JAKARTA, BP – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menyalurkan santunan dan bingkisan kepada sejumlah pegawai dalam kegiatan Bazar Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Lapangan Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat kepedulian sosial di lingkungan kementerian selama bulan suci Ramadan. “Momentum Ramadan, ATR/BPN Berbagi Santunan bagi Pegawai dan Tenaga Pendukung Lewat Bazar Ramadan 1447 H,”

Penyerahan santunan dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Pembina Ikatan Istri Karyawan dan Karyawati (Ikawati) ATR/BPN, Dily Nusron Wahid, yang didampingi Ketua Umum Ikawati ATR/BPN Erna Dalu dan Wakil Ketua Ikawati ATR/BPN Dian Suyus. Sementara itu, bantuan simbolis juga diserahkan oleh Sekretaris Jenderal ATR/BPN Dalu Agung Darmawan bersama Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi Deni Santo.
Kegiatan Bazar Ramadan ini dihadiri oleh para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian ATR/BPN, serta sejumlah pimpinan dan anggota Ikawati ATR/BPN dari tingkat pusat, Banten, hingga DKI Jakarta. Kehadiran mereka menambah semarak kegiatan yang dipadati oleh pegawai kementerian tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, santunan diberikan kepada perwakilan keluarga besar ATR/BPN yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN), pramubakti, petugas keamanan, hingga pengemudi yang bertugas di lingkungan kementerian. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan para pegawai, khususnya di bulan Ramadan.
Salah satu penerima santunan, Aang (45) yang bertugas sebagai petugas keamanan di ATR/BPN, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh kementerian kepada dirinya dan rekan-rekan kerja lainnya.
“Terima kasih ATR/BPN telah peduli pada kami sebagai bagian dari tim pengamanan di BPN RI. Anak saya yang pertama disabilitas, usianya 15 tahun. Alhamdulillah bantuan ini bisa meringankan beban kami,” ujar Aang dengan haru.
Aang menuturkan, anaknya mengalami disabilitas sejak lahir sehingga hingga kini belum dapat mengikuti pendidikan secara formal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, Aang tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Selama hampir 20 tahun mengabdi sebagai petugas keamanan di lingkungan ATR/BPN, ia mengaku terus berupaya memberikan pelayanan terbaik.
“Alhamdulillah atas rezeki yang kami terima dari ATR/BPN. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami. Ke depan saya akan terus bekerja sebaik-baiknya,” katanya.
Selain santunan, panitia kegiatan juga menyiapkan bingkisan bagi sejumlah pegawai. Salah satu penerima bingkisan tersebut adalah Purwo (41) yang telah bertugas sebagai petugas keamanan di ATR/BPN selama sekitar tujuh tahun.
“Kurang lebih saya sudah tujuh tahun bekerja di BPN. Terima kasih atas santunan dan bingkisan ini. Semoga kami bisa bekerja lebih baik lagi dan BPN semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Purwo.
Kegiatan berbagi di bulan Ramadan seperti ini memiliki nilai historis yang kuat dalam tradisi masyarakat Indonesia. Sejak masa awal kemerdekaan, berbagai lembaga negara maupun organisasi masyarakat kerap mengadakan kegiatan sosial di bulan Ramadan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Secara nasional, tradisi berbagi selama Ramadan juga sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya gotong royong Indonesia. Kegiatan santunan bagi pegawai, masyarakat kurang mampu, hingga pekerja informal telah menjadi bagian dari praktik sosial yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
baca juga:
- ATR/BPN dan Telkom Bentuk Satgas 2026 untuk Percepatan Legalisasi Aset Tanah
- Sidang Isbat Tetapkan Ramadan 1447 H pada Kamis 19 Februari, Berbeda Metode, Muhammadiyah Awali Ramadan 18 Februari 2026
Di tingkat internasional, semangat berbagi pada bulan Ramadan juga menjadi tradisi di berbagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Banyak institusi pemerintah maupun swasta di negara-negara Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Afrika Utara rutin mengadakan kegiatan sosial berupa pembagian santunan, zakat, serta bantuan kemanusiaan selama Ramadan.
Melalui kegiatan Bazar Ramadan ini, Kementerian ATR/BPN berharap nilai kepedulian dan kebersamaan dapat terus tumbuh di lingkungan kerja, sekaligus memperkuat semangat pengabdian para pegawai dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.(*)
baca berita lainnya:

