BUTON SELATAN , BAUBAUPOST.COM – SMA Negeri 1 Batauga, Kabupaten Buton Selatan, mencatatkan capaian membanggakan pada tahun ajaran 2025/2026. Sebanyak 146 siswa yang terdaftar sebagai peserta ujian dinyatakan lulus 100 persen. “146 Siswa SMAN 1 Batauga Lulus 100 Persen, 10 Orang Diterima di Universitas Haluoleo Tanpa Tes, Berikut Nama-namanya,”

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Batauga, La Ode Madi, S.Pd, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 421.6/005/2026 tentang kelulusan peserta didik pada satuan pendidikan.
“Dari total 146 siswa yang mengikuti ujian, seluruhnya dinyatakan lulus. Ini merupakan hasil kerja keras siswa, guru, serta dukungan orang tua,” ujar La Ode Madi di acara ke lulusan Sekolah SMA 1 Batauga, Rabu (6/5/2026).
Selain kelulusan penuh, sekolah juga berhasil mengantarkan 10 siswanya lolos ke perguruan tinggi negeri tanpa tes melalui jalur seleksi nasional. Seluruhnya diterima di Universitas Halu Oleo dengan berbagai program studi.

Adapun siswa yang diterima tersebut antara lain:
Muhammad Ikramu Barat (Ilmu Hukum)
Rosida (Agroteknologi)
Asrum Prasetya (Statistika)
(Nama tidak disebutkan) – Ilmu Keperawatan
(Nama tidak disebutkan) – Akuntansi
Alvin (Pendidikan Biologi)
Mutia Sharifah Rasifu (Ilmu Pemerintahan)
Zulaiha Nasarudin (Pendidikan Kimia)
Farnita (Ekonomi Manajemen)
Wa Ode Rizki Rahmania (Ekonomi)
“Alhamdulillah, tahun ini ada 10 siswa kami yang diterima di UHO tanpa tes. Ini menjadi kebanggaan bagi sekolah dan motivasi bagi adik-adik kelasnya,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, pihak sekolah juga mengumumkan siswa berprestasi berdasarkan akumulasi nilai rapor semester 1 hingga semester 6 serta hasil ujian sumatif akhir. Dari penilaian tersebut, ditetapkan enam siswa terbaik.

Penilaian dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok mata pelajaran Ilmu Alam (kelas XII A1, A2, dan A3) serta kelompok mata pelajaran lainnya (kelompok B dan C). Para siswa berprestasi tersebut juga diundang untuk naik ke panggung bersama orang tua sebagai bentuk apresiasi dari sekolah.
baca juga:
- Bupati Buton Selatan H Muh Adios Tekankan Disiplin dan Integritas saat Lantik 15 Pj Kepala Desa dan…
- BPS Buton Selatan Perkuat Kualitas Layanan Lewat Forum Diskusi Publik, Komitmen Hadirkan Pelayanan Prima bagi Masyarakat
Pihak sekolah berharap capaian ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang, sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik.(*)
baca berita lainnya:
BUTON SELATAN, BAUBAUPOST.COM – SMP Negeri 1 Batauga, Kabupaten Buton Selatan, menargetkan pembukaan hingga enam rombongan belajar (rombel) dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026. Sekolah tersebut optimistis mampu menampung lebih dari 100 siswa baru seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan menengah pertama di wilayah Batauga dan sekitarnya. “SPMB 2026 SMPN 1 Batauga Dibuka Gratis, Siapkan Enam Rombel, Optimistis Jadi Pilihan Utama Lulusan SD,”

