Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing NaikGubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik

SULTRA, BAUBAUPOST.COM – Sekitar 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara ambil bagian dalam pameran yang menjadi rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 provinsi tersebut. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan MTQ Kendari ini diresmikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, pada Jumat (24/4/2026). “Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik,”

Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik
Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik

Peresmian stand UMKM tersebut menjadi momentum strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.

Usai peresmian, Gubernur bersama rombongan langsung meninjau area pameran, berinteraksi dengan pelaku usaha, serta mengamati berbagai produk unggulan yang dipamerkan, mulai dari kerajinan tangan hingga olahan pangan khas Sulawesi Tenggara.

Dalam kesempatan itu, Gubernur menegaskan pentingnya peran UMKM dalam menopang ekonomi daerah. “UMKM adalah sektor yang terbukti tangguh menghadapi berbagai krisis, termasuk saat pandemi global beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran stand UMKM dalam perayaan HUT Sultra bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap peningkatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha lokal. “Kami ingin memastikan UMKM Sultra mampu berkembang dan menembus pasar yang lebih luas,” katanya.

Prosesi peresmian sendiri ditandai dengan pengguntingan pita bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perwakilan Bank Indonesia, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Utama Perumda, Pelaksana Harian Sekda Sultra, serta para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Gubernur juga mengajak masyarakat untuk turut meramaikan stand UMKM sebagai bentuk dukungan terhadap produk lokal. “Mari kita cintai dan gunakan produk daerah sendiri sebagai bagian dari penguatan ekonomi kita,” ujarnya.

Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik
Gubernur Sultra ASR Resmikan 100 Stand UMKM pada HUT ke-62 di Kawasan MTQ Kendari, Targetkan Daya Saing Naik

Secara historis, sektor UMKM di Indonesia telah lama menjadi penopang utama perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional.

Di tingkat global, penguatan UMKM juga menjadi perhatian utama banyak negara, terutama setelah krisis ekonomi dunia dan pandemi COVID-19 yang melanda sejak 2020. Organisasi internasional seperti OECD dan Bank Dunia mendorong negara-negara untuk memperkuat UMKM sebagai fondasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

baca juga:

  1. Sinergi Daerah dan KKP, HMNI Sultra Targetkan Seluruh Wilayah Terlibat Program KNMP Termasuk
  2. Momentum HUT Sultra, Sekda Buton Selatan La Ode Harwanto Komitmen Perkuat Visi Pembangunan Berkelanjutan

Sejalan dengan tren tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus berupaya menghadirkan berbagai program pemberdayaan UMKM, termasuk melalui pameran, pelatihan, hingga akses pembiayaan.

Gubernur menilai, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antar pelaku usaha. “Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang bertemunya inovasi, kreativitas, dan peluang pasar,” katanya.

Peringatan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara sendiri menjadi refleksi perjalanan panjang pembangunan daerah sejak terbentuk pada 1964, sekaligus momentum memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal.

Melalui pameran UMKM ini, pemerintah berharap geliat ekonomi daerah semakin meningkat, serta mampu mendorong pelaku usaha lokal naik kelas dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.(*)

baca berita lainnya:

Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62

SULTRA, DURASITIMES.COM – Pemerintah Kabupaten Buton menampilkan fragmen sejarah Kesultanan Buton dalam karnaval budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di kawasan Eks MTQ Kendari, Jumat (25/4/2026) sore. Penampilan tersebut menonjolkan kisah kepemimpinan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. “Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62,”

Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62
Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62

Partisipasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buton dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya kepada masyarakat luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Karnaval budaya menjadi ruang ekspresi kolektif yang mempertemukan sejarah, seni, dan identitas daerah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buton La Ode Syamsudin yang hadir mewakili Bupati Buton Alvin Akawijaya menegaskan pentingnya momentum tersebut. “Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana edukasi sejarah bagi generasi muda,” ujarnya di sela kegiatan.

Dalam pawai itu, Buton mengusung tema “Barisan Pawai Budaya Harmoni Sultra” dengan menghadirkan dramatik perjalanan Sultan Buton ke wilayah Kadie-kadie. Fragmen ini menggambarkan hubungan antara pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah adat dalam struktur Kesultanan Buton.

Secara historis, Oputa Yi Koo memerintah pada 1752–1776 dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih melawan dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perlawanan selama kurang lebih 24 tahun menjadikannya simbol keteguhan dalam mempertahankan kedaulatan lokal di tengah ekspansi kolonial Belanda di Nusantara.

Fenomena perlawanan lokal seperti yang dilakukan Oputa Yi Koo sejajar dengan berbagai gerakan anti-kolonial di dunia pada abad ke-18, seperti perjuangan kemerdekaan di Amerika Serikat (1776) yang menandai gelombang perlawanan terhadap imperialisme global. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Kesultanan Buton memiliki konteks historis yang lebih luas.

Barisan pawai diawali oleh dua Kapitalao, yakni Sukanaeo dan Matanaeo, yang tampil bersama dua Bonto dengan membawakan Tarian Mangaru. Tarian ini merepresentasikan keberanian, solidaritas, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman.

“Nilai-nilai keberanian dan persatuan yang ditampilkan dalam tarian ini masih relevan hingga saat ini,” kata salah satu peserta pawai, menegaskan makna simbolik yang terkandung dalam pertunjukan tersebut.

Pada barisan utama, sosok Sultan Buton ditampilkan dengan busana kebesaran, diikuti perangkat adat seperti Sapati, Kenepulu, Bonto Ogena, Lakina, dan Bonto. Kehadiran mereka memperkuat rekonstruksi visual sistem pemerintahan Kesultanan Buton yang terorganisasi dan berlapis.

Selain itu, barisan perempuan dengan pakaian adat khas Buton turut memperkaya estetika pawai. Keindahan busana yang ditampilkan mencerminkan identitas budaya sekaligus peran perempuan dalam menjaga tradisi.

La Ode Syamsudin menambahkan, “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Buton bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi pembangunan masa depan.” Pernyataan ini menegaskan hubungan antara pelestarian budaya dan pembangunan daerah.

baca juga:

  1. Pemda Buton Apresiasi Edukasi OJK, Fokus Cegah SCAM dan Investasi
  2. Pemda Buton Dapat Program Bedah Rumah, 38 Unit di Kombeli Diverifikasi Oleh PT SMF

Partisipasi Buton dalam karnaval ini juga sejalan dengan semangat pembangunan daerah bertajuk “Buton Bersinar” yang diusung oleh Bupati Alvin Akawijaya Putra dan Wakil Bupati Syarifudin Saafa. Pembangunan tersebut diarahkan pada keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian nilai budaya.

Karnaval budaya HUT Sultra sendiri menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperingati berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman budaya daerah. Tahun ini, perayaan menekankan harmoni sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Dengan menampilkan sejarah lokal dalam panggung publik, Kabupaten Buton berupaya menegaskan identitasnya sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan nilai historis. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat rasa kebanggaan masyarakat sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap akar budaya mereka.(*)

Visited 11 times, 11 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *