SULTRA, BAUBAUPOST.COM — Ratusan warga memanfaatkan layanan kesehatan gratis yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Sulawesi Tenggara, dengan cakupan layanan mulai dari operasi katarak, bibir sumbing, hingga sunatan massal. “Layanan Operasi Gratis Warnai Perayaan HUT ke-62 Sultra,”

Kegiatan yang dipusatkan di Kendari ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah dalam memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu yang membutuhkan penanganan medis.
Hingga pelaksanaan berjalan, program operasi katarak menunjukkan progres signifikan. Dari total kuota 50 peserta, sebanyak 32 orang telah menjalani tindakan medis, sementara jumlah pendaftar telah mencapai 40 orang.
Sementara itu, layanan sunatan massal mencatat jumlah peserta yang cukup tinggi. Sebanyak 147 anak telah terdaftar dari kuota 250 peserta yang disediakan panitia.
Adapun untuk operasi bibir sumbing, pemerintah menyiapkan kuota sebanyak 30 peserta yang akan mendapatkan penanganan secara menyeluruh melalui kerja sama dengan lembaga mitra.
“Program ini merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan akses layanan kesehatan yang merata bagi masyarakat,” ujar salah satu panitia pelaksana kegiatan.
Ia menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat menjadi indikator bahwa kebutuhan terhadap layanan kesehatan gratis masih sangat besar, terutama di daerah.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan sejumlah mitra kemanusiaan, di antaranya Yayasan Smile Train untuk operasi bibir sumbing, Kalbe Farma untuk operasi katarak, serta Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) melalui program Kapal Kemanusiaan Sultra untuk sunatan massal.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak ini memungkinkan layanan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dengan kualitas yang tetap terjaga,” kata perwakilan penyelenggara.
Secara historis, program bakti sosial kesehatan telah lama menjadi bagian dari strategi pemerintah di Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sejak era 1970-an, kegiatan operasi katarak massal mulai digencarkan sebagai respons terhadap tingginya angka kebutaan akibat katarak di Indonesia.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia, dengan prevalensi yang cukup tinggi terutama pada kelompok usia lanjut. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa lebih dari 65 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
baca juga:
- Gubernur Sultra ASR Dorong Efisiensi Pertanian dengan Ratusan Alsintan Modern
- Sultra Genjot Produksi Pangan, Gubernur ASR Salurkan Ratusan Alsintan Modern ke Petani
Sementara itu, penanganan bibir sumbing melalui kerja sama internasional seperti yang dilakukan dengan Smile Train telah berlangsung sejak awal 2000-an dan membantu jutaan pasien di berbagai negara berkembang.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membantu masyarakat yang selama ini terkendala biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” ujar salah satu tenaga medis yang terlibat.
Bakti sosial kesehatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Sulawesi Tenggara yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.
Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menghadirkan program serupa secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta menekan angka penyakit yang dapat dicegah melalui intervensi medis.(*)
baca berita lainnya:

Upaya tersebut ditegaskan dalam pertemuan evaluasi pelaksanaan intervensi spesifik stunting tingkat provinsi yang digelar di Kendari, Rabu (8/4/2026), dengan melibatkan seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-Sultra sebagai bagian dari konsolidasi program lintas wilayah.
Wakil Gubernur Sultra, Dr. Ir. Hugua, M.Ling, menyatakan bahwa percepatan penurunan stunting menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi menyangkut kualitas generasi. Ini adalah investasi jangka panjang bagi daerah,” kata Hugua dalam arahannya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga mendekati rata-rata nasional, bahkan diupayakan dapat ditekan hingga sekitar 5 persen melalui berbagai intervensi strategis.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Sultra mengedepankan dua pendekatan utama, yakni promotif dan kuratif. Pendekatan promotif dilakukan melalui edukasi intensif terkait pola makan bergizi seimbang, terutama bagi ibu hamil, balita, dan keluarga.
Sementara itu, pendekatan kuratif diarahkan pada penanganan medis terhadap anak yang mengalami stunting akibat faktor kesehatan, termasuk penyakit penyerta yang menghambat penyerapan nutrisi.
“Kalau kebutuhan gizi tidak terpenuhi sejak awal kehidupan, dampaknya akan panjang, mulai dari kemampuan belajar hingga produktivitas saat dewasa,” ujar Hugua.
Selain intervensi langsung, pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas wilayah. Perencanaan hingga evaluasi program dilakukan secara bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar kebijakan lebih tepat sasaran.
Evaluasi berkala dijadwalkan berlangsung pada pertengahan dan akhir tahun sebagai instrumen pengendalian program sekaligus dasar penyusunan strategi lanjutan.
Pendekatan berbasis perubahan perilaku masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah menilai bahwa faktor budaya dan kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanganan stunting.
“Perubahan perilaku adalah kunci. Tanpa itu, intervensi teknis tidak akan maksimal,” kata Hugua menegaskan.
Secara historis, upaya penurunan stunting di Indonesia telah menunjukkan tren positif dalam satu dekade terakhir. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting nasional turun dari sekitar 37 persen pada 2013 menjadi sekitar 21,6 persen pada 2022.
Pemerintah pusat bahkan menargetkan angka stunting nasional turun menjadi 14 persen sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia unggul.
Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 148 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada 2022, dengan sebagian besar kasus terjadi di negara berkembang akibat keterbatasan akses gizi dan layanan kesehatan.
Pengalaman sejumlah negara seperti Vietnam dan Thailand menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada integrasi program gizi, sanitasi, pendidikan, serta intervensi berbasis komunitas.
baca juga:
- Gubernur Sultra ASR Soroti Antrean Mudik Naik 7 Persen, Tambah Armada Jadi Solusi
- Gubernur Sultra ASR Lepas 13 Ribu Pemudik Gratis 2026, Tanpa Biaya Pergi dan Pulang, Prioritaskan Keselamatan
Dengan mengacu pada praktik tersebut, Pemprov Sultra optimistis dapat mempercepat penurunan stunting melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap kondisi lokal.
Melalui penguatan layanan kesehatan, edukasi gizi, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap kualitas generasi mendatang di Sulawesi Tenggara dapat meningkat secara signifikan dan berkelanjutan.(*)