Pelaksanaan penerimaan siswa baru dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026. Seluruh tahapan penerimaan akan dilakukan berdasarkan petunjuk teknis (juknis) pemerintah dengan menitikberatkan pada prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan tanpa pungutan biaya.
Kepala SMPN 1 Batauga Wa Ode Saniarti mengatakan pihak sekolah telah membentuk panitia resmi melalui surat keputusan sekolah guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
“Penerimaan ini gratis, tidak ada biaya apa pun. Selama calon siswa memenuhi persyaratan, kami terbuka menerima sesuai ketentuan yang ada,” ujar Wa Ode Saniarti saat ditemui di SMPN 1 Batauga, Selasa (6/5/2026).
Menurut dia, target pembukaan lima hingga enam rombel disesuaikan dengan kapasitas sekolah dan ketentuan dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Setiap rombel dirancang menampung maksimal 32 siswa.
Dengan kapasitas tersebut, sekolah berpotensi menerima hingga 192 peserta didik baru apabila seluruh rombel terpenuhi. Namun, jumlah rombel tetap bergantung pada jumlah pendaftar yang masuk selama masa penerimaan berlangsung.
“Kalau terpenuhi lima rombel, berarti bisa menampung lebih dari 100 siswa. Kami sudah menjalin komunikasi dengan SD-SD terdekat untuk mendukung capaian tersebut,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, SMPN 1 Batauga menerapkan beberapa jalur penerimaan, yakni jalur zonasi berdasarkan domisili, jalur prestasi akademik maupun non-akademik, serta jalur perpindahan tugas orang tua yang dibuktikan dengan dokumen resmi.
Sekolah juga mulai menyiapkan sejumlah perangkat administrasi pendukung, seperti pemasangan spanduk informasi penerimaan siswa baru, kesiapan operator Dapodik, hingga sistem verifikasi dokumen calon peserta didik.
Setiap berkas pendaftaran yang diterima akan langsung diverifikasi dan diinput ke dalam sistem Dapodik. Verifikasi meliputi pemeriksaan usia calon siswa, dokumen kelulusan, hingga pengukuran tinggi dan berat badan sesuai ketentuan juknis.
“Setelah berkas diterima, langsung kami input ke Dapodik. Kami juga melakukan verifikasi seperti pengukuran tinggi dan berat badan, usia calon siswa sesuai juknis, serta kelengkapan dokumen seperti ijazah atau surat keterangan lulus,” jelasnya.
Secara nasional, sistem penerimaan peserta didik di Indonesia terus mengalami perubahan sejak diberlakukannya kebijakan zonasi pada 2017 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan tersebut diterapkan untuk memperluas akses pendidikan yang lebih merata dan mengurangi ketimpangan kualitas antarwilayah.
Pada 2024, pemerintah mulai memperkenalkan istilah Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) sebagai penyempurnaan dari sistem sebelumnya yang dikenal sebagai PPDB. Perubahan tersebut bertujuan memperkuat transparansi, digitalisasi data pendidikan, dan pemerataan akses layanan pendidikan dasar serta menengah.
Secara internasional, sejumlah negara juga menerapkan sistem penerimaan berbasis wilayah dan kapasitas sekolah. Jepang dan Korea Selatan, misalnya, menggunakan pendekatan zonasi pendidikan untuk memastikan distribusi siswa lebih seimbang dan mengurangi penumpukan peserta didik di sekolah tertentu.
Sementara itu, Finlandia yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik dunia, menempatkan prinsip pemerataan akses pendidikan sebagai fondasi utama pelayanan publik di sektor pendidikan. Sistem tersebut menekankan kualitas sekolah yang relatif setara di setiap wilayah sehingga masyarakat tidak terpusat pada sekolah tertentu saja.
baca juga:
- Bupati Buton Selatan H Muh Adios Tekankan Disiplin dan Integritas saat Lantik 15 Pj Kepala Desa dan…
- BPMD Busel Rampungkan Administrasi Pengisian Jabatan 15 Kades, Rencana Dilantik 6 Mei 2026
Wa Ode Saniarti berharap jumlah pendaftar tahun ini dapat melampaui target yang telah ditetapkan. Menurut dia, meningkatnya jumlah siswa baru akan menjadi indikator tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di SMPN 1 Batauga.
“Kami berharap minat masyarakat terus meningkat dan SMPN 1 Batauga tetap menjadi pilihan utama bagi lulusan SD di wilayah ini,” tutupnya.
Upaya memperkuat kualitas layanan pendidikan tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan angka partisipasi sekolah tingkat menengah pertama, khususnya di daerah kepulauan dan wilayah terluar Indonesia.(*)



