SULTRA, BAUBAUPOST.COM – Pemerintah Kabupaten Buton menampilkan fragmen sejarah Kesultanan Buton dalam karnaval budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di kawasan Eks MTQ Kendari, Jumat (25/4/2026) sore. Penampilan tersebut menonjolkan kisah kepemimpinan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. “Kontingen Buton Tampilkan Sejarah Sultan Himayatuddin di Karnaval HUT Sultra ke-62, Dapat Perhatioan Warga Sultra,”

Partisipasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buton dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya kepada masyarakat luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Karnaval budaya menjadi ruang ekspresi kolektif yang mempertemukan sejarah, seni, dan identitas daerah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Buton La Ode Syamsudin yang hadir mewakili Bupati Buton Alvin Akawijaya menegaskan pentingnya momentum tersebut. “Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana edukasi sejarah bagi generasi muda,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam pawai itu, Buton mengusung tema “Barisan Pawai Budaya Harmoni Sultra” dengan menghadirkan dramatik perjalanan Sultan Buton ke wilayah Kadie-kadie. Fragmen ini menggambarkan hubungan antara pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah adat dalam struktur Kesultanan Buton.
Secara historis, Oputa Yi Koo memerintah pada 1752–1776 dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih melawan dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perlawanan selama kurang lebih 24 tahun menjadikannya simbol keteguhan dalam mempertahankan kedaulatan lokal di tengah ekspansi kolonial Belanda di Nusantara.
Fenomena perlawanan lokal seperti yang dilakukan Oputa Yi Koo sejajar dengan berbagai gerakan anti-kolonial di dunia pada abad ke-18, seperti perjuangan kemerdekaan di Amerika Serikat (1776) yang menandai gelombang perlawanan terhadap imperialisme global. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Kesultanan Buton memiliki konteks historis yang lebih luas.
Barisan pawai diawali oleh dua Kapitalao, yakni Sukanaeo dan Matanaeo, yang tampil bersama dua Bonto dengan membawakan Tarian Mangaru. Tarian ini merepresentasikan keberanian, solidaritas, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman.
“Nilai-nilai keberanian dan persatuan yang ditampilkan dalam tarian ini masih relevan hingga saat ini,” kata salah satu peserta pawai, menegaskan makna simbolik yang terkandung dalam pertunjukan tersebut.
Pada barisan utama, sosok Sultan Buton ditampilkan dengan busana kebesaran, diikuti perangkat adat seperti Sapati, Kenepulu, Bonto Ogena, Lakina, dan Bonto. Kehadiran mereka memperkuat rekonstruksi visual sistem pemerintahan Kesultanan Buton yang terorganisasi dan berlapis.
Selain itu, barisan perempuan dengan pakaian adat khas Buton turut memperkaya estetika pawai. Keindahan busana yang ditampilkan mencerminkan identitas budaya sekaligus peran perempuan dalam menjaga tradisi.
La Ode Syamsudin menambahkan, “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Buton bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi pembangunan masa depan.” Pernyataan ini menegaskan hubungan antara pelestarian budaya dan pembangunan daerah.
baca juga:
- Pemda Buton Dapat Program Bedah Rumah, 38 Unit di Kombeli Diverifikasi Oleh PT SMF
- Pemda Buton Apresiasi Edukasi OJK, Fokus Cegah SCAM dan Investasi
Partisipasi Buton dalam karnaval ini juga sejalan dengan semangat pembangunan daerah bertajuk “Buton Bersinar” yang diusung oleh Bupati Alvin Akawijaya Putra dan Wakil Bupati Syarifudin Saafa. Pembangunan tersebut diarahkan pada keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian nilai budaya.
Karnaval budaya HUT Sultra sendiri menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperingati berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman budaya daerah. Tahun ini, perayaan menekankan harmoni sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Dengan menampilkan sejarah lokal dalam panggung publik, Kabupaten Buton berupaya menegaskan identitasnya sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan nilai historis. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat rasa kebanggaan masyarakat sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap akar budaya mereka.(*)
Galeri Foto
Baca Berita Lainnya:
BUTON, BAUBAUPOST.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Sulawesi Tenggara menggelar edukasi keuangan bagi masyarakat Kabupaten Buton, Rabu (8/4/2026), sebagai upaya meningkatkan literasi finansial sekaligus mencegah maraknya praktik investasi ilegal dan penipuan berkedok keuangan. “OJK Edukasi Keuangan di Buton, Tekankan Waspada Investasi Ilegal,”

