KONAWE , BAUBAUPOST.COM – Wakil Bupati Buton Tengah, Muh. Adam Basan, S.Sos, menghadiri Pawai Ta’aruf dan Kendaraan Hias Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara di Kabupaten Konawe, Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian pembukaan MTQ tersebut dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Buton Tengah untuk memperkuat syiar Al-Qur’an sekaligus memperkenalkan berbagai potensi unggulan daerah kepada masyarakat Sulawesi Tenggara. “MTQ XXXI Sultra Jadi Ajang Buton Tengah Kenalkan Wisata dan Pendidikan,”

Kehadiran Adam Basan bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Buton Tengah Umi Noranah Azhari, Staf Ahli TP-PKK Kartini Adam Basan, serta jajaran pemerintah daerah menunjukkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan MTQ yang diikuti seluruh kabupaten dan kota se-Sulawesi Tenggara.
Pada perhelatan MTQ XXXI Sultra Tahun 2026, Kabupaten Buton Tengah mengirimkan 20 peserta yang akan berlaga pada tujuh cabang lomba. Para peserta didampingi 55 official, pelatih, dan pendamping yang bertugas memastikan kesiapan kafilah selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Kafilah Kabupaten Buton Tengah dipimpin oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Abdullah dengan dukungan penuh dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buton Tengah. Kehadiran para peserta diharapkan mampu memberikan hasil terbaik sekaligus membawa nama baik daerah di tingkat provinsi.
Dalam keterangannya, Wakil Bupati Muh. Adam Basan menegaskan bahwa MTQ tidak hanya menjadi arena kompetisi membaca dan memahami Al-Qur’an, tetapi juga wadah pembinaan generasi muda Islam.
“Keikutsertaan dalam MTQ bukan semata-mata untuk meraih prestasi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat syiar Al-Qur’an dan membentuk generasi yang berkarakter Qur’ani,” kata Adam Basan.
Pawai Ta’aruf yang berlangsung meriah mengambil titik start di Tugu Tusawuta, Kecamatan Wawotobi, dan berakhir di Pelataran ICP Unaaha. Ribuan masyarakat memadati jalur pawai untuk menyaksikan penampilan kafilah dari berbagai daerah yang menampilkan identitas dan kekhasan masing-masing.
Pada kesempatan tersebut, Kabupaten Buton Tengah mengusung identitas sebagai “Kota Santri dan Kota Pendidikan” di Negeri Seribu Gua. Melalui kendaraan hias dan atraksi budaya, daerah itu menampilkan berbagai potensi unggulan yang menjadi kekuatan pembangunan daerah.
Sektor pariwisata, perikanan, pendidikan, dan kebudayaan menjadi fokus utama yang diperkenalkan kepada masyarakat. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi promosi daerah guna menarik perhatian publik terhadap berbagai peluang investasi dan pengembangan ekonomi lokal.
Adam Basan menilai momentum MTQ merupakan sarana efektif untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat citra positif daerah di tingkat regional.
“Kami berharap seluruh peserta dapat menampilkan kemampuan terbaik, menjunjung tinggi sportivitas, dan mengharumkan nama Kabupaten Buton Tengah,” ujarnya.
Penampilan kafilah Buton Tengah juga merefleksikan visi pembangunan daerah Buton Tengah SERIUS yang merupakan akronim dari Sejahtera, Religius, Berbudaya, dan Berdaya Saing. Visi tersebut menjadi arah pembangunan yang dijalankan di bawah kepemimpinan Bupati Dr. H. Azhari dan Wakil Bupati Muh. Adam Basan.
Secara historis, penyelenggaraan MTQ memiliki peran penting dalam perkembangan syiar Islam di Indonesia. MTQ Nasional pertama kali digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tahun 1968 dan sejak itu menjadi agenda rutin yang bertujuan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an melalui berbagai cabang perlombaan.
Dalam perkembangannya, MTQ tidak hanya menjadi ajang kompetisi tilawah, tetapi juga mencakup cabang tafsir, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an, kaligrafi, karya tulis ilmiah Al-Qur’an, hingga hafalan Al-Qur’an. Kegiatan ini menjadi salah satu instrumen pembinaan umat Islam yang mendapat dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat.
Pada level internasional, tradisi musabaqah Al-Qur’an juga berkembang di berbagai negara Muslim. Arab Saudi, Mesir, Malaysia, Iran, dan Uni Emirat Arab secara rutin menyelenggarakan kompetisi Al-Qur’an tingkat dunia yang diikuti peserta dari puluhan negara. Indonesia sendiri kerap mencatat prestasi membanggakan melalui qari dan qariah yang meraih penghargaan dalam berbagai ajang internasional tersebut.
