina tinggi.
“Kegiatan ini adalah bentuk komitmen kami untuk memastikan jamaah dapat beribadah dengan aman dan sehat. Fisik yang tangguh menjadi kunci utama dalam menjalankan ibadah haji,” ujar Djainudin dalam keterangannya.
Dalam pelaksanaannya, tim medis yang terdiri dari dokter, perawat, serta tenaga Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesjaor) menerapkan metode Tes Rockport. Metode ini digunakan untuk mengukur kemampuan kardiovaskular melalui aktivitas jalan cepat atau lari ringan dalam jarak tertentu.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar CJH berada dalam kondisi sehat dan bugar. Mayoritas peserta dinyatakan memenuhi syarat fisik untuk diberangkatkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan pemerintah.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi umum jamaah cukup baik. Ini menjadi indikator positif bahwa mereka siap menjalani ibadah haji,” kata Djainudin.
Seluruh hasil pemeriksaan kesehatan tersebut langsung diinput ke dalam Sistem Informasi Kesehatan Haji (SIKH) milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Data ini menjadi dokumen resmi yang digunakan dalam proses administrasi keberangkatan jamaah.
Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap memberikan sejumlah catatan kepada para jamaah untuk menjaga kondisi tubuh, antara lain dengan mengatur pola makan, menjaga asupan gizi, serta rutin melakukan aktivitas fisik ringan hingga waktu keberangkatan.
“Kami mengimbau jamaah untuk tetap disiplin menjaga kesehatan. Persiapan tidak hanya berhenti pada tes ini, tetapi berlanjut hingga hari keberangkatan,” ujarnya.
Selain itu, petugas kesehatan juga diminta untuk terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi jamaah serta memperbarui data kesehatan secara berkala di sistem nasional.
Secara historis, perhatian terhadap kesehatan jamaah haji di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak era 1970-an, ketika pemerintah mulai menerapkan pemeriksaan kesehatan terintegrasi. Bahkan, sejak 2000-an, penggunaan sistem digital seperti SIKH memperkuat pengawasan kesehatan jamaah secara nasional.
Di tingkat internasional, Arab Saudi sebagai penyelenggara ibadah haji juga memperketat standar kesehatan jamaah, terutama pascapandemi COVID-19. Pemeriksaan kebugaran menjadi salah satu syarat penting guna menekan risiko penyakit menular dan kelelahan ekstrem selama pelaksanaan ibadah.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa setiap tahun ratusan ribu jamaah diberangkatkan, sehingga aspek kesehatan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah tersebut.
baca juga:
- DPRD Serahkan Rekomendasi LKPJ 2025, Wali Kota Baubau H Yusran Fahim Siap Evaluasi
- Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja
Dengan pelaksanaan tes kebugaran ini, Pemerintah Kota Baubau optimistis seluruh calon jamaah haji dapat berangkat dalam kondisi prima dan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan lancar.
Kegiatan yang berlangsung lancar dan tertib ini sekaligus menumbuhkan optimisme bagi para CJH Baubau untuk menyongsong ibadah haji tahun 2026 dengan kesiapan fisik yang lebih baik.(*)

















https://shorturl.fm/MkAI9