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Buton ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat kelurahan, pelajar, hingga perwakilan lembaga perbankan yang beroperasi di wilayah Pasarwajo.
Dalam kegiatan tersebut, Deputi Kepala OJK Sulawesi Tenggara, Indra Natsir Dahlan menegaskan bahwa edukasi keuangan menjadi program rutin yang dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota di wilayah Sulawesi Tenggara.
“Selama ini masih terdapat kesenjangan antara tingkat penggunaan produk keuangan dengan pemahaman masyarakat. Dari hasil SNLIK, gap-nya sekitar 14,05 persen,” ujar Indra dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak masyarakat telah menggunakan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami risiko dan mekanisme produk yang digunakan.
Menurut Indra, situasi tersebut membuka peluang bagi pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menawarkan investasi ilegal atau skema penipuan yang merugikan masyarakat.
“Seluruh aktivitas keuangan yang tidak berizin dari regulator seperti OJK, Bank Indonesia, maupun Bappebti harus diwaspadai. Masyarakat perlu memahami prinsip 2L, yakni Legal dan Logis,” katanya.
Ia menambahkan, legal berarti lembaga atau produk tersebut memiliki izin resmi dan diawasi, sementara logis berkaitan dengan kewajaran imbal hasil yang ditawarkan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Buton menyambut positif kegiatan tersebut dan menilai edukasi keuangan sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sekretaris Daerah Kabupaten Buton, La Ode Syamsudin, yang mewakili Bupati Buton, menyampaikan apresiasi atas kehadiran OJK yang secara langsung memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Buton, kami menyampaikan penghargaan kepada OJK yang telah memberikan pencerahan literasi keuangan kepada masyarakat,” ujar Syamsudin.

Ia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan tersebut secara serius agar dapat meningkatkan pemahaman tentang sektor jasa keuangan, termasuk perbankan dan pencegahan penipuan.
“Literasi tidak hanya soal digital, tetapi juga literasi keuangan, moral, dan akhlak harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah perbankan daerah seperti Bank Sultra dan Bank Bahteramas, yang turut mendukung peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Secara historis, upaya peningkatan literasi keuangan di Indonesia telah menjadi agenda nasional sejak pembentukan OJK pada 2011, yang kemudian diikuti peluncuran Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) pada 2013.
Berdasarkan data nasional, tingkat literasi keuangan Indonesia terus mengalami peningkatan dari sekitar 21,8 persen pada 2013 menjadi lebih dari 49 persen pada survei terbaru, meskipun masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara maju.
Secara global, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat dan stabilitas sistem keuangan.
Fenomena investasi ilegal sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara, terutama dengan berkembangnya platform digital yang memudahkan penyebaran skema penipuan lintas negara.
baca juga:
- Data Terbaru Program MBG di Buton: Jangkau 30.720 Penerima dan Serap 484 Tenaga Kerja Lokal
- Open House di Rujab, Bupati Buton Alvin Akawijaya Jadi Wadah Silaturahmi Masyarakat
Dengan adanya edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin cermat dalam memilih produk keuangan serta mampu menghindari berbagai tawaran investasi yang tidak masuk akal.
Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta, khususnya kalangan pelajar yang menjadi salah satu sasaran utama peningkatan literasi keuangan sejak dini.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, OJK berharap tingkat literasi keuangan masyarakat dapat meningkat secara merata, sehingga mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan daerah.(*)