“MTQ adalah momentum untuk memperkuat persaudaraan, meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur’an, dan menumbuhkan semangat generasi muda dalam mengamalkan nilai-nilai Islam,” kata Adam Basan.
baca juga:
- Bupati Azhari Teken PKS Kerja Sama dengan BPSDM Kemenhub, Buteng Siapkan SDM Transportasi
- Paripurna DPRD Buton Tengah Terima Penjelasan Bupati Azhari soal APBD 2025
Melalui keikutsertaan pada MTQ XXXI Sultra di Konawe, Pemerintah Kabupaten Buton Tengah berharap syiar Islam semakin berkembang sekaligus memperluas pengenalan potensi daerah kepada masyarakat Sulawesi Tenggara dan Indonesia secara lebih luas.(*)
baca berita lainnya:
BUTON TENGAH, BAUBAUPOST.COM – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Buton Tengah menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat melalui program Jumat Berkah yang digelar di Pondok Pesantren Al-Munawwarah, Desa One Waara, Kecamatan Lakudo, Jumat (19/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal sebelum program serupa diperluas ke sejumlah pondok pesantren lainnya di daerah itu. “TP-PKK Buton Tengah Perluas Program Jumat Berkah ke Lima Pesantren,”

Ketua TP-PKK Buton Tengah, Umi Noranah Azhari, mengatakan program Jumat Berkah dirancang sebagai wadah penguatan kepedulian sosial sekaligus sarana edukasi kesehatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.
“Kegiatan ini terlaksana berkat kebersamaan keluarga besar TP-PKK, BKMT, dan Dekranasda yang membawa semangat berbagi,” kata Umi Noranah Azhari dalam sambutannya.
Kegiatan yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Munawwarah tersebut dihadiri oleh Staf Ahli PKK Kartini Adam Basan, pengurus Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, serta pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Buton Tengah.
Dalam pelaksanaannya, TP-PKK menggandeng Puskesmas One Waara untuk memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada para santri dan masyarakat yang hadir. Pemeriksaan tersebut meliputi layanan kesehatan dasar sebagai bentuk deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan kesehatan.
Selain layanan kesehatan, para santri juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat melalui kegiatan demonstrasi memasak sarapan praktis bergizi. Program ini bertujuan menanamkan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat yang mudah disiapkan dengan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Menurut Umi Noranah, edukasi gizi menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Karena itu, TP-PKK berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa kesehatan dan gizi merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi yang berkualitas,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, program Jumat Berkah tidak akan berhenti di Pondok Pesantren Al-Munawwarah. TP-PKK Buton Tengah telah menyusun agenda lanjutan yang akan menyasar empat pondok pesantren lainnya di wilayah Kabupaten Buton Tengah.
“Kami juga merencanakan khitanan massal dan pemeriksaan kesehatan lanjutan di Puskesmas Wadiabero sebagai bentuk kepedulian berkelanjutan kepada masyarakat,” katanya.
Secara historis, gerakan pemberdayaan keluarga melalui PKK telah menjadi salah satu instrumen pembangunan sosial di Indonesia sejak dibentuk pada awal dekade 1970-an. Berbagai program PKK selama lebih dari lima dekade berfokus pada peningkatan kesejahteraan keluarga, kesehatan ibu dan anak, pendidikan, hingga penguatan ekonomi rumah tangga.
Di tingkat nasional, perhatian terhadap perbaikan gizi masyarakat terus menjadi agenda strategis pemerintah. Berdasarkan berbagai program kesehatan nasional, edukasi konsumsi makanan bergizi dan pencegahan masalah gizi menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Sementara itu, secara internasional, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) selama bertahun-tahun mendorong negara-negara untuk memperkuat edukasi gizi sejak usia dini. Pendekatan berbasis komunitas seperti yang dilakukan melalui sekolah, pesantren, dan organisasi masyarakat dinilai efektif dalam membangun perilaku hidup sehat secara berkelanjutan.
Staf Ahli PKK, Kartini Adam Basan, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara organisasi perempuan, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah menjadi kekuatan utama dalam memperluas manfaat program sosial kemasyarakatan.
“Kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor menjadi modal penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing,” ujarnya.
baca juga:
- Bupati Azhari Teken PKS Kerja Sama dengan BPSDM Kemenhub, Buteng Siapkan SDM Transportasi
- Bupati Azhari Minta Program Sunatan Massal dan CKG Digelar Secara Berkala di Buton Tengah
Melalui program Jumat Berkah, TP-PKK Buton Tengah berharap budaya gotong royong dan semangat berbagi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Dukungan berbagai elemen daerah dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program-program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan warga. (*)