Sebagai pembicara utama, Nusron membuka kajian dengan mengingatkan kembali tradisi sanad yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah keilmuan Islam sejak abad ke-8. Tradisi tersebut menekankan keabsahan sumber ilmu melalui rantai transmisi yang terjaga. Ia mengutip pandangan ulama klasik yang menyebut, “Negara bisa runtuh bukan karena hilangnya simbol-simbol formal, tetapi ketika keadilan tidak lagi menjadi landasan.”
Konteks historis itu, menurut Nusron, relevan dengan tata kelola negara masa kini. Ia menjelaskan bahwa pemerintahan modern juga memerlukan mekanisme kontrol pengetahuan, sebagaimana ilmu agama dijaga oleh sanad. “Jika dalam agama ada sanad, maka dalam kebijakan publik ada data, regulasi, dan norma hukum sebagai penjaga,” ujarnya.
Nusron juga menambahkan bahwa sejarah internasional telah menunjukkan pentingnya regulasi berbasis data. Ia mencontohkan era pasca-Revolusi Industri di Eropa, ketika negara-negara maju memperkuat kebijakan berbasis statistik untuk menghindari kekacauan sosial yang muncul akibat industrialisasi cepat. “Negara yang mengabaikan data akhirnya membuat kebijakan yang bersifat uji coba dan merugikan rakyatnya,” katanya.
Di tingkat nasional, ia menyinggung pengalaman Indonesia pada periode awal reformasi ketika lemahnya basis data pertanahan memperburuk sengketa lahan. Menurutnya, perubahan besar terjadi ketika pemerintah mulai membangun sistem modernisasi informasi pertanahan. “Sejak itu kita belajar bahwa kebijakan yang tidak memiliki fondasi data akan mudah dipelintir kepentingan,” kata Nusron.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya berkutat pada aspek teknis, tetapi juga moralitas seorang pemegang amanah. Ia mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan merasa paling benar dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi. “Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki rem moral agar tidak tergelincir,” ujarnya.

Dalam bagian lain ceramahnya, Nusron mengutip doa Rasulullah SAW yang menjadi peringatan bagi pejabat publik. “Siapa yang mempersulit hidup rakyat, maka Allah akan mempersulit hidupnya. Dan siapa yang memudahkan urusan rakyat, hidupnya akan dimudahkan,” ucapnya dalam kutipan langsung.
Terkait tugasnya di Kementerian ATR/BPN, Nusron merujuk Surah Al-Hasyr ayat 7 yang menekankan agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang kaya. Prinsip tersebut, katanya, tercermin dalam arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pemerataan sumber daya.
Program redistribusi tanah, penataan Hak Guna Usaha (HGU), dan penyusunan tata ruang nasional disebutnya sebagai langkah konkret untuk mengurangi ketimpangan struktural. Menurutnya, reformasi agraria tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan sosial. “Kebijakan ini agar manfaat tanah dan ruang tidak hanya dinikmati segelintir pihak,” katanya menegaskan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti kajian para pemikir klasik seperti Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa keadilan merupakan penopang utama keberlangsungan negara. Ia menyebut pandangan historis itu masih relevan untuk mengingatkan para pemimpin masa kini agar tidak terperangkap dalam simbol kekuasaan semata.
baca juga:
- DPR Umumkan Surpres Baru, Surpres RUU Daerah Kepulauan dan Perkoperasian Ditetapkan…
- Sidang Isbat Tetapkan Ramadan 1447 H pada Kamis 19 Februari, Berbeda Metode, Muhammadiyah Awali Ramadan 18 Februari 2026
Menutup kajian, Nusron mengajak mahasiswa dan alumni UI untuk memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab jangka panjang. Ia menegaskan bahwa generasi muda harus memadukan kompetensi profesional dengan integritas agar kebijakan publik tetap berpihak pada nilai keadilan. “Negara akan bertahan ketika keadilan hidup, bukan ketika gelar dan simbol dipertahankan,” ujar Nusron.
Kajian Tarawih ini sekaligus menjadi ruang penguatan nilai-nilai etis bagi peserta untuk mengembangkan kepemimpinan berperspektif ilmu dan kemaslahatan publik.(*)

