Pemanasan Global Berpotensi Sebabkan Gagal Panen, Ruksamin Paparkan Strategi Konut Selamatkan Sultra Bupati Konut, Ruksamin saat memaparkan strategi cegah efek potensi terjadinya pemanasan global di hadapan calon wisudawan mahasiswa UMI Makasar, Senin, (20/08/2023) Foto: Firman/BPPemanasan Global Berpotensi Sebabkan Gagal Panen, Ruksamin Paparkan Strategi Konut Selamatkan Sultra Bupati Konut, Ruksamin saat memaparkan strategi cegah efek potensi terjadinya pemanasan global di hadapan calon wisudawan mahasiswa UMI Makasar, Senin, (20/08/2023) Foto: Firman/BP

SULTRA, BP– Ancaman pemanasan global yang berpotensi memicu gagal panen, krisis pangan, hingga kelangkaan air bersih mendorong Pemerintah Kabupaten Konawe Utara (Konut) menyiapkan langkah antisipatif berbasis inovasi digital di sektor pertanian. “Risiko Gagal Panen Akibat Pemanasan Global Ruksamin Siapkan Konut Jadi Penyangga Pangan Sultra di Tengah Krisis Iklim,”

Pemanasan Global Berpotensi Sebabkan Gagal Panen, Ruksamin Paparkan Strategi Konut Selamatkan Sultra Bupati Konut, Ruksamin saat memaparkan strategi cegah efek potensi terjadinya pemanasan global di hadapan calon wisudawan mahasiswa UMI Makasar, Senin, (20/08/2023) Foto: Firman/BP
Pemanasan Global Berpotensi Sebabkan Gagal Panen, Ruksamin Paparkan Strategi Konut Selamatkan Sultra
Bupati Konut, Ruksamin saat memaparkan strategi cegah efek potensi terjadinya pemanasan global di hadapan calon wisudawan mahasiswa UMI Makasar, Senin, (20/08/2023) Foto: Firman/BP

Bupati Konawe Utara, Ruksamin, menegaskan kesiapan daerahnya dalam menghadapi skenario terburuk perubahan iklim melalui program strategis yang telah dikembangkan beberapa tahun terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Ruksamin saat memberikan materi di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia di Makassar, dalam agenda akademik yang dirangkaikan dengan kegiatan ramah tamah di Hotel Myko dan Convention Centre, Minggu (19/08/2023).

Ia menekankan bahwa upaya mitigasi telah dirancang melalui Program Pengembangan Kebun Pekarangan (P2KP) yang terintegrasi dengan aplikasi Pak Tani Konasara berbasis data digital.

“Kami tidak hanya menyiapkan Konawe Utara, tetapi juga siap membantu wilayah lain di Sulawesi Tenggara jika kondisi darurat benar-benar terjadi,” ujar Ruksamin.

Menurutnya, sistem berbasis data memungkinkan petani mengoptimalkan penggunaan sumber daya, meningkatkan kualitas produksi, serta menjaga stabilitas pangan di tengah ancaman perubahan iklim.

Dalam konteks global, isu pemanasan global kembali menguat sejak pernyataan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, pada Juli 2023 yang menyebut dunia telah memasuki era “global boiling” atau pendidihan global.

Fenomena tersebut bukan tanpa dasar historis. Data laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri, memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia, dampak perubahan iklim juga telah tercatat dalam beberapa dekade terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat tren peningkatan suhu dan perubahan pola hujan yang berkontribusi terhadap kejadian gagal panen di sejumlah wilayah pertanian.

Ruksamin menilai kondisi tersebut harus diantisipasi sejak dini melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat.

“Dengan aplikasi yang kami kembangkan, petani bisa mengambil keputusan berbasis data, sehingga risiko gagal panen dapat ditekan,” katanya.

Ia menambahkan, strategi ini juga berpotensi menjaga stabilitas harga pangan dan menekan inflasi daerah yang kerap dipicu oleh terganggunya produksi pertanian.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara juga mendorong kemandirian pangan rumah tangga melalui pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber produksi alternatif.

“Kami mengajak masyarakat untuk tetap berikhtiar dan menjaga lingkungan agar dampak pemanasan global bisa diminimalkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ruksamin juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk akibat krisis iklim.

“Lebih baik kita siap meski itu tidak terjadi, daripada tidak siap ketika kondisi darurat benar-benar datang,” pungkasnya.

Langkah yang dilakukan Pemkab Konut tersebut menjadi bagian dari upaya lokal dalam menjawab tantangan global, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah ketidakpastian iklim yang semakin meningkat.(*)

Visited 13 times, 1 visit(s) today